Setelah Membuka Posisi, Apa Langkah Berikutnya ?

  By: Martin   View: 7894    Trading Plan  

Tulisan ini mengenai trade management, aspek yang cukup penting dalam trading. Dengan pengetahuan dan penerapan trade management profit yang kita dapatkan akan benar-benar maksimum. Bahkan secanggih apapun setup strategi trading kita, jika tidak dimanage dengan cerdas maka hasilnya bisa kurang memadai atau bahkan bisa berbalik merugi.


Kesalahan dalam memanage trading forex

Kebanyakan kesalahan diakibatkan oleh keputusan yang emosional, misalnya seorang trader menambah posisi baru hanya karena posisi sekarang sedang profit, atau memindahkan level stop loss lebih jauh karena posisi sekarang sedang merugi. Juga seorang trader yang merubah risk/reward ratio yang telah disepakati hanya karena melihat pergerakan harga yang tampaknya tidak sesuai lagi dengan yang diprediksi, mungkin dengan keluar pada level breakeven-nya atau memperkecil resiko dengan keluar dalam keadaan merugi. Hal tersebut adalah kesalahan yang biasa dilakukan seorang trader dengan trading plan yang kurang matang yang pada akhirnya mengambil keputusan berdasar emosi belaka.

Sebenarnya trade management adalah hal sederhana dan tidak berisi rumus-rumus yang kompleks. Berikut beberapa cara yang lazim diterapkan dalam trading forex :


Averaging

Averaging berkaitan dengan penambahan posisi baru ketika kita telah mempunyai satu atau beberapa posisi yang sedang open. Dengan analisa kondisi market sekarang kita bisa memutuskan strategi exit yang paling logis, dan apakah masih mungkin kita menambahkan posisi baru dengan level exit yang sama pada kondisi pasar tersebut.

Averaging in: Cara yang paling aman untuk menambah posisi baru jika kondisi pasar sesuai prediksi adalah dengan menggunakan profit yang telah kita peroleh pada posisi yang masih open untuk ‘membayar’ resiko posisi yang akan kita tambahkan. Dengan cara ini kemungkinan terburuk adalah kita keluar pada level breakeven dengan tanpa resiko.
Cara ini bisa diterapkan dengan baik pada kondisi pasar yang trending.

Jika kita biasa trading dengan metode price action, entry point pertama ketika terbentuk formasi bar yang valid, dan jika setelah koreksi harga terbentuk formasi bar lagi, kita bisa menambahkan posisi baru. Level stop loss posisi sebelumnya digeser (metode trailing stop) dan dalam prakteknya sering disamakan dengan level stop posisi yang baru.

Hendaknya kita membuka posisi tambahan bukan karena kita sedang profit, tetapi karena price action yang terbentuk memang benar-benar memungkinkan.

(Catatan: Price action adalah metode trading dengan mengandalkan pada pengamatan formasi bar yang terbentuk pada suatu kondisi market tertentu. Pin bar, fakey bar dan inside bar adalah sebutan formasi bar yang dianggap sebagai patokan dalam price action trading. Price action telah banyak diulas pada artikel-artikel dalam rubrik ini.)

Contoh penerapan:

               Setelah Membuka Posisi, Apa Langkah

  • Open sell EUR/USD 1 lot pada 1.4500 ketika sinyal formasi bar cukup kuat, dengan level stop loss pada 1.4600
  • Setelah profit 100 pip dan terbentuk formasi bar yang valid, kita open sell 1 lot lagi pada 1.4400 dan stop loss pada 1.4450 (50 pip).
  • Pindahkan stop loss level posisi pertama pada 1.4450 juga, sehingga kedua posisi mempunyai level stop sama.

Jika pergerakan harga pasar berbalik arah dan level stop loss kita kena, maka posisi kedua rugi 50 pip, tetapi posisi pertama profit 50 pip sehingga breakeven. Dalam hal kondisi downtrend berlanjut, kita bisa pindahkan level stop kedua posisi tersebut untuk memperoleh profit maksimum pada 2 lot trading kita itu.

‘Averaging in’ berarti membuat harga rata-rata posisi open kita lebih dekat dengan harga pasar sekarang, dan jika kita tidak memindahkan level stop loss (trailing stop) posisi yang sedang profit, berarti kita malah akan menambah resiko dengan membuka posisi baru.

