Memahami Analisis Sentimen Dengan Filsafat

  By: Ardhy Solomon (p)   View: 5600    Analisa Fundamental  

Cacat Analisa

Saya meyakini bahwa pada level apapun, sebuah analisa pasti bercacat. Tidak peduli siapapun orangnya dan seberapa lama, seberapa banyak dana yang dikelola atau seberapa ahli dia di pasar keuangan pastilah analisanya bercacat. Ada beberapa sudut pandang untuk menjelaskan kenapa setiap analisa yang kita lakukan memiliki cacat.

Komposisi variabel fundamental yang dilakukan oleh seorang analis tidak menjamin dia telah memilih rangkaian yang tepat untuk menjelaskan pristiwa dari fenomena pergerakan harga mata uang.

Katakanlah Anda sudah mengumpulkan semua data dengan lengkap, namun lengkapnya itu sendiri menjadi sebuah pertanyaan yang berlanjut Sampai mana batas kelengkapan tersebut? Apakah standar mutlak atau memang standar kita sendiri?

Umumnya, yg terakhirlah yang banyak dipilih, entah itu disebabkan oleh elemen waktu untuk mengambil keputusan secepatnya ataupun orientasi uang yang membentuk standar kita sendiri. Tapi kalo dipikir-pikir sebetulnya kita juga masih memiliki keraguan dengan standar mutlak tersebut. Namun realitanya, standar mutlak tersebut runtuh sepenuhnya dengan keberadaan hukum dialektika, di mana tidak ada satu kebenaran yang absolut. Akibatnya, self standard kita sendiri hancur dengan hukum ketidakpastian manusia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lengkap atau tidaknya informasi, tidak akan menjamin hasil sukses seseorang. Kita bisa berhasil dengan data yang lengkap dan sebaliknya kita juga bisa berhasil dengan data yang tidak lengkap.

Dan ini bisa dibuktikan oleh peristiwa di sekitar kita di mana ada kinerja dana yg berhasil dgn teknikal tanpa tau apa itu bank central atau tanpa tahu seluk beluk fundamental sekalipun.

Namun di sini saya merasa tertarik ingin membahas dari segi realitas pasar keuangan saya akan menggunakan filsafat untuk ini. berikut pemaparannya.

 

Absolute VS Self

Absolute atau kita sebut sebagai standar mutlak adalah harga yang digerakkan oleh selain standar buatan kita sendiri. Segala hal yang digerakkan oleh hasrat memperoleh uang bukanlah standar mutlak karena harga mutlak seharusnya bergerak karena faktor fundamental bukan karena campur tangan manusia di sektor keuangan.

 

Memahami Analisis Sentimen Dengan

Jadi bisa dikatakan, harga mata uang sudah seharusnya merepresentasikan sektor bisnis yang mana menjadi fundamentalnya tapi pada kenyataannya kondisi ini tidak mungkin tercapai karena walau bagaimanapun, sektor keuangan memiliki pemain yang berisi manusia di dalamnya. Harga digerakkan oleh manusia sedangkan manusia memiliki kepentingan untuk menghasilkan uang. Dapat di simpulkan bahwa standar mutlak memainkan peranan yang kecil atau bahkan kasarnya kita meniadakan kondisi mutlak tersebut.

Sedangkan standar self atau dgn kata lain adalah standar yang kita buat sendiri, merupakan esensi terpenting untuk mengetahui kenapa harga mata uang bervolatilitas. Standar self merupakan standar keputusan yang kita buat dengan mempertimbangkan berbagai hal, meskipun yang paling sering terjadi adalah keinginan untuk mencetak laba. Tidak ada yg lebih dominan dibanding keinginan akan uang dan keinginan ini mendorong partisipan pasar untuk mengaktifkan mekanisme. Ekspektasi dan kekhawatirannya sehingga hargapun bervolatilitas walaupun pada saat informasi di lapangan terbatas.

 

Gabungan Absolute Dan Self

Kemudian Kita mencoba mencari cara dari kondisi-kondisi tersebut dengan menggabungkan kedua faktor yaitu standard mutlak dan self yang membawa kita pada kesimpulan bahwa harga mata uang sejatinya terbentuk dari fundamental yang melatarinya sebagai standar mutlak kemudian ada campur tangan manusia sebagai self standard. Lalu di saat inilah kita mengenal apa yg disebut analisis fundamental dan sentimen.

Sebetulnya inilah yang menjadi masalah, karena dua hal tersebut sepenuhnya memiliki eksistensi yg berbeda. Oleh sebab  itu, eksistensi ini menjadi sentimen yang sangat mendominasi dalam pasar keuangan dan akan semakin kuat lagi dominasinya dengan keberadaan mekanisme pasar bebas di mana uang sesukanya terbang kemanapun dia mau.

Banyak yang mengira sebelumnya kalo saya adalah seorang fundamentalis. Betul sekali karena saya mempertimbangkan faktor fundamental tapi itu kurang tepat karena saya selalu bersusah payah untuk merumuskan nilai sentimen yg menggerakan mata uang. Saya juga berkeyakinan bahwa para hedge fund- seperti first state indoequity yg mengelola dana (thn 2009) sekitar $134 Milyar-juga melakukan hal yg sama dgn saya yaitu memanfaatkan harga tidak wajar akibat sentimen dari orang-orang yg memiliki orientasi jangka pendek dalam pengelolaannya.

