Donald Trump Resmi Jadi Presiden AS: Lantas Bagaimana?

   By: N Sabila    View:2208

Seputarforex.com - Satu pekan telah berlalu sejak terpilihnya Donald Trump sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat dari hasil pemilu 9 November 2016 lalu. Trump, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai pebisnis properti dan juri dalam acara pemilihan pengusaha muda The Apprentice, akan menjadi presiden AS pertama yang nol pengalaman militer dan pemerintahan.

donald-trump-presiden-as-ke-45
Kontroversi yang dihadirkan oleh sosok Trump selama ini membuat pasar terkejut akan kemenangannya atas Hillary Clinton. Dolar AS pun bergerak seperti anak panah: mundur sesaat kemudian melesat jauh bersama yield-yield obligasi pemerintah AS.

Spekulasi bermunculan bahkan sebelum Trump mengungkapkan secara terperinci kebijakan-kebijakan yang disusunnya untuk empat tahun ke depan. Ia pun baru akan resmi dilantik pada tanggal 20 Januari 2017 mendatang. Lalu apa dampak kepemimpinan Donald Trump untuk para trader forex? Berikut ini garis besarnya.


'Trumponomics': Apa Rencana Trump Untuk Sektor Ekonomi?

Dalam kampanye-kampanyenya, Trump belum menjelaskan secara detil apa saja yang disusunnya untuk kemajuan ekonomi negeri Paman Sam.

Dalam editorial Seputarforex.com bertajuk Ekonomi Amerika, Apabila Donald Trump Menjadi Presiden yang ditulis jauh sebelum pemilu, sedikit banyak telah menyinggung rencana-rencana Trump untuk bidang perdagangan internasional, ketenagakerjaan, dan anggaran negara.

Dalam perdagangan internasional, yang paling dikhawatirkan adalah rencana proteksi perdagangan dimana Trump akan memulangkan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dari luar ke dalam negeri. Selain itu, Trump juga akan memperbarui perjanjian-perjanjian dagang dengan negara-negara lain seperti keluar dari keanggotaan Trans-Pacific Partnership (TPP) dan menegosiasikan kembali North American Free Trade Agreement (NAFTA).

Tak hanya itu, Trump tak sungkan-sungkan menuding negara-negara yang dianggapnya sebagai rival berat AS seperti China, Jepang, China, Meksiko, dan Korea Selatan, dengan tuduhan kecurangan.

Untuk Jepang, Trump mengungkit masalah devaluasi Yen Jepang yang sengaja dipergunakan pemerintah untuk menghidupkan kembali ekonomi Jepang yang loyo. Untuk China, Trump menuduh adanya manipulasi nilai tukar Renminbi. Sedangkan Meksiko, sudah jadi rahasia umum kebencian Trump akan negeri jiran AS yang satu ini.


"Make America Great Again"

Jargon kampanye Trump yang berarti membuat Amerika kembali hebat diiringi dengan pemaparan janji-janji berupa pemotongan pajak, reduksi regulasi pajak, dan penciptaan 25 juta lapangan pekerjaan dalam satu dekade ke depan.

Dari segi infrastruktur, Trump ingin menguber kebijakan "America's Infrastructure First", yaitu kebijakan yang akan mengembalikan fokus pemerintah dari globalisasi ke infrastruktur. Meningkatkan proyek-proyek infrastruktur, menurut Trump, akan otomatis membuka banyak lapangan pekerjaan. Dari segi pajak, Trump berjanji untuk mengurangi pajak perusahaan dari 35% menjadi 15% serta menutup celah pajak untuk orang-orang berpenghasilan tinggi.


Seberapa Besar Peluang Trump Untuk Mewujudkan Janji-janjinya Itu?

Cukup besar. Partai Republikan yang mengusungnya mendapat jatah kursi mayoritas di Kongres. Artinya, makin muluslah jalan Trump untuk mengakselerasi rencana-rencana reformasinya. Para lawannya pun tampaknya akan terlebih dulu memberinya kesempatan untuk membuktikan janji-janjinya.


