acy

Ide Proteksionisme Trump: Border Tax Dan Proyeksi Dampaknya

  By: A Muttaqiena   View: 1238    Analisa Fundamental  

Setelah terpilih sebagai Presiden AS ke-45, Donald Trump paling dikenal berkat retorika proteksionisme. Ia telah beberapa kali mengancam akan menerapkan Border Tax terhadap Meksiko dan China, bahkan secara khusus menunjuk perusahaan multinasional tertentu sebagai target pemberlakuan pajak proteksionis tersebut. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan proteksionisme Trump? bagaimana dampaknya bagi dunia? Ataukah ini hanya ketakutan pasar yang tak beralasan? Simak ulasan lengkap berikut.

Ide Proteksionisme Trump

 

Apa Itu Proteksionisme?

Proteksionisme adalah haluan kebijakan ekonomi yang cenderung mengekang arus perdagangan antar negara dengan cara seperti menetapkan bea impor, menentukan kuota impor, serta berbagai regulasi lainnya demi mencapai surplus neraca dagang. Kebijakan proteksionis ditujukan untuk melindungi perusahaan lokal dari pesaing di luar negeri, serta mendorong penciptaan lapangan kerja sebesar-besarnya untuk warga negara.

Untuk memenuhi tujuan itu, pelaku proteksionisme bisa memberikan subsidi dan pengurangan pajak bagi perusahaan-perusahaan domestik. Sebaliknya, pajak seperti bea impor dalam jumlah besar dikenakan terhadap barang-barang dari luar negeri. Sehubungan dengan itu, sejak beberapa waktu lalu, kebijakan proteksionisme dikonotasikan sejalan dengan gerakan anti-globalisasi.

Doktrin proteksionisme berkebalikan dengan paham perdagangan bebas (Free Trade), di mana pemerintah berupaya mengurangi halangan-halangan perdagangan internasional. Free Trade berkembang berdasarkan pemahaman bahwa kekayaan suatu negara bisa diperoleh dengan kemajuan bersama, bukan dengan mencegah persaingan. Ekspektasinya, persaingan akan mendorong munculnya produk-produk lebih baik dan lebih kompetitif bagi konsumen, serta mendorong inovasi bagi kemajuan peradaban.

 

Apa Saja Retorika Proteksionisme Trump?

Secara spesifik, retorika proteksionisme Trump yang digaungkannya sejak masih dalam masa kampanye sebelum Pilpres meliputi banyak aspek, tak hanya ekonomi, dan menjadi inti dari slogan "America First". Diantaranya:

  • Mendeportasi imigran ilegal dan membangun tembok perbatasan dengan Meksiko.
  • Menerapkan aturan imigrasi yang lebih ketat dan mengevaluasi ulang imigran yang sudah masuk AS, hal mana membuat khawatir perusahaan-perusahaan IT di Silicon Valley karena sebagian besar karyawannya merupakan imigran.
  • Melarang outsourcing pekerjaan ke luar AS.
  • Membatalkan keikusertaan AS di Trans-Pacific Partnership (sudah resmi dilakukan).
  • Melakukan negosiasi ulang NAFTA dengan Meksiko dan Kanada.
  • Memangkas pajak korporasi dari 35% ke 15%.
  • Merencanakan Tax Holiday (mirip dengan Tax Amnesty yang dicanangkan pemerintah Indonesia beberapa waktu lalu) untuk mendorong korporasi membawa pulang dana yang diinvestasikan di luar negeri.
  • Menuntut China, Jepang, dan Eropa atas tuduhan manipulasi mata uang.
  • Menerapkan Border Tax.

Diantara semua retorika proteksionisme yang sudah dilontarkan tersebut, baru satu yang sudah benar-benar dilaksanakan, sedangkan sisanya masih menjadi bahan perdebatan. Niat Donald Trump untuk mengetatkan imigrasi pun mendapatkan tentangan kuat di dalam negerinya sendiri. Bahkan, sekitar 100 perusahaan Silicon Valley hari ini (7/2/2017) baru saja mengajukan tuntutan hukum bersama untuk mencegahnya mempersulit aturan imigrasi.

Akan tetapi, bagi pelaku pasar finansial, paling mencemaskan adalah poin terakhir: Border Tax. Masalahnya, kata bermakna harfiah "Pajak Perbatasan" itu berpotensi menjadi pedang bermata dua yang memicu perang dagang skala internasional.

 

Apa Yang Dimaksud Dengan Border Tax?

