Advertisement

iklan

AKRA: Gara-Gara Minyak, Pendapatan Merosot Hingga 25 Persen

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) hanya berhasil memperoleh pendapatan dari distribusi bahan bakar minyak (BBM) pada kuartal pertama tahun 2016 ini Rp 3.57 triliun, turun sebesar 25.62 persen bila dibandingkan dengan pendapatan pada periode yang sama dengan tahun lalu yang senilai Rp 4.8 triliun.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) hanya berhasil memperoleh pendapatan dari distribusi bahan bakar minyak (BBM) pada kuartal pertama tahun 2016 ini Rp 3.57 triliun, turun sebesar 25.62 persen bila dibandingkan dengan pendapatan pada periode yang sama dengan tahun lalu yang senilai Rp 4.8 triliun.

AKRA

Penurunan pendapatan yang cukup signifikan ini dipicu oleh harga minyak yang tidak pasti dan saat ini masih bergerak di level bawah. Oleh sebab itu, perdagangan dan distribusi BBM dalam negeri melandai ke level harga Rp 3.24 triliun, turun sebesar 24.29 persen.

Selain itu, laba bersih AKRA pada kuartal I tahun ini menurun 18.95 persen menjadi Rp 255.19 miliar dari sebelumnya sebesar Rp 314.86 miliar. Penurunan laba bersih masih lebih rendah daripada penurunan pendapatan karena laba kotor AKRA naik tipis sebesar 12.39 pers karena didorong oleh keuntungan selisih kurs yang mencapai Rp 50.80 miliar. Pasalnya pada periode yang sama tahun lalu, AKRA hanya memperoleh laba kotor sebesar 12.16 persen karena adanya rugi selisih kurs sebesar Rp 8.25 miliar.

Adanya penurunan harga BBM yang terjadi saat ini, sangat berimbas terhadap kinerja PT AKR Corporindo sebagai emiten distributor BBM di Indonesia dan secara otomatis penurunan dan fluktuasi harga minyak dunia juga mempengaruhi perolehan pendapatan AKRA.

Oleh karena hal tersebut, AKRA telah berupaya untuk melakukan ekspansi bisnisnya di bidang properti agar mampu meningkatkan kinerja dan memperoleh kenaikan laba yang signifikan. Saat ini, AKRA sudah mengantongi proyek pembangunan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE). Proyek ini merupakan sebuah proyek kawasan industri terpadu yang memerlukan dana investasi sebesar Rp 2.7 triliun dan sekarang ini masih masuk dalam fase pengembangan.

263567

Pernah menempuh pendidikan di Fakultas Sastra, jurusan Sastra Inggris konsentrasi Linguistik, Unversitas Negeri Malang. Menyukai bidang kepenulisan dan dunia penerjemahan ekonomi dan bisnis sejak tahun 2013 silam. Saat ini menjadi jurnalis di Seputarforex yang bertanggung jawab untuk menulis berita emas dunia, forex, dan saham.