Averaging out atau scale out: adalah menambah posisi baru dengan setengah ukuran lot posisi sebelumnya.

                    Setelah Membuka Posisi, Apa Langkah

Prinsipnya sama dengan averaging in, hanya ukuran lot untuk posisi yang ditambahkan lebih kecil, biasanya setengah dari posisi pertama untuk mengurangi faktor resiko. Tetapi ada yang kurang setuju dengan metode ini karena dianggap ragu-ragu dan kurang memaksimalkan profit jika kondisi pasar masih memungkinkan.

Trailing stop: hanya digunakan untuk kondisi pasar yang trending.
Metode ini lazim digunakan, dan untuk mendapatkan hasil maksimum, berikut beberapa cara trailing stop:

  • Pindahkan level stop jika harga telah bergerak sesuai prediksi sebesar 1 kali faktor resiko kita, dan kunci profit kita setiap kelipatan 1 kali resiko.
  • Pindahkan level stop pada 50% dari jarak kita entry ke level tertinggi atau terendah yang baru terjadi, biasanya bagi trader yang tidak terlalu agresif.
  • Pindahkan stop loss diatas / dibawah level moving average (misal ema 8 daily atau ema 21 daily)

Breakeven stop: trailing stop ke level breakeven dilakukan jika arah pergerakan harga meleset dari prediksi kita, atau ketika volatilitas pasar sangat tinggi dengan arah yang tidak menentu. Jika masih memungkinkan, untuk mencegah resiko yang bisa terjadi, metode ini bisa diterapkan.


Sumber: Nial Fuller - www.learntotradethemarket.com




Artikel Trading Plan


Artikel Forex Lainnya

Komentar: 7
  • Masukan strategi yang sangat bagus,
    bisa diterapkan saat melihat peluang profit yang lebih besar.
    Imam M.c
    8 NOV 2012
  • Dari sini berarti kalo averaging in dilakukan dg menggeser level stop lossnya (trailing stop) sdngkan averaging out dengan memperkecil ukuran trading kedua. kira2 lbh baik yang mana??
    Eric Zul
    13 FEB 2013
    @ Eric Zul:
    Baik averaging in maupun averaging out sama-sama menggunakan teknik trailing stop (menggeser stop loss). Tanpa trailing stop akan menambah resiko karena profit yang sebelumnya tidak diproteksi.

    Masalah lebih baik yang mana itu tergantung keadaan pasar Pak, kalau trend-nya kuat kita berani menggunakan averaging in, tetapi kalau trend-nya tidak begitu kuat (sering pause atau istirahat) maka bisa menggunakan teknik averaging out. Untuk mengetahui kekuatan trend bisa dengan indikator ADX.
    Martin S
    9 MAY 2015
  • @Eric, mending yg averagng in aja, bs dpt profitx mksml. lggpl klo udah digeser level stop losx kmgnknan plg burukx kn y breakeven itu.

    klo yg averaging out mskpn sm2 bs profit tp jmlhx g bkln bs mksml cz ukuran tradingx dibatasin. apalagi klo ntar hrgx berbalik, resiko lossx jd krg bs diperkirain cz klo volatilitas lg tinggi bs2 profit sblmx ikut kemakan
    Si Trader
    7 MAR 2013
  • Memilih cara averaging didasarkan pada kemampuan analisis saja. Kalau trader sudah yakin dengan analisis trading dan paham masing2 resiko dari jenis averaging maka tidak akan menjadi masalah jika trader ingin menggunakan averaging in/out.
    Pemilihannya kan sebenarnya juga bisa didasarkan pada kebutuhan.

    Jika trader cuma ingin memanfaatkan kondisi tren saja tapi tidak ingin menargetkan profit yang terlalu tinggi ya sah2 saja jika yang digunakan adalah averaging out.
    Imam M.c
    12 MAR 2013
  • @Imam, klo ada ksmptn yg lbh besar knp g diambil ja sekalian? toh resikox jg plg bnyk smp ke breakeven, g smpe bkin loss. kecuali klo kyk biasax yg profit besar resiko jg besar, yg kyk gini perlu dhindarin, tpi slm resikox masi bs diminimalisir knp g diambil aja?
    Si Trader
    16 MAR 2013
  • Kenapa gak dilipatgandakan di open posisi yang kedua ny.. master? Kan malahan tambah banyak lg potensi profitnya. Oh iya..master..kalo kita mau pasang model open posisi bertingkat kayak gini, baiknya berapa tingkat ya?