Namun tentu saja, saya tidak tahu berapa banyak dana yg dikelolanya dalam risk appetite. Saya merasa perlu menyampaikan ini karena falsafah hedge funds tersebut sejalan dengan pedoman trading saya sendiri. Dan yg pasti saya bukanlah fundamentalis dan saya tidak sedang menganalisis fundamental walaupun tampak luar kelihatan seperti itu.

 

Filsafat

Di sini, saya tidak mengajak Anda untuk menghasilkan profit, melainkan lebih ke bagaimana memahami realitas. saya akan mencoba mengajak anda untuk memahami realitas bukan dengan logika biasa yang sering kita pakai sehari-hari.

Pada dasarnya pasar merupakan akumulasi dari informasi yang tidak sempurna sehingga hargapun bisa dikatakan tidak valid. Namun kenapa pasar cacat? Apa yg menyebabkan harga cacat? Dan bagaimana berpikir dgn logika yang tidak biasa? Berikut pemaparannya.

 

Kenapa Pasar Cacat ?

Kenapa pasar cacat? Hal itu dikarenakan oleh keputusan yang kita ambil berpijak pada ekspektasi masa depan, sedangkan masa depan sendiri adalah hal yang tidak pasti. Jadi dapat dikatakan bahwa keputusan ini salah, karena harga yang terjadi pun adalah hasil dari kesalahan ini.

Saat keputusan yang kita ambil berpijak pada masa depan, maka keputusan ini akan mengaktifkan mekanisme Ekspektasi maupun kekhawatiran diri seseorang  dengan kata lain kamu tidak mengambil keputusan berdasar informasi dan tentu saja hal ini bisa menuai kesalahan di masa depan saat-saat di mana ekspektasi tidak sesuai harapan lagi. Jadi kita bisa tarik kesimpulan bahwa harga mata uang digerakan oleh ekspektasi  partisipan dan ekspektasi bisa salah sehingga harga mata uang sejatinya perwakilan dari informasi yang salah.

Namun kalo kita mengambil keputusan berdasar informasi apakah harga bisa dikatakan benar. Tentu saja harga bisa dikatakan benar jika keputusan yang partisipan ambil berpedoman pada informasi. Namun kondisi inilah yg tidak mungkin karena walau bagaimanapun partisipan akan selalu dominan utk mengambil keputusan berdasar ekspektasi atau sekedar kekhawatirannya.

Lalu kenapa partisipan menggunakan ekspektasi bukan malah informasi. Tidak ada jawaban yang pasti karena pasar tentu menggunakan keduanya untuk masuk ataupun keluar pasar namun jawaban bisa diberikan dengan pendekatan uang. Saat segala hal berhubungan dengan uang maka ada rasa emosional di mana kita kadang ketakutan mengenai hal-hal yang mungkin terjadi di masa yg akan datang apakah uang kita akan bertumbuh atau malah lenyap.

Ketika seseorang ingin mengetahui masa depan maka sejatinya tidak akan ada informasi untuk tahu bagaimana masa depan itu maka di saat inilah proses peramalanpun dimulai. Dan di saat ini juga kita bisa mengklaim bahwa harga merupakan hasil kesalahan di mana harga bergerak dengan ekspektasi-ekspektasi yg sebetulnya semu. Namun ekspektasi ini menjadi realita di saat informasi mengkonfirmasi ekspektasi tersebut tapi seandainya ekspektasi tersebut bertolak belakang dengan ekspektasi maka konsekuensinya harga akan jatuh lagi.

Kita tidak bisa mengatakan harga pasar adalah benar karena kadang harga tidak mencerminkan informasi yang ada dan hal ini sangat jauh dari kebenaran. Pasar merupakan gabungan dari kebenaran atau kesalahan. Namun yg menjadi fokus utama adalah seberapa dominan keduanya.

Jika kuantitas kebenaran lebih besar dari kesalahan maka harga akan bergerak menuju kebenaran tersebut sehingga kesalahan akan ikut dengan tren tersebut. Namun sebaliknya jika kuantitas kesalahan lebih besar dari kebenaran maka kebenaran akan ikut kepada kesalahan tersebut. Jadi walaupun pasar salah dia bisa memvalidasi atau mensahkan dirinya sendiri dengan paham dominannya di saat inilah kita mengenal apa yang namanya satu model market 'True market model' atau kumpulan berbagai kesalahan dan kebenaran akan menjadi satu model tidak peduli benar atau salah.

Hal ini tampaknya menarik perhatian kita untuk menemukan model tersebut. Mari kita identifikasi 'True market model' pasar bergerak dengan paham sentimen bukan paham fundamental karena dialah yang paling dominan di pasar keuangan. Jika kita mau melihat sejarah krisis semenjak Great depression 1929 hingga krisis yang baru-baru ini , model true market adalah yang paling cocok untuk menggabarkan kriteria sifat pasar keuangan. Sebagai contoh pada periode 1982 sampai 1985 amerika defisit yg tentunya memperlemah mata uang namun ekspektasi pasar terhadap terpilihnya Ronald Reagan menjadi presiden amerika ke -40 justru membuat dolar semakin meroket.

Itulah kenapa pasar keuangan ini memiliki deskripsi dengan perumpamaan hewan. Seperti kita tahu bull yang berarti banteng, bear yg berarti beruang dan heard instinct atau kerumulan hewan di mana orang lain akan ikut melakukan jika yang lainnya juga melakukan. Pasar keuangan menetapkan sentimen menjadi paham dominan.

Selesai.

 


KONTRIBUTOR :

Nama : Ardhy Solomon

Email : assuperhuman88@gmail.com







SHARE:

SHARE:

 
Komentar: 6