8 Alasan The Fed Sebaiknya Hentikan Rate Hike Di Tahun 2019

Menurut Jim Cramer, Ketua Federal Reserve kini telah mengantongi sejumlah alasan untuk menghentikan laju kenaikan suku bunga AS setelah bulan Desember mendatang.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Jim Cramer, seorang pembawa acara Mad Money CNBC yang sekaligus mantan hedge fund dan penulis buku investasi terlaris, menjelaskan bahwa menaikkan suku bunga di awal tahun depan justru berisiko menghambat pertumbuhan ekonomi AS. Menurut Cramer, ada 8 alasan bagi The Fed untuk menghentikan rencana kenaikan suku bunga (Rate Hike) tiga kali pada tahun 2019 mendatang:

  1. Runtuhnya saham-saham AS.
  2. Jebloknya harga minyak.
  3. Saham-saham ritel jatuh.
  4. Kondisi pasar perumahan "yang mengerikan".
  5. Menurunnya pendapatan hotel-hotel di AS.
  6. Dampak buruk kenaikan bea impor.
  7. Data perusahaan AS berbalik negatif.
  8. Melambatnya permintaan produk otomotif.

 

Risiko Perlambatan Inflasi

Aksi jual saham-saham FAANG sebagai raksasa sektor teknologi AS merupakan penyebab utama melemahnya pasar saham. Saham FAANG (Facebook, Amazon, Apple, Netflix, Google) jeblok akibat keraguan mengenai kondisi fundamental perusahaan. Menurut Cramer, aksi sell-off yang kembali melanda pasar saham pekan ini, sebetulnya telah lebih dari cukup bagi The Fed bertindak lebih dovish di tahun depan.

jim-cramer

"Sell-off (pasar saham) hari ini (Kamis lalu) memberikan alasan bagi Ketua The Fed Jerome Powell untuk menaikkan suku bunga sekali lagi pada bulan depan, dan kemudian menghentikannya sesaat," tutur Cramer.

Menurut Cramer, fenomena tersebut dapat dijadikan alasan paling sederhana bagi The Fed untuk memperlambat kenaikan Rate. Logikanya, apabila nilai investasi anjlok, maka orang-orang akan merasa lebih miskin. Dengan demikian, mereka tak akan mau banyak berbelanja atau menghabiskan uang.

Selain itu, jebloknya harga minyak bisa menjadi sinyal deflasi. The Fed tak dapat mengabaikan hal ini dalam mengambil kebijakan. Menurut Cramer, dalam beberapa waktu ke depan, data inflasi AS diprediksi menurun.

"Kesimpulannya? Tahun depan, ketika pemotongan pajak telah menginjak satu tahun, ketika kenaikan bea impor mencapai 25 persen, serta ketika PHK dari sektor ritel dan perumahan dimulai... sementara Powell tetap menaikkan Rate, yah, maka kita tak akan mau untuk memiliki banyak saham," kata Cramer.

286307

Sudah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik online dan content writer sejak tahun 2011. Mengenal dunia forex dan ekonomi untuk kemudian aktif sebagai jurnalis berita di Seputarforex.com sejak tahun 2013. Hingga kini masih aktif pula menulis di berbagai website di luar bidang forex serta sebagai penerjemah lepas.