4 Jenis Indikator Teknikal Yang Penting (2)

  By: Martin   View: 5755    Indikator  

Seperti telah diulas pada bagian sebelumnya, indikator arah trend yang paling populer adalah simple moving average (sma), namun demikian berapapun kombinasi periode yang Anda terapkan, selalu akan terjadi kesalahan sinyal akibat keterlambatan indikator ini dalam merespon perubahan harga. Makin kecil periode yang Anda gunakan maka akan semakin rawan kesalahan. Sebagai contoh berikut penggunaan sma periode 10 day dan 30 day pada EUR/USD daily yang sama pada contoh sebelumnya:

4 Jenis Indikator Teknikal Yang Penting
Jika Anda amati, respon kedua garis kurva sma tersebut jauh lebih cepat dari sma-50 day dan 200 day pada contoh sebelumnya, tetapi tingkat akurasinya lebih rendah terutama bila pergerakan harga pasar sedang ranging (sideways). Sebaliknya kombinasi sma 50 day dan 200 day lebih akurat dalam menunjukkan arah trend, tetapi lebih lambat dalam merespon perubahan harga. Ketika garis kurva keduanya berpotongan, arah trend pergerakan harga sudah terlebih dahulu berubah. Dalam prakteknya tidak ada periode kombinasi yang paling akurat untuk indikator sma, dan Anda mesti mencoba-coba mana kombinasi yang paling tepat pada time frame tertentu. Namun demikian moving average adalah murni indikator arah trend yang paling banyak digunakan trader.

2. Indikator yang meng-konfirmasi arah trend (trend confirmation)

Setelah kita mempunyai indikator penentu arah trend, maka tentunya kita akan bertanya sampai seberapa reliable-kah arah trend yang kita peroleh? Seperti telah disebutkan sebelumnya indikator arah trend yang kita punya selalu rawan terjadi kesalahan sinyal, oleh karenanya sangat diperlukan sebuah indikator tambahan yang mengukur apakah arah yang ditunjukkan oleh indikator sma tersebut sudah benar atau malah salah. Meski demikian indikator ini tidak dimaksudkan sebagai konformasi untuk entry, tetapi hanya meng-konfirmasi arah trend yang ditunjukkan indikator sma.

Indikator konfirmator trend yang paling populer adalah Moving Average Convergence Divergence (MACD). Pada intinya jika indikator sma dan MACD mengisyaratkan bullish, maka persepsi trader adalah buy, dan sebaliknya jika keduanya mengisyaratkan bearish maka persepsinya adalah sell. Berikut contoh sebelumnya yang kita kombinasikan dengan indikator MACD sebagai konfirmator trend (biru: kurva MACD, merah: kurva sinyal):

4 Jenis Indikator Teknikal Yang Penting

Arah trend bisa dikonfirmasikan dengan pergerakan garis kurva MACD itu sendiri, dan juga garis-garis histogram OSMA (Oscillator’s Moving Average). Tampilan trend garis kurva MACD mencerminkan trend pergerakan harga. Ketika sedang bergerak uptrend akan terbentuk titik-titik higher highs baik pada pergerakan harga maupun pada kurva MACD, demikan juga ketika bergerak downtrend, akan terbentuk titik-titik lower lows pada keduanya. Saat kurva MACD dan kurva sinyal berpotongan maka kemungkinan akan terjadi perubahan arah trend.

Selain itu arah trend juga bisa dikonfirmasikan dengan garis histogram OSMA. Area histogram OSMA yang berada diatas garis nol menunjukkan keadaan bullish dan dibawah garis nol menunjukkan keadaan bearish. Makin tinggi garis OSMA makin kuat trend yang sedang terjadi. Cara konfirmasi ini bisa dikatakan sederhana tetapi cukup akurat.

Setelah kita tahu arah trend yang sedang terjadi, dan telah terkonfirmasi pula, maka kita sudah punya acuan untuk entry dan akan lebih percaya diri. Nah, kapan momen yang paling tepat untuk entry, dan bagaimana menentukan kapan harus exit? Keduanya perlu indikator tambahan yang akan kita ulas pada bagian selanjutnya.

3. Indikator momentum untuk entry (indikator overbought dan oversold)
Setelah kita mengetahui arah trend dan mengkonfirmasikannya, langkah berikutnya adalah mencari peluang yang tepat untuk entry. Jika kita langsung entry begitu saja maka kita tidak tahu kondisi kekuatan trend saat itu, apakah masih kuat atau telah mendekati level jenuhnya. Level jenuh artinya rawan terjadi koreksi atau retracement, dan korekasi yang berlanjut bisa menyebabkan arah pergerakan harga berbalik arah (reversal). 

Banyak trader yang entry dengan menunggu harga pull back atau kembali bergerak sesuai arah trend seusai koreksi. Momentum saat pull back adalah waktu yang tepat untuk entry. Indikator momentum digunakan untuk mengetahui tingkat kejenuhan suatu pergerakan harga, dan tingkat kejenuhan diukur dengan keadaan overbought (jenuh beli) dan oversold (jenuh jual). Indikator yang menunjukkan keadaan tersebut adalah oscillator, dan yang populer adalah Relative Strength Index (RSI) dan stochastic.

4 Jenis Indikator Teknikal Yang Penting

Sinyal trading lazimnya diperoleh dari kondisi overbought dan oversold. Aturan yang berlaku adalah kondisi overbought diperoleh bila garis RSI memotong level 70 dan oversold bila garis RSI memotong level 30. Entry sell bila terjadi kondisi overbought dan buy bila kondisi oversold. Dalam trading dengan indikator teknikal, faktor yang paling penting adalah penyesuaian (matching) antara pergerakan harga dengan pergerakan indikator pada saat yang bersamaan. Dalam hal ini saat entry bisa disesuaikan dengan pergerakan indikator moving average. Entry buy akan lebih kuat saat garis moving average periode pendek berada diatas periode yang lebih panjang, dan sebaliknya.

