18-19 September 2019: FOMC, CPI Inggris Dan Kanada, GDP New Zealand

290124

Data berdampak hari ini adalah CPI Inggris dan Kanada, PPI Inggris, Building Permits, dan persediaan minyak AS. Besok ada FOMC meeting dan GDP Selandia Baru.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Rabu, 18 September 2019:

CPI adalah pengukur utama tingkat inflasi yang selalu diperhatikan bank sentral sebagai pertimbangan pokok dalam menentukan suku bunga. Ada 2 rilis yang diperhatikan, yaitu CPI inti (Core CPI) dan CPI total. CPI inti tidak memperhitungkan kategori makanan, minuman, dan energi (bahan bakar minyak serta gas). Data yang dirilis masing-masing berupa persentase perbandingan dengan bulan sebelumnya atau month over month (m/m), dan persentase perbandingan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya atau year over year (y/y).

Dari semua jenis data tersebut, yang paling berdampak adalah CPI total y/y (inflasi tahunan) karena digunakan sebagai acuan oleh BoE. CPI dirilis bersamaan dengan data Producer Price Index (PPI) dan Retail Price Index (RPI) yang hanya mengukur barang-barang konsumsi utama serta biaya sewa tempat tinggal (y/y). Meski demikian, kedua rilis laporan tersebut tidak terlalu disorot karena dampak CPI jauh lebih tinggi.

18-19 September 2019: FOMC, CPI Inggris

Bulan Juli lalu, inflasi tahunan Inggris naik 2.1%, lebih tinggi dari perkiraan naik 1.9%, dan menjadi yang tertinggi dalam 3 bulan terakhir. Sementara untuk basis bulanan (m/m), inflasi stagnan atau 0.0%, lebih baik dari perkiraan turun 0.1%, tetapi merupakan yang terendah dalam 7 bulan terakhir. Naiknya inflasi tahunan bulan Juli disebabkan oleh meningkatnya biaya rekreasi, tarif hotel dan restoran, harga pakaian, biaya transportasi, harga makanan, serta bahan bakar. Sementara itu, CPI inti bulan Juli 2019 y/y naik 1.9%, lebih tinggi dari perkiraannaik 1.8%, dan menjadi yang tertinggi sejak bulan Januari lalu.

Untuk bulan Juli 2019, diperkirakan CPI total y/y akan naik 1.8%, m/m akan naik 0.5%, dan CPI inti y/y akan naik 1.8%. Hasil rilis yang lebih tinggi dari perkiraan akan cenderung menyebabkan GBP menguat.

 

Indikator ini mengukur perubahan harga di tingkat produsen dan akan mempengaruhi tingkat inflasi di Inggris. Bulan Juli lalu, PPI m/m Inggris naik 0.9%, lebih tinggi dari perkiraan naik 0.6%, dan merupakan yang tertinggi dalam 3 bulan terakhir. Sementara untuk y/y, PPI Inggris naik 1.8%, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang naik 1.6%.

Untuk bulan Agustus 2019, diperkirakan PPI input m/m akan turun 0.4% (atau -0.4%), sedangkan data y/y diperkirakan naik 1.7%. Hasil rilis yang lebih tinggi dari perkiraan akan cenderung mendukung penguatan GBP.

 

  • Jam 19:30 WIB: data CPI Kanada bulan Agustus 2019 (Berdampak tinggi pada CAD).

Indikator yang mengukur tingkat inflasi ini dirilis oleh Biro Statistik Kanada. CPI total dan CPI inti (Core CPI atau Bank of Canada Core CPI) yang  tidak memperhitungkan harga makanan dan energi dirilis secara bersamaan. Data yang dirilis masing-masing berupa persentase perbandingan dengan bulan sebelumnya atau month over month (m/m), dan persentase perbandingan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya atau year over year (y/y). Baik CPI inti maupun CPI total (m/m dan y/y) sama-sama berdampak tinggi.

