7 Hal Pokok Tentang 'Hard Brexit' Dan 'Soft Brexit'

   By: N Sabila    View:3395

Seputarforex.com - Gejolak Brexit belakangan ini ibarat api dalam sekam; terkadang tampak teredam, namun sesungguhnya belum padam dan bisa menyala lagi sewaktu-waktu, serta menyambar ke gerak Pounds Sterling di pasar mata uang. Para pejabat politik di London serta ibukota negara-negara di benua Eropa lainnya sedang sibuk mendiskusikan proses Brexit, termasuk syarat dan ketentuan pemisahan Inggris dari Uni Eropa (UE).

hard_brexit

Dalam proses perceraian ini, muncullah istilah yang seringkali disebut 'Hard Brexit' dan 'Soft Brexit', dengan pemikiran PM Inggris, Theresa May, yang dinilai lebih condong kepada kubu 'Hard Brexit'. Istilah ini kerap disebutkan dalam berita-berita forex mengenai Pounds Sterling.

Sebagai pengetahuan untuk para trader, berikut ini 7 hal yang perlu diketahui tentang 'Hard Brexit' dan 'Soft Brexit'.

1. Apakah 'Hard Brexit' Itu?

Hard Brexit atau Brexit "garis keras" adalah istilah populer yang merujuk pada kemungkinan hasil negosiasi antara Inggris dan Uni Eropa, dimana Inggris akan melepas sepenuhnya keanggotaan dalam pasar tunggal (single market) Eropa, utamanya pada sektor barang dan jasa. Hard Brexit bisa membuat Inggris mendapatkan hak untuk mengendalikan anggaran negaranya sendiri, undang-undangnya, dan yang paling penting, mendapatkan hak untuk mengendalikan sepenuhnya undang-undang imigrasi Inggris sendiri.

Jika memilih Hard Brexit, maka para petinggi negara Inggris akan terus ditekan untuk secepatnya membuat pakta-pakta perdagangan baru ataupun segera membuat kesepakatan antara industri per industri, dengan Uni Eropa. Jika tidak begitu, maka perusahaan-perusahaan di Inggris akan diarahkan untuk mengikuti aturan standar World Trade Organization (WTO), yang di dalamnya ada aturan untuk menetapkan tarif (bea impor/ekspor) jika Inggris ingin menjalin hubungan dengan Uni Eropa atau sebaliknya. Bank-bank Inggris pun akan kehilangan akses kemudahan bebas bea yang dinikmatinya selama ini dalam hubungan dengan bank-bank lain yang masih menjadi anggota Uni Eropa.

 

2. Apa Yang Membedakan Dengan 'Soft Brexit'?

Brexit yang lebih "lunak" alias "Soft Brexit" akan mempertahankan sejumlah akses bebas tarif ke pasar tunggal. Dalam Soft Brexit, Inggris kemungkinan masih harus berkontribusi pada anggaran keuangan Uni Eropa, membuka kebebasan bagi pergerakan tenaga kerja, dan mengikuti sebagian aturan-aturan UE lainnya. Dengan kata lain, Inggris akan berlaku seperti Norwegia, yang merupakan anggota European Economic Area, namun bukan anggota Uni Eropa.

 

3. Bagaimana Awal Mula Istilah 'Hard Brexit' Muncul?

Perbedaan antara "Hard" dan "Soft" Brexit dimulai bahkan jauh sebelum referendum 23 Juni. Referensi awalnya datang dari, John Wraith, Kepala Ahli Strategi di UBS AG yang mengungkapkan pada Bloomberg Radio pada bulan Februari lalu, bahwa Brexit "yang lebih lunak" akan terkesan cukup bersahabat dan memiliki arti pembangunan kembali kesepakatan perdagangan. Sebaliknya Brexit "garis keras", artinya adalah negosiasi yang alot dan pemancangan barikade-barikade perdagangan antar negara.

 

4. Mengapa Para Investor Lebih Khawatir Pada "Hard Brexit"?

Para investor yang mengkhawatirkan "Hard Brexit" mendorong jatuh Pounds Sterling ke level rendah tiga dekade setelah PM Theresa May dan rekan-rekannya di Partai Konservatif memberi sinyal akan kecenderungan mereka untuk melepaskan diri sebebas-bebasnya dari Uni Eropa. Dengan kata lain, May tak gentar untuk mengambil konsekuensi dari "Hard Brexit".

Namun para investor justru khawatir. Mereka takut perekonomian akan dirugikan karena fungsi Inggris sebagai partner komersial dan perdagangan yang terbesar memudar sehingga menyebabkan lemahnya pertumbuhan, rendahnya investasi, dan pesatnya inflasi. Otomatis, akan makin sulit bagi Inggris untuk keluar dari rekor defisit neraca berjalannya.