Amerika Serikat Dan China Ke Depan

Entah Trump sudah memikirkannya atau belum, (belakangan diketahui, Trump kaget begitu Obama memberitahunya daftar tanggungjawab dan pekerjaan seorang presiden yang begitu besar dan banyak) rencananya untuk memproteksi perdagangan bisa menjadi bumerang bagi negaranya sendiri.

Contohnya, menaikkan harga barang-barang impor China tak hanya akan merugikan para importir tetapi juga eksportir. Mengapa? Karena sebagai negara ekonomi terbesar kedua di dunia, China punya kuasa untuk "membalas" apa yang dilakukan Amerika terhadap produknya. Eskportir AS bukan tak mungkin akan kelabakan jika China juga menaikkan harga barang-barang dari AS.

Namun, hubungan buruk antara Trump dengan China nampaknya mulai diminimalisasi. Dalam harian Jawa Pos edisi Rabu 16 Oktober 2016, misalnya, dituliskan bahwa Presiden incumbent Barrack Obama sedang sibuk mendidik Trump tentang etiket menjadi seorang presiden. Obama menyebut bahwa Trump bukanlah orang yang idealis, melainkan pragmatis.

Artinya, rencana-rencana kebijakan Trump yang selama ini dicap "rebel" dengan arah yang negatif, bisa jadi tidak akan diwujudkan semuanya. Trump, kata Obama, sedang belajar untuk memfilter bagian mana saja yang perlu bisa berimbas merugikan dan mana yang tidak.

China pun tampak menunjukkan iktikad yang bersahabat. Presiden Xi Jin Ping dilaporkan dengan tulus mengucapkan selamat kepada Donald Trump dan berharap dapat menjalin simbiosis mutualisme yang lebih banyak dan baik dengan AS.


Bagaimana Reaksi Pasar?

Para trader ekuitas mencerna kemenangan Trump sebagai kabar baik. Pemotongan pajak berarti lebih banyak profit yang akan masuk ke kantong perusahaan-perusahaan Amerika. Sedangkan para trader obligasi menjual US Treasuries mereka karena rencana Trump untuk menggenjot infrastruktur secara masif berpotensi menaikkan utang pemerintah dan inflasi. Perlu diingat bahwa tingginya inflasi akan menurunkan nilai coupon payment dan rendahnya harga obligas diterjemahkan sebagai lonjakan imbal hasil.

lonjakan-yield-obligasi-asLonjakan Yield Obligasi AS, Sumber: Investing

Lalu bagaimana dengan Dolar? Para trader gencar membeli Dolar seolah tak ada hari esok. "Dolar akan terus terdukung sampai kebijakan (Trump) diungkapkan (secara resmi) ke hadapan publik. Kunci utama Dolar secara keseluruhan saat ini adalah kebijakan Trump, walaupun sejumlah pihak memandang negatif akan dampaknya pada perekonomian, seperti pemotongan pajak." kata Shin Kadota, Ahli Forex di Barclays.

Kenaikan yield obligasi pemerintah AS menaikkan permintaan terhadap Dolar AS, tetapi prospek tingginya inflasi juga menjadi alasan bagi The Fed untuk dengan mudah menaikkan suku bunganya.


Simpulan

Terakhir, perlu diingat kembali bahwa semua pemaparan di atas masih spekulasi dan perlu wait-and-see untuk memastikan dampaknya. Trump belum mengeluarkan pernyataan resmi apapun terkait kebijakan "Trumponomics"-nya hingga saat artikel ini ditulis. Yang jelas, perubahan besar sangat mungkin terjadi pada tahum 2017 mendatang. Kita tunggu saja...



  Anda ingin mendapatkan info berita, artikel, analisa terbaru?
Silahkan daftar disini.

Editorial Forex


Daftar Newsletter

  Anda ingin mendapatkan info berita-berita terbaru, Silahkan daftar disini.