18-19 September 2019: FOMC, CPI Inggris

Bulan Juli lalu, CPI total y/y +2.0%, lebih tinggi dari perkiraan +1.7% dan sama dengan bulan sebelumnya (terendah dalam 3 bulan). Sementara untuk basis m/m, inflasi Kanada naik 0.5%, lebih tinggi dari perkiraan naik 0.1%, dan menjadi yang tertinggi dalam 4 bulan terakhir. Kenaikan inflasi tahunan bulan Juli disebabkan oleh meningkatnya biaya transportasi, biaya sewa tempat tinggal, harga makanan, dan biaya pendidikan.

CPI inti bulan Juli y/y +2.0%, lebih rendah dari perkiraan +2.3% dan sama dengan bulan sebelumnya (terendah dalam 3 bulan). Sementara untuk data m/m naik 0.3%, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang stagnan atau 0.0%.

Untuk bulan Agustus 2019, diperkirakan CPI total akan kembali naik 2.0%, CPI inti y/y akan naik 2.2%, sementara CPI total m/m akan turun 0.2% (atau -0.2%). Hasil rilis yang lebih tinggi dari perkiraan akan cenderung menyebabkan CAD menguat.

 

Jumlah izin pembangunan rumah (Building Permits) adalah indikator awal bagi aktivitas pekerjaan konstruksi. Kontraktor perumahan harus memperoleh izin terlebih dahulu sebelum mulai membangun. Meningkatnya Building Permits menunjukkan naiknya investasi dan optimisme pelaku bisnis perumahan. Karena itu, indikator ini sering digunakan untuk memprediksi penjualan perumahan (New Home Sales) yang akan mempengaruhi tingkat inflasi.

Bulan Juli lalu, jumlah izin pembangunan rumah di AS mencapai 1.32 juta, naik 8.4% dari bulan sebelumnya, lebih tinggi dari perkiraan yang 1.27 juta, dan merupakan yang tertinggi dalam 7 bulan terakhir.

18-19 September 2019: FOMC, CPI Inggris

Sementara itu, Housing Starts yang merupakan indikator awal bagi pasar perumahan baru mencapai 1.19 juta unit di bulan Juli, turun 4.0% dari bulan sebelumnya, lebih rendah dari perkiraan 1.26 juta unit, dan merupakan yang terendah dalam 5 bulan terakhir. Penurunan tersebut disebabkan oleh merosotnya pembangunan rumah di bagian selatan, timur laut, dan Midwest.

Untuk bulan Agustus 2019, diperkirakan Building Permits akan mencapai 1.31 juta dan Housing Starts akan mencapai 1.25 juta unit. Hasil rilis yang lebih tinggi dari perkiraan akan cenderung mendukung penguatan USD.

 

  • Jam 21:30 WIB: data persediaan minyak untuk industri di AS per 13 September 2019 (Berdampak medium-tinggi pada WTI/USD dan CAD).

Data ini dirilis tiap minggu oleh Energy Information Administration (EIA) AS, dan disebut juga dengan Crude Stocks atau Crude Levels yang mengukur perubahan jumlah persediaan minyak mentah (dalam satuan barel) untuk industri di AS.

Meski indikator ini dirilis oleh AS, tapi bisa berdampak juga pada CAD, mengingat impor sebagian minyak mentah AS berasal dari Kanada. Indikator ini juga akan mempengaruhi harga minyak di AS dan akan berdampak pada tingkat inflasi.

18-19 September 2019: FOMC, CPI Inggris

Minggu lalu, persediaan minyak untuk industri berkurang 6.91 juta barel, lebih rendah dari perkiraan berkurang 2.70 juta barel, dan lebih rendah dari minggu sebelumnya yang berkurang 4.77 juta barel. Untuk minggu ini, diperkirakan akan berkurang 2.10 juta barel.

Jika persediaan minyak di AS lebih tinggi dari perkiraan, maka harga WTI/USD akan cenderung melemah karena diasumsikan permintaan akan berkurang. Sebaliknya jika lebih rendah dari perkiraan, maka harga WTI/USD akan cenderung menguat karena diasumsikan permintaan akan meningkat.