The Confederation of British Industry dan British Retail Consortium adalah dua kelompok bisnis yang paling vokal memperingatkan dampak dari pemutusan hubungan dengan perdagangan Uni Eropa. Bank-bank pun gugup karena meninggalkan single-market dapat menambah biaya yang biasa mereka sebut "ongkos paspor". Kondisi ini memang masih memungkinkan mereka untuk menawarkan jasanya sebagai bank di Uni Eropa, tapi mereka harus memiliki kantor pusat di London.

 

5. Apa Pandangan Theresa May?

Dalam penjelasannya tentang kesepakatan "perceraian" yang diinginkannya tanggal 2 Oktober lalu, May mengatakan,"Saya ingin memberikan kebebasan penuh bagi perusahaan-perusahaan Inggris untuk berdagang dan beroperasi di pasar tunggal (Uni Eropa), serta mengijinkan perusahaan-perusahaan Eropa melakukan hal yang sama di sini. Namun, ijinkan saya memperjelas: Kami tidak meninggalkan UE jika pada akhirnya harus mengembalikan aturan imigrasi lagi ke UE."

 

6. Apakah Parlemen Setuju?

PM Theresa May telah mempersilakan Parlemen untuk terlibat dalam debat pengaturan strategi untuk Brexit dan bahkan bisa juga ikut memberikan suara persetujuan terkait rencana-rencana yang akan diajukan oleh May. Sebagian dari anggota parlemen mengatakan bahwa mereka akan lebih memposisikan diri sebagai pengawas. Hal ini dikarenakan, pada dasarnya Parlemen kemungkinan lebih menginginkan "Soft Brexit" ketimbang apa rencana-rencana May yang kental akan sentimen "Hard Brexit".

Apa yang masih tidak disetujui oleh May adalah ijin bagi parlemen untuk ikut memutuskan proses Brexit. Dalam hal ini, pengadilan tinggi masih meninjau apakah perdana menteri mempunyai hak prerogatif untuk mengambil keputusan sendiri.

 

7. Mengapa Inggris Dan UE Harus Bernegosiasi Seserius Ini?

Karena Inggris adalah negara pertama yang hengkang dari kesatuan Uni Eropa. Setelah Brexit, Uni Eropa dan negara-negara lain anggotanya masih harus melanjutkan perdagangan dan segala aktivitas bisnis lainnya. Namun, karena baik Inggris maupun Uni Eropa belum mempunyai model peraturan yang jelas setelah perceraian semacam ini, maka banyak sekali hal yang harus diperhitungkan.

Keluar dari Single Market artinya membutuhkan kesepakatan perdagangan antara industri dengan industri, sektor satu dan sektor lainnya, termasuk sektor keuangan. Semuanya harus diatur sedemikian rupa dan khusus untuk sektor keuangan, sudah ada opsi peraturan untuk menempatkan "jembatan" yang menghubungkan gap yang terbentuk dan menyusun aturan relasi yang baru.

Berikut ini adalah skema Bloomberg yang menampilkan hubungan-hubungan yang terjalin di Benua Eropa:

skema_uni_eropa

  • Garis ungu terong menjelaskan lingkup Uni Eropa secara keseluruhan dengan anggota 28 negara yang tergabung dalam Single Market. Di dalamnya ada pergerakan bebas barang, jasa, orang, modal, dan orang.
  • Garis hijau muda adalah wilayah Zona Euro, yakni negara-negara yang menggunakan mata uang Euro. 
  • Garis abu-abu adalah wilayah European Economic Area (EEA), yang menyediakan akses ke Single Market dengan ganti kewajiban membayar iuran tertentu, tetapi aturan imigrasi-nya tidak menyatu dengan Zona Euro.
  • Garis biru muda adalah wilayah European Free Trade Association (EFTA) yang merupakan zona perdagangan bebas dan jaringan kesepakatan dengan negara-negara lainnya
  • Garis pink fuchsia adalah Custom Union yang merupakan wilayah sirkulasi barang-barang bebas bea, dan memiliki sistem penanganan impor yang seragam.
  • Garis kuning adalah wilayah Schengen Area, yang terdiri dari 26 negara travel-zone bebas paspor.


  Anda ingin mendapatkan info berita, artikel, analisa terbaru?
Silahkan daftar disini.

Editorial Forex

Daftar Newsletter

  Anda ingin mendapatkan info berita-berita terbaru, Silahkan daftar disini.

SHARE:

SHARE:

 

Daftar Newsletter

  Anda ingin mendapatkan info berita-berita terbaru, Silahkan daftar disini.