Mengapa Politik Lebih Diperhatikan Daripada Kebijakan Moneter

   By: N Sabila    View:854

Seputarforex.com - Peristiwa-peristiwa politik agaknya mengalihkan dunia para trader dan investor dalam setahun belakangan ini. Sebelumnya, kebijakan moneterlah yang mendapat sorotan paling tajam. Masih ingat kan kebijakan suku bunga negatif ECB dan BoJ? Betapa dampaknya mengguncang pasar saat itu.

bank-sentral

Jika disadari kembali, ada yang berbeda dengan pasar saat ini. Pelaku pasar sekarang memberikan perhatian yang lebih pada referendum Uni Eropa, kebijakan-kebijakan Donald Trump, pemilu di Uni Eropa, dan event-event berbau politik lainnya ketimbang kebijakan moneter bank sentral.

MENGAPA? Berikut ini alasan-alasan yang memungkinkan politik lebih diperhatikan daripada kebijakan moneter:

 

1. Kebijakan Bank Sentral Dianggap Sudah Mentok

Meski tidak semua, tapi sebagian besar bank sentral negara-negara maju masih berkutat pada kebijakan yang hasilnya masih dalam proses. Bank-Bank Sentral sudah berusaha keras melakukan yang terbaik untuk menstimulasi aktivitas ekonomi sejak masa krisis.

Pemotongan suku bunga, pembelian aset-aset bernilai tinggi, dan strukturisasi program perbankan demi menggenjot usaha-usaha kecil menengah dan belanja konsumen, semua sudah dilakoni.

Hampir satu dekade sudah berlalu. Meski neraca berjalan pemerintah sudah melebar, panggang masih jauh dari api. Tujuan belum sepenuhnya tercapai. Tak ayal, ekspektasi pertumbuhan diturunkan. Begitupula dengan ekspektasi inflasi. Dari sini, pelaku pasar hanya bisa menilik celah, apakah ada peluang pemberian stimulus tambahan dari pemerintah.

Bank sentral yang sedang dibicarakan ini adalah ECB, BoJ, BoE, RBA, dan RBNZ. Bukan rahasia lagi jika kebijakan moneter dan kebijakan fiskal harus saling mendukung. Namun, mengingat bank-bank sentral itu sudah sering memperingatkan bahwa kebijakan moneter ada batasnya, maka kini pasar tinggal menunggu bagaimana pemerintah setempat memainkan perannya dalam kebijakan fiskal.

 

2. Kenetralan Bank Sentral Sedang Diuji

Nyaris semua bank sentral di dunia tidak boleh dicampuri urusan politik. Bank sentral harus independen. Jika tidak, bisa-bisa para politisi yang haus dukungan akan menunggangi bank sentral untuk kepentingan pribadi mereka.

Namun sekarang, benteng independensi bank sentral mulai tergempur. Amerika Serikat, khususnya The Fed, adalah contoh paling nyata untuk kasus ini. Tekanan dari dua arah sangat keras, yakni dari pemerintah maupun pihak bank sentral sendiri. Garis batas antara kebijakan moneter dan fiskal seolah kian terkikis. Donald Trump sempat mengutarakan niatnya untuk menurunkan Janet Yellen dari kursi Ketua The Fed karena dugaan ketidaknetralan. Partai Republik yang mengusung Trump pun pasang mata lebih tajam dalam mengawasi The Fed.

Contoh lainnya adalah BoE. Mark Carney dan rekan-rekannya sempat memperingatkan bahaya Brexit bagi ekonomi Inggris. Akan tetapi, BoE tak bisa berbuat apa-apa terhadap hasil referendum. BoE hanya bisa menyiagakan program Quatitavie Easing (QE) lagi apabila dibutuhkan.

ECB juga bernasib hampir sama. Mario Draghi sedang dalam mode yang defensif menghadapi Jerman yang terus mendesaknya untuk mengakhiri program QE


3. Politik Mempengaruhi Faktor Penggerak Pasar

Price Action mata uang dipengaruhi juga oleh arus modal, neraca perdagangan, dan kepemimpinan. Lalu, apa yang mempengaruhi faktor-faktor itu? Tak lain dan tak bukan: politik.

Jika orang merasa yakin terhadap perekonomian suatu negara, maka mereka akan mengucurkan uangnya dalam bentuk investasi modal. Permintaan mata uang pun akan bertambah. Tetapi, jika mereka tak yakin, maka mereka akan enggan untuk menanamkan modal.

Hal yang sama berlaku pada arus perdagangan. Pembicaraan mengenai ide proteksionisme dan devaluasi mata uang sukses memengaruhi aktivitas perdagangan. Imbasnya adalah pada pertumbuhan ekonomi. Politik juga punya andil dalam pasar finansial. Rencana pajak Trump adalah contoh nyata. Wall Street menyambut gagasan itu dengan tangan terbuka dan membuat pasar modal seluruh dunia mengalami reli.


4. Investor Tidak Suka Ketidakpastian

Perubahan kepemimpinan bukanlah hal yang baru dalam dunia forex. Namun, meningkatnya isu-isu yang memicu ketidakpastian seperti kebijakan imigrasi dan seberapa cepat pemimpin baru melakukan eksekusi kebijakan mempengaruhi trader untuk mengambil keputusan.

politik-ekonomi
Bank sentral pun terpaksa menyesuaikan diri dengan keadaan ketidakpastian ini. Anggota FOMC, meski banyak yang hawkish, tetap tak bisa membaca arah kebijakan ekonomi Trump. BoE, tak hanya dipaksa untuk menanggalkan ke-hawkish-an-nya, tetapi juga harus kembali memperhitungkan kemungkinan program pembelian aset di tengah proses Brexit.


Kesimpulannya, isu politik boleh mengalihkan perhatian pasar saat ini. Namun bagaimanapun juga, kebijakan moneter dan kebijakan fiskal akan terus bersinggungan dan saling menyeimbangkan. Begitu presiden atau pemerintah suatu negara mengumumkan rencana mereka, maka bank sentral akan kembali duduk di belakang kemudi dan membuat headline kembali.



  Anda ingin mendapatkan info berita, artikel, analisa terbaru?
Silahkan daftar disini.

Editorial Forex


Daftar Newsletter

  Anda ingin mendapatkan info berita-berita terbaru, Silahkan daftar disini.