Namun demikian, persediaan minyak di AS hanya salah satu faktor yang menggerakkan harga minyak dunia. Yang paling berdampak adalah kebijakan negara-negara penghasil minyak mengenai kuota produksi, pernyataan pejabat negara penghasil minyak, dan situasi politik di Timur Tengah. Rilis data persediaan minyak di AS tidak bisa dipastikan akan selalu mempengaruhi harga minyak dunia. Baca juga: Iran Siap Perang Dengan AS, Harga Minyak Meroket 10 Persen

 

Kamis, 19 September 2019:

  • Jam 01:00 WIB: hasil meeting FOMC:

1.Statement FOMC dan pengumuman suku bunga The Fed bulan September 2019 (Berdampak tinggi pada USD).

FOMC memberikan Statement mengenai kebijakan moneter rata-rata 8 kali dalam setahun, bersamaan dengan pengumuman suku bunga. Penentuan suku bunga dilakukan dengan cara voting, dan hasil voting secara individu serta komentar-komentarnya dimuat dalam Statement FOMC yang dirilis seusai meeting. Selain suku bunga, Statement juga berisi mengenai kebijakan lainnya dan perkiraan kondisi ekonomi di waktu mendatang yang bisa mempengaruhi kebijakan bank sentral.

18-19 September 2019: FOMC, CPI Inggris

Pada meeting terakhir 31 Juli - 1 Agustus lalu, The Fed memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 0.25% ke level +2.00% hingga +2.25%, sesuai dengan perkiraan pasar. Pemotongan suku bunga ini adalah yang pertama kali sejak krisis finansial tahun 2008 lalu. Meski demikian, keputusan tersebut tidak diambil dengan suara bulat. Ada dua anggota FOMC yang menentang, yaitu Presiden Fed Boston Eric Rosengren dan Presiden Fed Kansas City Esther George. Keduanya memberi usulan untuk mempertahankan suku bunga pada level +2.25% hingga +2.50.

Dalam konferensi pers usai pertemuan FOMC bulan lalu, Powell bernada hawkish dengan mengatakan bahwa pemotongan suku bunga kali ini bukan awal dari siklus pelonggaran moneter yang berkelanjutan, jadi tidak berarti akan ada pemotongan suku bunga berikutnya. Menurutnya, rate cut ini dimaksudkan untuk mengantisipasi risiko akibat penurunan pertumbuhan ekonomi global dan ketegangan perdagangan. Seperti diketahui, tindakan The Fed dan pernyataan Powell tersebut tidak memuaskan Presiden Trump yang kecewa, karena dia menginginkan pemangkasan suku bunga yang lebih besar.

Pada simposium ekonomi di Jackson Hole beberapa waktu setelah FOMC meeting, ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral AS bertindak untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, agar pasar tenaga kerja tetap kuat dan inflasi mendekati target 2%. Powell mencatat bahwa kinerja perekonomian AS masih baik, tapi ada risiko dari sengketa dagang dan perlambatan ekonomi global (terutama) di China dan Eropa.

Dengan demikian, maksud pemangkasan suku bunga kali ini berbeda dengan saat krisis tahun 2008 yang ditujukan untuk menyelamatkan perekonomian AS karena sedang slow down. Rate cut Juli lalu adalah sebagai upaya pencegahan untuk melindungi ekonomi AS dari perlambatan pertumbuhan global, dan ketidakpastian perang dagang yang dilakukan oleh Presiden Trump.

Data ekonomi terakhir menunjukkan, inflasi bulan Agustus y/y turun ke +1.7%. Sementara itu, data GDP kuartal kedua tahun ini (second estimate) turun ke +2.0%, lebih rendah dari kuartal pertama yang +3.1%. Namun, tingkat pengangguran tetap 3.7%, dan pasar tenaga kerja dianggap masih cukup kuat.

Dengan masih adanya isu perlambatan ekonomi global yang berpotensi menyebabkan resesi dan perang dagang yang belum berakhir, maka untuk meeting bulan September ini yang juga diikuti dengan rilis proyeksi ekonomi, diperkirakan The Fed akan kembali menurunkan suku bunga sebesar 0.25% menjadi +1.75% hingga +2.00%.