Border Tax mirip dengan bea impor dalam pengertian proteksionisme di atas. Yakni, pajak atas produk-produk yang diimpor dari negara lain, guna melindungi produk sejenis buatan perusahaan lokal. Namun, Border Tax yang dimaksudkan oleh Trump nampaknya juga mencakup produk yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan AS di luar negeri. Dengan demikian, Border Tax dimaksudkan pula sebagai "penalti" bagi perusahaan-perusahaan yang membangun pabrik di mancanegara.

Salah satunya, Trump telah mengancam akan menerapkan pajak 35% pada produk otomotif yang dibuat GM dan Toyota di Meksiko. Masalahnya, langkah proteksionisme semacam itu terlarang berdasarkan perjanjian North American Free Trade Agreement (NAFTA), sehingga ia terlebih dahulu harus melakukan negosiasi ulang atau menarik AS dari pakta perdagangan tersebut.

Langkah-langkah proteksionisme Trump ini sebenarnya sudah lama dicetuskan. Sebagaimana dikutip Bloomberg, pada bukunya yang terbit tahun 2011, ia menghimbau diberlakukannya pajak 20% atas negara manapun yang mengekspor barang ke AS. Dalam salah satu pidato kampanye, ia pun menyarankan diterapkannya pajak 45% atas barang impor dari China dan 35% atas barang dari Meksiko.

 

Apakah Trump Benar-Benar Memiliki Kekuasaan Untuk Menerapkan Border Tax?

Ya. Berdasarkan Trade Act Tahun 1974, Presiden AS memiliki otoritas unilateral untuk merubah kebijakan perdagangan, termasuk mengalihkannya ke arah proteksionisme. Artinya, Trump bisa menerapkan bea impor dan kuota pada negara manapun yang dituduhnya melakukan praktek perdagangan tidak adil.

Jika suatu negara tak terbukti melakukan praktek perdagangan tidak adil, maka Trump masih memilliki alternatif lain. Yakni memberlakukan International Emergency Economic Powers Act yang mengizinkan Presiden membatasi impor dengan alasan ada risiko bagi keamanan negara. Pada 1971, Presiden Richard Nixon pernah menggunakan Undang-Undang itu untuk menerapkan bea impor besar, dengan mengutip ancaman Perang Korea yang sebenarnya sudah berakhir beberapa dekade sebelumnya.

 

Negara Mana Saja Yang Akan Terdampak Bila Border Tax Diterapkan?

Ekonom Deutsche Bank, Robin Winkler dan George Saravelos, mengkalkulasikan dampak apabila Presiden Donald Trump menerapkan Border Tax sebesar 20%. Negara-negara yang akan dirugikan oleh langkah proteksionisme Trump ternyata bukan hanya China dan Meksiko, tetapi juga termasuk Indonesia. Lihat grafik di bawah ini:

Dampak Proteksionisme Trump

GDP Meksiko akan terdampak hingga lebih dari -6%, disusul oleh Vietnam, Kanada, Malaysia, dan Israel. Di sisi lain, China ada di urutan ke-13 dampak terbesar dengan GDP hanya minus sekitar 1%. GDP Indonesia juga bakal kena imbas proteksionisme Trump, tapi porsinya di bawah -1%.

Apa dampaknya bagi Dolar? Jika Border Tax itu bisa menaikkan permintaan akan produk AS di luar negeri dan mengurangi permintaan AS akan produk impor, maka Dolar akan menguat. Defisit perdagangan AS bakal menyusut, dan sebaliknya, defisit perdagangan negara-negara dalam daftar di atas akan meningkat. Akan tetapi, proteksionisme Trump berisiko merusak hubungan bilateral dengan negara-negara sekutu AS, dan justru bisa jadi bumerang bila negara-negara lain melakukan tindakan balasan.

 

Apakah Target Penerapan Border Tax Bisa Melawan?

Bisa. Menurut Bloomberg, negara yang jadi sasaran penerapan bea impor bisa mengajukan tuntutan hukum di pengadilan AS maupun di World Trade Organization (WTO). Negara-negara seperti China dan Meksiko bisa membalas dengan menerapkan bea impor mereka sendiri untuk produk dan perusahaan tertentu asal Amerika Serikat. Aksi saling balas itulah yang dimaksud dengan perang dagang.

Satu fakta patut dicatat. Media Global Times yang dikelola oleh pemerintah China, sempat menuliskan kemungkinan tindak balasan "tit-fot-tat" dengan mentarget Boeing Co. atau Apple Inc.

Perusahaan AS yang dikenai Border Tax secara khusus juga bisa mengajukan tuntutan di pengadilan, dengan alasan Trade Act Tahun 1974 hanya mengijinkan Presiden untuk menyasar entitas negara, bukan perusahaan swasta.







SHARE:

SHARE:

 
Komentar: 1