4. Indikator yang membantu menentukan level exit (profit taking)
Setelah entry kita harus mengetahui level yang paling optimal untuk exit, tidak hanya berdasarkan perkiraan semata. Dalam hal contoh diatas, RSI bisa digunakan juga sebagai indikator untuk exit atau take profit. Untuk posisi buy trader bisa exit ketika RSI mencapai level overbought, dan sebaliknya untuk posisi sell exit ketika RSI mencapai level oversold. Karena RSI kurang cocok digunakan untuk kondisi trending, untuk menghindari kesalahan trader bisa menggunakan indikator Bollinger Bands (BB).

4 Jenis Indikator Teknikal Yang Penting

Untuk posisi buy trader bisa exit ketika harga telah menembus upper band dan untuk posisi sell bisa exit ketika harga menembus lower band. Untuk menggunakan cara ini trader mesti memperhatikan kemungkinan terjadinya false signal. Selain itu, untuk lebih memaksimalkan profit trader bisa menerapkan teknik trailing stop.

(Selesai)


4 Jenis Indikator Teknikal Yang Penting (1)



Artikel Indikator


Artikel Forex Lainnya

Komentar: 8
  • knp kslhn jd smkn rawan klo sma nya mkn kcl?
    Tintin
    30 JUN 2014
  • @tintin: sma kecil kan artinya periode yg diambil untuk perhitungan rata2 smanya juga semakin kecil. kalalo diperhatikan, sma dengan periode yang lebih kecil bakal lebih bisa merespon pergerakan sekecil apapun.

    padahal yg lebih dibutuhkan biasanya adalah pergerakan secara keseluruhan. kalo terlalu banyak mengikuti pergerakan-pergerakan kecil, untuk entry kita bakal lebih banyak dibingungkan sama noise.
    Wawan Alfarid
    5 JUL 2014
  • Ini kan contoh untuk SMA yang periodex keci, kalau sudah pakai periode yang lebih tinggi apa masih perlu pakai MACD?
    Okta Mahendra
    9 JUL 2014
  • @okta: meskipun fungsi macd itu untuk mengkonfirmasi arah pergerakan tren yg kurang bisa dipastikan waktu menggunakan sma periode kecil, tapi nggak berarti pake sma periode besar tanpa macd bisa dibilang lebih aman.

    bagaimanapun konfirmator itu perlu untuk melengkapi kekurangan indikator tren yang bisa terlalu cepat atau terlalu lambat dalam merespon pergerakan harga. bukannya entri bakal lebih mantap kalau sudah dapat lampu hijau dari 2 indikator daripada cuma 1 indikator aja?
    Wawan Alfarid
    12 JUL 2014
  • apa MA ini selalu dipasangkan dg MACD?
    bgaimana dgn indikator tren lain selain MA?
    konfirmator arah trenx bs dg MACD jg atau ada pasanganx sndiri2?
    Teri
    13 SEP 2014
  • @ tintin:
    Kesalahan disini maksudnya adalah tingkat akurasi.
    Jika Anda menghitung nilai rata-rata maka semakin banyak sampel datanya maka akan semakin akurat, demikian juga untuk moving average.

    Semakin besar periode pengukurannya (atau semakin panjang) berarti semakin banyak sampel datanya dan akan lebih akurat, oleh sebab itu untuk periode yang semakin kecil (atau semakin pendek) maka sampel datanya akan semakin sedikit dan akurasinya juga rendah. Akurasi yang rendah akan rawan menimbulkan kesalahan, dalam hal ini kesalahan dalam menunjukkan nilai rata-rata.
    Martin S
    13 JAN 2015
  • @ Okta Mahendra:
    Periode sma kecil (pendek) atau besar (panjang) bisa dikonfirmasi dengan MACD. Pertama lihat sma-nya dulu baru MACD, kalau tidak terkonfirmasi maka sebaiknya jangan entry. Contoh pada artikel ini hanya menunjukkan bahwa sma dengan periode yang lebih besar (panjang) akan lebih akurat dibandingkan yang kecil (pendek), tetapi periode besar lebih lambat.

    Jika Anda trading dengan time frame rendah sebaiknya tidak menggunakan sma dengan periode besar (panjang), misalnya trading dengan tf 1 jam atau 30 menit, biasanya menggunakan kombinasi sma 21 dan sma 55.
    Martin S
    13 JAN 2015
  • @ teri:
    - Tidak harus. MACD hanya salah satu konfirmator arah trend yang sering digunakan.

    - Indikator arah trend yang populer adalah ADX atau Average Directional Index. Disini ada +DI dan -DI sebagai komponen utamanya, yang menunjukkan arah pergerakan harga sedang up atau down. Untuk jelasnya bisa dibaca di sini.

    - ADX hanya untuk mengetahui arah dan kekuatan trend, sedang MACD bisa juga untuk mendeteksi keadaan overbought atau oversold.

    - MA bisa dipasangkan (atau dikombinasikan) dengan semua indikator. Untuk konfirmator arah trend bisa dikombinasikan dengan MACD, ADX atau Bollinger Bands.
    Martin S
    13 JAN 2015

Apakah Anda Trader Pemula?

belajar forex untuk pemula Klik di sini untuk tahu cara belajar dan menguasai trading dengan mudah.