Kemungkinan pemotongan suku bunga ini telah diperhitungkan pasar. Oleh karenanya, fokus perhatian akan lebih tertuju pada isi Statement yang akan dirilis seusai meeting dan isi konferensi pers Jerome Powell. Jika Statement dianggap hawkish, maka USD akan menguat. Sebaliknya jika dianggap dovish, USD akan melemah. Statement meeting hari ini bisa dibaca di sini.


2. Proyeksi ekonomi AS (Berdampak tinggi pada USD).

Laporan ini meliputi proyeksi FOMC untuk inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan tingkat pengangguran untuk dua tahun mendatang. Dirilis empat kali dalam setahun, proyeksi ekonomi AS terakhir diluncurkan tanggal 20 Juni lalu. Dalam rilis tersebut, The Fed merevisi turun estimasi PCE inflation tahun ini dari +1.8% ke +1.5%, dan tahun depan dari +2.0% ke +1.9%. Tingkat pengangguran tahun ini diproyeksikan 3.6%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang 3.7%. Sementara untuk tahun depan, tingkat pengangguran diestimasi naik ke 3.7%. Untuk GDP tahun ini, proyeksi tetap +2.1%, sementara tahun depan +2.0%. Proyeksi suku bunga (dot plot) masih sama dengan proyeksi dalam dot plot bulan Maret. Median target untuk tahun ini tetap sekitar 2.4%.

Proyeksi suku bunga pada meeting hari ini akan menjadi fokus perhatian pelaku pasar. Sejauh ini, beredar spekulasi The Fed akan memangkas suku bunga lebih dari sekali lagi dalam tahun ini. Jika frekuensi pemotongan suku bunga lebih besar, kemungkinan USD akan melemah. Proyeksi ekonomi pada meeting terakhir bisa dibaca di sini, dan untuk meeting hari ini bisa diunduh di sini.

 

  • Jam 01:30 WIB: konferensi pers FOMC yang dihadiri ketua The Fed Jerome Powell (Berdampak tinggi pada USD).

18-19 September 2019: FOMC, CPI Inggris

Perhatian pelaku pasar akan tertuju pada keterangan Powell mengenai prospek pemotongan suku bunga pada waktu yang akan datang. Jika pernyataan dan komentar Powell dianggap hawkish, maka USD akan menguat, sedangkan jika dianggap dovish, USD akan cenderung melemah. Konferensi pers Jerome Powell bisa dipantau di sini.

 

GDP menyatakan nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam periode waktu tertentu, dan dinyatakan dalam persentase perubahan dibandingkan periode sebelumnya. Tidak seperti negara-negara mata uang utama lainnya yang merilis data GDP per kuartal 3 kali (Preliminary, Second Release, dan Final), Selandia Baru hanya merilis sekali per kuartal pada sekitar 80 hari setelah berakhirnya kuartal tersebut.

18-19 September 2019: FOMC, CPI Inggris

Kuartal pertama lalu, GDP Selandia Baru tumbuh 0.6%, sesuai dengan perkiraan dan sama dengan kuartal sebelumnya (tertinggi sejak kuartal kedua tahun 2018). Kenaikan GDP kuartal pertama tersebut disebabkan oleh sektor konstruksi, manufaktur, dan jasa. Untuk kuartal kedua tahun 2019, diperkirakan GDP akan tumbuh 0.4%. Hasil rilis yang lebih tinggi dari perkiraan akan cenderung menyebabkan NZD menguat.

 

Keterangan: Update kabar terakhir terkait indikator fundamental bisa diperoleh di Berita Forex Seputarforex.

Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Pair Rate    
AUD/JPY 74.19 74.19 67
AUD/USD 0.6825 0.6825 65
EUR/CHF 1.0998 1.0998 -18
EUR/USD 1.1116 1.1116 43
GBP/JPY 139.23 139.23 -29
GBP/USD 1.2807 1.2807 -21
NZD/USD 0.6330 0.6330 39
USD/CAD 1.3175 1.3175 -25
USD/CHF 0.9894 0.9894 -55
USD/JPY 108.71 108.71 -5
17 Oct 19:10