EUR/USD 1.068   |   USD/JPY 157.780   |   GBP/USD 1.249   |   AUD/USD 0.649   |   Gold 2,304.64/oz   |   Silver 26.73/oz   |   Wall Street 38,259.97   |   Nasdaq 15,657.82   |   IDX 7,234.20   |   Bitcoin 60,636.86   |   Ethereum 3,012.29   |   Litecoin 79.50   |   USD/CHF berada di atas level 0.9100, perhatian tertuju pada keputusan kebijakan The Fed, 1 hari, #Forex Teknikal   |   Pound Sterling Kesulitan menemukan arah menjelang keputusan the Fed, 1 hari, #Forex Fundamental   |   Fokus pada data Inflasi dan PDB zona Euro jelang peristiwa-peristiwa penting minggu ini, 1 hari, #Forex Fundamental   |   Penjualan ritel Jerman naik 0.3% YoY di bulan Maret versus -2.7% sebelumnya, 1 hari, #Forex Fundamental   |   PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat untuk melakukan divestasi atau pelepasan unit bisnis GoTo Logistics (GTL), 1 hari, #Saham Indonesia   |   PT Astra International Tbk. (ASII) mencatatkan penurunan pendapatan pada kuartal I/2024, turun 2.13% menjadi Rp81.2 triliun, 1 hari, #Saham Indonesia   |   Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) akan melaksanakan RUPS pada 3 Mei 2024 yang diperkirakan memutuskan alokasi dividen, 1 hari, #Saham Indonesia   |   S&P 500 stabil pada 5,144, sementara Nasdaq 100 mendatar di 17,908 pada pukul 19:09 ET (23:09 GMT). Dow Jones turun sedikit menjadi 38,543, 1 hari, #Saham AS

Trump Ingkari Kesepakatan Nuklir Iran, Harga Minyak Terbang

Penulis

Harga minyak mentah Brent dan WTI dibuka melambung pada sesi perdagangan awal pekan ini, akibat mencuatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Seputarforex.com - Harga minyak dibuka melambung pada sesi perdagangan awal pekan ini (16/Oktober), akibat mencuatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, penurunan jumlah oil drilling rigs di negeri Paman Sam pun turut mendukung kenaikan harga.

Trump Ingkari Kesepakatan Nuklir Iran Harga Minyak Terbang

Saat berita ditulis, harga minyak Brent naik 1.21% ke kisaran $57.85 per barel dari harga penutupan pekan lalu. Harga minyak WTI pun menanjak 0.92% ke sekitar $51.91 per barel dibanding penutupan hari Jumat. Pasalnya, para trader mengkhawatirkan kemungkinan diperbaruinya sanksi ekonomi atas Iran oleh Amerika Serikat.

 

Iran Terancam Kena Sanksi Lagi, AS Selisih Pendapat Dengan Eropa

Presiden Donald Trump menentang sekutunya dengan secara sepihak mementahkan kesepakatan nuklir Iran (JCPOA/Joint Comprehensive Plan of Action) yang tercapai pada tahun 2015 di bawah Presiden Obama dan ditandatangani bersama Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, China, dan Uni Eropa. Trump menolak mengakui pernyataan pemantau internasional bahwa Iran telah mentaati semua aturan dalam kesepakatan tersebut --yang merupakan prasyarat untuk dilanjutkannya pencabutan sanksi ekonomi atas Iran.

Trump menuduh Iran "tidak menunjukkan semangat" kesepakatan nuklir. Ia menilai Iran telah mengacaukan situasi di Syria, Yaman, dan Irak, serta menyatakan bahwa ia akan memastikan Teheran tak pernah mendapatkan senjata nuklir. Pernyataan-pernyataan tersebut dipuji oleh Israel, tetapi dikritisi oleh sekutu AS di Eropa.

Eropa memperingatkan akan pecah kongsi dengan AS dalam posisi mereka menyikapi kesepakatan nuklir Iran, serta bahwa Trump telah merendahkan kredibilitas AS di luar negeri. Apalagi karena pemantau internasional telah menyatakan Iran sepenuhnya mentaati aturan.

"Komitmen-komitmen terkait nuklir yang disetujui Iran di bawah JCPOA telah diimplementasikan," tegas Yukiya Amano, Direktur Jenderal IAEA (International Atomic Energy Agency).

Menanggapi penyataan Trump, Iran pun murka. Di televisi Iran pada hari Jumat, Presiden Hassan Rouhani menyatakan pihaknya berkomitmen tinggi pada kesepakatan tersebut, dan menuding Trump melontarkan tuduhan tanpa bukti. Katanya, "Negara Iran tidak pernah dan tidak akan tunduk pada tekanan asing manapun."

Berdasarkan perundangan AS, Presiden harus memberikan sertifikasi setiap 90 hari pada Kongres, bahwa Iran telah memenuhi kesepakatan. Karena Trump menolak memberikan sertifikasi tersebut, maka Kongres AS kini memiliki waktu hingga 60 hari ke depan untuk memutuskan apakah akan kembali menerapkan sanksi ekonomi atas negara yang beribukota di Teheran itu atau tidak.

 

Akan Mengusik Pasar Minyak

Sejumlah analis yang dikutip Reuters menyatakan bahwa mereka tak mengekspektasikan perbaruan sanksi atas Iran akan memberikan dampak besar, terutama karena AS saat ini bertindak sendirian. Namun demikian, langkah itu akan mengusik pasar minyak.

"Jika Iran ditemukan melanggar kesepakatan nuklir mereka dan persetujuan dagangnya dicabut, (maka) itu akan menjadi katalis terbesar untuk pergerakan naik harga minyak," ujar Shane Chanel dari ASR Wealth Advisers.

Di sisi lain, produksi minyak mentah di AS agaknya tersandung kembali, meski musim badai sudah berlalu. Jumlah oil drilling rigs dalam periode sepekan yang berakhir tanggal 13 Oktober, turun dari 748 ke 743. Ini merupakan angka terendah sejak awal Juni dalam histori laporan mingguan Baker Hughes.

280588
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Andri
Bagaimana seandai nya indonesia menahan eskport minyak. Dan kita timbun dinegri sendiri , klau perlu kita produksi sendiri tanpa membeli minyak siap pakai dari negara lain. Thanks..!