EUR/USD 1.070   |   USD/JPY 155.380   |   GBP/USD 1.246   |   AUD/USD 0.650   |   Gold 2,317.32/oz   |   Silver 27.31/oz   |   Wall Street 38,460.92   |   Nasdaq 15,712.75   |   IDX 7,148.30   |   Bitcoin 64,276.90   |   Ethereum 3,139.81   |   Litecoin 83.16   |   Nilai kontrak baru PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) mencatatkan pertumbuhan sekitar 20,10% secara tahunan menjadi Rp4.9 triliun pada kuartal I/2024, 2 jam lalu, #Saham Indonesia   |   PT Citra Borneo Utama Tbk. (CBUT) menetapkan pembagian dividen tahun buku 2023 sebesar Rp28.84 miliar, 2 jam lalu, #Saham Indonesia   |   Saham Meta Platforms Inc (NASDAQ: META) turun tajam sebesar 15.3% menjadi $417.83, mendekati level terendah dalam tiga bulan terakhir, 2 jam lalu, #Saham AS   |   S&P 500 turun 0.6% menjadi 5,075, sementara Nasdaq 100 turun 1.1% menjadi 17,460 pada pukul 19.49 ET (23.49 GMT). Dow Jones turun 0.2% menjadi 38,591, 2 jam lalu, #Saham AS

GIAA: Lion Air Kuasai Pasar Domestik, Garuda Nomor Dua

Penulis

Persaingan maskapai Indonesia semakin menggebu. Garuda Indonesia (kode saham GIAA) kalah di pasar domestik, meski masih nomor satu untuk destinasi luar negeri.

Persaingan maskapai Indonesia semakin menggebu. Menurut data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan tahun 2017 yang dirilis minggu lalu, penerbangan domestik dikuasai oleh Lion Air, sedangkan Garuda Indonesia (kode saham: GIAA) hanya mampu duduk di peringkat dua. Namun demikian, Garuda Indonesia menjuarai pangsa pasar penerbangan internasional, disusul oleh Air Asia (kode saham: CMPP).

 

Saham GIAA

 

Low Cost Carrier nampaknya lebih disukai oleh traveler dalam negeri, berkebalikan dengan traveler yang bepergian ke luar negeri. Di pasar domestik, persaingan maskapai Indonesia dimenangkan oleh Lion Air dengan pangsa pasar mencapai 34 persen, atau sejumlah 33,131,053 penumpang. Sedangkan Garuda Indonesia hanya mampu meraup 20 persen dengan 19,601,133 penumpang.

Meski demikian, Garuda Indonesia masih menjadi preferensi utama penumpang dengan destinasi luar negeri. Tercatat, Garuda Indonesia menguasai 39 persen pangsa pasar dengan 4,833,194 penumpang. Pada peringkat kedua, maskapai AirAsia dipilih oleh 3,273,758 penumpang, sehingga meraih pangsa pasar sebesar 26 persen.

Terlepas dari data ini, GIAA masih dibelit kemelut keuangan. Dalam tahun 2017, Garuda Indonesia mencatat kerugian bersih sebesar USD213.4 juta, anjlok dibanding laba USD9.4 juta yang diperoleh pada tahun 2016. Biang keroknya adalah kenaikan beban operasional sekitar 13.03% menjadi USD4.25 miliar akibat pembengkakan biaya bahan bakar seiring dengan kenaikan harga minyak dunia. Hingga akhir sesi perdagangan bursa minggu lalu, harga saham GIAA masih mangkrak di kisaran level terendah sepanjang masa pada Rp300 per lembar saham.

282880
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.