Menu

Minyak Hadapi Risiko Dari Volatilitas Pasar China

Aisha

Pasar minyak saat ini tengah menghadapi banyak risiko. Namun demikian, ada satu yang luput dari perhatian pasar, yaitu kemungkinan retaknya perekonomian China yang merupakan negara importir minyak terbesar dunia.

Pasar minyak saat ini tengah menghadapi banyak risiko, diantaranya persediaan minyak yang besar di Amerika Serikat dan Eropa, produksi minyak shale AS yang masih pesat dan meningkatnya output produksi OPEC, perundingan nuklir Iran, juga gejolak di Yunani. Namun demikian, menurut Nick Cunningham dari OilPrice.com, ada satu yang luput dari perhatian pasar, yaitu kemungkinan retaknya perekonomian China yang merupakan negara importir minyak terbesar dunia.

 

 

Laju Pertumbuhan GDP Melambat

Mesin pertumbuhan ekonomi China telah mendingin dalam beberapa tahun terakhir, dengan GDP tahun 2014 tercatat sebagai laju pertumbuhan terlambat negeri tersebut dalam seperempat abad terakhir. Itu sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, karena negara ekonomi terbesar kedua dunia itu tentu tak mampu mempertahankan laju pertumbuhan super cepatnya.


Namun demikian, sinyal-sinyal bahaya sudah mulai bermunculan. Salah satunya adalah melejitnya pasar saham China secara abnormal dalam setahun terakhir, yang makin lama makin mirip dengan "bubble". Indeks Gabungan Shanghai yang meliputi semua saham yang diperdagangkan di bursa Shanghai, telah melonjak 40% dalam tahun ini; sedangkan indeks Gabungan Shenzen melompat 90% dalam periode yang sama.


Bubble itu bisa jadi akan pecah. Indeks Gabungan Shanghai telah merosot terus dalam dua pekan terakhir, sekitar 25%. Ketakutan kalau bubble akan pecah pun meluas. Sejak tanggal 12 Juni, kedua bursa utama China itu telah menyaksikan hangusnya kapitalisasi pasar sebesar 2 triliun Dolar AS. Pemerintah telah turun tangan dengan memangkas suku bunga, mengizinkan dana pensiun negara untuk berinvestasi di saham sehingga ada sekitar 100 milyar USD dana mengalir ke bursa. Hal itu nampaknya berhasil menenangkan pasar hingga pada 30 Juni ditutup dengan kenaikan nyaris 5%.


Meski begitu, pasar saham China mendadak diterpa volatilitas yang tidak biasa. Volume trading bulanan mencapai 6 kali lipat lebih besar dari nilai market cap China yang sebesar 10 triliun Dolar. Aksi jual kemungkinan belum selesai, dan volatilitas bisa jadi berlanjut seiring dengan bursa yang melejit lepas dari perlambatan ekonomi China.

Apa yang akan terjadi selanjutnya masih belum jelas. Namun bila China ternyata mengalami benturan keras, maka akan ada konsekuensi negatif bagi pasar komoditas energi global. Retakan yang sudah nampak ini bisa membesar hingga mengantar pada permintaan minyak dan gas yang lebih rendah lagi dan mengakibatkan jatuhnya harga.

 

Permintaan Energi Berkurang

Sinyal bahaya dari volatilitas pasar saham China tersebar setelah timbulnya pertanda kurang baik dalam data permintaan energi negeri Tirai Bambu itu. Sebuah laporan baru dari pemerintah Australia memunculkan kekhawatiran akan rendahnya permintaan China akan LNG (Liquefied Natural Gas/Gas Alam). Menurut laporan itu, konsumsi LNG China sebelumnya diharapkan naik lebih dari 50% antara tahun 2014-2016, tetapi risiko penurunan nampak berkembang.


Risiko penurunan permintaan China akan LNG Australia bisa jadi ada hubungannya dengan peningkatan kapasitas pipa dari Asia Tengah serta kemajuan energi terbarukan. Namun diketahui bahwa perlambatan ekonomi juga turut berkontribusi disini. Untuk pertama kalinya sejak 2006, di kuartal pertama 2015 China mengimpor lebih sedikit LNG secara year-on-year.


Bahkan impor minyak China pun kelihatannya sudah goyah sejak sebelum gejolak pasar merebak. Pada bulan April, impor minyak China mencapai rekor tertinggi, tetapi pada bulan Mei anjlok 11% dibanding setahun yang lalu. Lebih dari itu, impor minyak China sebelumnya bisa jadi karena pemerintah sedang menimbun persediaan minyak. Begitu mereka berhenti menimbun, maka permintaan terhadap minyak akan menyusut.


Fundamental jangka panjang China sebenarnya menarik, dan permintaan migas-nya kemungkinan akan terus meningkat dalam tahun-tahun mendatang. Bahkan dalam jangka pendek, pemerintah China bisa saja berupaya menambal perekonomian yang berantakan. Beijing telah menunjukkan keinginan untuk secara aktif mengintervensi dan meluncurkan stimulus lebih lanjut guna mengerem kemerosotan. Namun, gejolak yang tengah berlangsung di pasar China kini menghadirkan risiko signifikan bagi harga komoditas energi global, termasuk harga minyak.



Diadaptasi dari artikel "Oil Faces Steep Downside From China's Stock Market" oleh Nick Cunningham di Oilprice.com.






KONTAK KAMI PASANG IKLAN BROKER BELAJAR ANALISA ARTIKEL TERM OF USE