    Kemungkinan peluang paling pas untuk menerapkan strategi ini di tf berapa ya? Untuk pairnya yang sering trending itu pair apa aj ya master? Jadi kan pemula seperti saya bisa fokusĀ  buat pilihan pairnya.
    Wono
    15 MAY 2015
    @ wono:
    - Dengan melipat-gandakan ukuran trading pada posisi kedua maka resikonya juga berlipat 2 kali. Dalam hal ini aturan averaging in memang maksimal menambah 1 kali ukuran lot trading, dan averaging out menambah setengahnya. Tentu saja cara ini ditentukan berdasarkan pengalaman mereka yang telah menggunakan dan merasakan manfaatnya.

    - Untuk berapa tingkat itu tidak ada batasannya, selama kondisi pasar masih trending. Selama trend masih kuat maka masih mungkin membuka posisi-posisi baru.

    - Untuk penerapannya semakin tinggi time frame akan semakin akurat. Setahu saya banyak yang menggunakan cara ini pada time frame 1 jam dan 4 jam, karena time frame daily dianggap lama nungguinnya, dan dibawah 1 jam dianggap kurang akurat.

    - Semua pasangan mata uang pernah trending, hanya volatilitasnya yang berbeda-beda. Makin tinggi volatilitas biasanya lebih sering membentuk trend. Dari pengalaman pair yang volatilitasnya tinggi adalah yang berpasangan dengan GBP, biasanya GBP/JPY, GBP/USD atau EUR/GBP.
    Martin S
    23 MAY 2015
    tengkiyu master, bisa jadi bahan inspirasi nih. Sekalian minta pertimbangan master, kalo kita mau buka posisi averaging, jarak dari open pertama kali, enaknya berapa pip ya? Apakah 50 pip itu berdasar pengalaman master sendiri?
    Wono
    30 MAY 2015
    @ wono:
    Tergantung pada kondisi pasar, makin kuat trend makin lebar jaraknya, usahakan penggeseran level stop loss pertama sedemikian rupa sehingga breakeven (sebagai contoh pada artikel ini 50 pip), tapi jika trend berlanjut kita bisa geser lagi untuk memperoleh profit yang maksimum. 50 pip diatas hanya contoh untuk memudahkan analisa.
    Martin S
    13 JUN 2015
  • makasih banyak master, jadi paham dengan ilmunya.
    yg saya pingin tanyakan disini tentang averaging up dan down, itu bagaimana ya konsepnya? saya sempat baca dari artikel lain disini (dr penulis lain), bahwa:

    -averaging down (melakukan pembelian forex dalam rentang interval harga tertentu apabila harga mata uang itu turun)
    -averaging up (menunggu sampai harga forex turun hingga mencapai dasarnya, kemudian baru Anda melakukan pembelian)
    apakah benar sperti itu? kalau iya berarti averaging down itu seperti martingale begitu ya?
    Trisna Hadi
    25 AUG 2015
    @ Trisna Hadi:
    Setahu saya istilah averaging down adalah menambah posisi ketika harga turun dengan ukuran lot yang sama, dan averaging up adalah menambah posisi ketika harga sedang naik dengan ukuran lot yang sama, terlepas posisi kita sebelumnya sedang profit atau loss.

    Strategi martingale artinya kita membuka posisi dengan ukuran lot 2 kali sebelumnya dan dengan stop loss yang sama saat posisi kita sebelumnya mengalami loss. Cara martingale bisa dilakukan dengan averaging up (jika sebelumnya kita membuka posisi sell), atau dengan averaging down (jika sebelumnya kita membuka posisi buy).

    Jadi averaging down tidak selalu sama dengan martingale, kecuali sebelumnya Anda punya posisi buy dan posisi baru yang Anda buka ukuran lot-nya 2 kali dari sebelumnya.
    Martin S
    12 APR 2016

Apakah Anda Trader Pemula?

belajar forex untuk pemula Klik di sini untuk tahu cara belajar dan menguasai trading dengan mudah.