3 Alasan Mengapa Trump Kobarkan Perang Dagang

Presiden AS Donald Trump bersikeras menerapkan bea impor terhadap barang-barang China yang masuk ke negaranya, meski memicu risiko perang dagang. Berikut ini 3 alasannya.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Diresmikannya bea impor terhadap barang-barang China senilai $34 miliar oleh Amerika Serikat pada 6 Juli besok, menandakan bahwa perang dagang sudah di depan mata. Isu konflik dagang menjadi pusat perhatian pasar dalam beberapa bulan terakhir. Setelah sempat mereda karena adanya negosiasi AS-China, masalah ini kembali memanas di bulan ini. Alhasil, selain wacana kenaikan suku bunga Federal Reserve berikutnya, perang dagang turut menjadi faktor penggerak harga yang banyak disorot oleh para pelaku pasar.

 

trade-war

 

AS Terus Ingkari Kesepakatan

Berbagai perundingan dan negosiasi telah dilakukan oleh AS dan China sebelumnya. Namun, hasilnya seperti tarik ulur, terutama dari sisi Amerika Serikat. Kedua negara sempat sepakat untuk membatalkan segala proposal terkait bea impor di negara masing-masing selama hasil negosiasi belum menemukan benang merah. Sayangnya, pihak Trump kerap mengingkari perjanjian dengan berbagai alasan, yang intinya menunjukkan bahwa apa yang diterima negaranya tidak adil.

Potensi perang dagang pun naik lagi. Tak hanya menerapkan bea impor, AS juga terkesan selalu "mengipas" api perseteruan dengan menuduh China mencuri teknologinya, dan melakukan aktivitas mata-mata seperti pencurian IP.

China yang awalnya selalu menyambut baik segala bentuk perundingan lama-lama kehilangan kesabaran. Mengetahui bahwa bea impor terhadap produk-produknya akan disahkan pada hari Jumat, 6 Juli besok, Beijing berjanji akan membuat kebijakan balasan walaupun belum membeberkan rinciannya.

3 Alasan Mengapa Donald Trump Bersikeras Tetapkan Bea Impor

Presiden AS Donald Trump jalan terus tanpa menghiraukan peringatan dari negara-negara maju lainnya, juga dari sebagian pihak di dalam negeri, mengenai efek bumerang bea impor 25 persen yang akan diterapkannya pada produk-produk China.

China yang bersumpah akan membalas kebijakan tersebut, tampaknya masih ingin melihat dulu apa yang akan terjadi pada Jumat besok. Yang jelas, Kementerian Perdagangan dan petinggi-petinggi Beijing lainnya telah memperingatkan bahwa AS-lah yang lebih dulu menabuh genderang perang dagang dan dampaknya akan dirasakan oleh ekonomi AS sendiri.

 

Namun, mengapa Trump tak gentar mengobarkan perang dagang?

Dikutip dari MarketWatch, tulisan Bart Oosterveld (Direktur Atlantic Council Global Business and Economics Program) mengungkap ada 3 alasan yang kemungkinan melatarbelakangi aksi Donald Trump:

 

donald-trump-perang-dagang

 

  1. Pemerintahan sebelumnya mewariskan perekonomian yang mantap dengan risiko overheating. Ketika Trump dilantik di pada tahun 2017 lalu, ekonomi Amerika telah hampir memenuhi kondisi Full Employment. Sejak itu, penambahan lapangan kerja terus melaju hingga hampir 200,000 dalam satu bulan.

    Kondisi ini rupanya tak sepenuhnya baik. Ekonomi Amerika menghadapi risiko overheating dan inflasi. Karena itu, menciptakan kembali pengangguran melalui penerapan bea impor, yang dikombinasikan dengan kenaikan suku bunga secara bertahap oleh bank sentral (The Fed), akan menyediakan sedikit ruang untuk mencegah terjadinya overheating.

    Bisa dikatakan, penerapan bea impor oleh pemerintahan AS saat ini merupakan suatu cara untuk mengurangi konsumsi dan mengagregasi permintaan. Meski terkesan kasar, toh metode ini cukup untuk mengimbangi kenaikan pajak yang telah lebih dulu diteken.
  2. Bea impor dan langkah-langkah balasan dari negara lain tak akan banyak berpengaruh secara politik terhadap pemerintahan dalam negeri AS. Tarif balasan yang diterapkan oleh Uni Eropa, China, dan Kanada, dirancang sedemikian rupa untuk memberikan dampak yang signifikan kepada negara-negara bagian yang mendukung Trump dalam Pemilu 2016. Namun, implementasi kebijakan yang notabene perang dagang itu memiliki kelemahan: Mereka akan dilakukan secara bertahap.

    Selain itu, penyesuaian harga memerlukan banyak waktu, dan meningkatnya pengangguran akibat tarif balasan tak akan cukup berarti untuk memengaruhi prospek kandidat-kandidat Partai Republik dalam Pemilu Pertengahan di bulan November mendatang.

    Presiden Trump nantinya akan menggunakan kebijakan-kebijakan balasan tersebut sebagai pembenaran atas keputusannya. Ia seolah-olah ingin menunjukkan bahwa negara-negara lain, utamanya China, tak "sebaik" yang dikira. Menariknya lagi, banyak yang tidak menyadari bahwa saat ini Trump sedang menikmati approval rating tertinggi di partainya. Jika taktik Trump memang benar seperti yang dispekulasikan Bart Oosterveld dalam tulisannya, maka hal ini jelas menandakan keberhasilan rencana Trump.
  3. Dolar AS terus menguat. Dalam berbagai berita forex, Dolar AS masih didominasi gerakan bullish sejak pertengahan April lalu. Trump sengaja menungganginya agar Amerika Serikat dapat bertahan di tengah perang dagang. Dengan menguatnya Dolar, daya beli masyarakat dan perusahaan-perusahaan Amerika terhadap barang impor diharapkan dapat meningkat. Jadi meskipun tarif jadi diberlakukan terhadap sejumlah barang yang didatangkan dari negara lain, (diharapkan) efeknya tak akan berimbas pada masyarakat dan perusahaan.


284299

Sudah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik online dan content writer sejak tahun 2011. Mengenal dunia forex dan ekonomi untuk kemudian aktif sebagai jurnalis berita di Seputarforex.com sejak tahun 2013. Hingga kini masih aktif pula menulis di berbagai website di luar bidang forex serta sebagai penerjemah lepas.


Buge Satrio
Mungkin bisa ditambah satu lagi dan mudah2an cukup masuk akal...Meskipun pendapatan pemerintah federal AS dari bea impor saja barangkali tidak cukup, tapi setidak bisa menambal defisit anggaran akibat reformasi/pemangkasan pajak korporasi secara besar-besaran.