Advertisement

iklan

19 Desember 2019: BoE Dan BoJ Meeting, Philly Fed AS, Employment Australia

Data dan peristiwa berdampak hari ini: Statement BoE dan BoJ, konferensi pers BoJ, notulen meeting BoE, indeks Philly Fed AS, Retail Sales Inggris, dan tenaga kerja Australia.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Kamis, 19 Desember 2019:

Employment Change mengukur perubahan jumlah tenaga kerja di Australia dibandingkan bulan sebelumnya. Jumlah tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh lapangan pekerjaan yang tersedia, dan merupakan indikator awal bagi pengeluaran konsumen yang menunjukkan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Data ini dirilis bersamaan dengan persentase perubahan tingkat pengangguran dibandingkan bulan sebelumnya. Angka pengangguran selalu diperhatikan oleh RBA guna menentukan target pertumbuhan dan kebijakan perubahan tingkat suku bunga. 

19 Desember 2019: BoE Dan BoJ Meeting,

Bulan Oktober lalu, jumlah tenaga kerja di Australia berkurang 19,000 orang, jauh lebih rendah dari perkiraan bertambah 16,200 orang, dan menjadi yang terendah sejak bulan Mei 2018. Sementara itu, tingkat pengangguran bulan Oktober adalah +5.3%, lebih tinggi dari perkiraan dan bulan sebelumnya yang +5.2%. Tingkat partisipasi bulan Oktober 2019 berada pada angka 66.0%, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang 66.1%.

Untuk bulan November 2019, diperkirakan tenaga kerja akan bertambah 14,500 orang, dan tingkat pengangguran akan tetap +5.3%. Hasil rilis data pertambahan tenaga kerja yang lebih tinggi dari perkiraan dan tingkat pengangguran yang lebih rendah dari perkiraan akan cenderung menyebabkan AUD menguat.

 

  • Waktu tentative: hasil meeting BoJ: pengumuman suku bunga bulan Desember 2019 dan Statement kebijakan moneter BoJ (Berdampak tinggi pada JPY).

Suku bunga diumumkan bersamaan dengan Statement kebijakan moneter (Monetary Policy Statement) rata-rata 14 kali dalam setahun. Disamping suku bunga, Statement juga berisi perkiraan kondisi ekonomi Jepang untuk waktu mendatang.

19 Desember 2019: BoE Dan BoJ Meeting,

Bulan Januari 2016 lalu, BoJ memotong suku bunganya menjadi negatif dari 0.0% ke -0.1%, penurunan pertama sejak tahun 2010 dan merupakan rekor suku bunga terendah. Tujuan pemotongan tersebut untuk meningkatkan pertumbuhan dan menaikkan inflasi. Bulan September 2016, BoJ mengumumkan kebijakan yield curve control, lalu menaikkan besaran stimulus dengan menambah pembelian bond pemerintah pada bulan Juli 2017. Karena laju inflasi belum juga naik, pada saat itu BoJ juga memutuskan untuk mengundurkan batas pencapaian target inflasi 2.0%, dari yang tadinya hingga tahun 2018 menjadi hingga tahun 2019.

Namun di bulan Januari 2018 lalu, BoJ secara di luar dugaan mengurangi pembelian obligasi pemerintah untuk jangka panjang. Pada meeting terakhir 31 Oktober lalu, BoJ mempertahankan suku bunga acuan pada level -0.1%, dan target yield bond pemerintah untuk jangka waktu 10 tahun pada 0.0%. Statement menyebutkan bahwa bank sentral tidak menutup kemungkinan untuk memangkas suku bunga di waktu mendatang, guna mendukung pertumbuhan.

Data terakhir menunjukkan bahwa inflasi bulan Oktober y/y stagnan pada +0.2%, terendah sejak bulan Februari lalu, dan masih jauh di bawah target 2.0%. Sementara itu, GDP kuartal ketiga 2019 tumbuh 0.2%, terendah dalam setahun terakhir. Pasar memperkirakan jika BoJ masih akan mempertahankan suku bunga sebesar -0.1% pada bulan Desember 2019 ini. Statement kebijakan moneter BoJ bisa dibaca di sini.

 

  • Waktu tentative: konferensi pers BoJ yang dihadiri gubernur Haruhiko Kuroda (Berdampak tinggi pada JPY).

Kuroda akan menjelaskan kebijakan moneter yang baru jika terjadi perubahan terhadap suku bunga, stimulus atau kebijakan lainnya, termasuk juga jika terjadi perubahan proyeksi ekonomi. Isi konferensi pers bisa dibaca di sini.

 

  • Jam 16:30 WIB: data Retail Sales Inggris bulan November 2019 (Berdampak tinggi pada GBP).

Retail Sales adalah salah satu indikator penting yang bisa menggerakkan mata uang GBP. Di Inggris, indikator ini disebut juga dengan Sales Volume atau All Retailers Sales. Ada 2 jenis rilis yang diperhatikan, yakni Retail Sales total dan Retail Sales inti yang tidak termasuk otomotif dan bahan bakar. Masing-masing data dirilis dalam versi month over month (m/m) dan year over year (y/y). Data m/m adalah persentase perubahan dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sementara y/y merupakan persentase yang dibandingkan dengan bulan sama pada tahun sebelumnya.

Penjualan ritel adalah indikator awal untuk pengeluaran konsumen, dan karena itu akan berdampak pada pertumbuhan serta tingkat inflasi. Di Inggris, yang berdampak tinggi adalah Retail Sales total baik m/m maupun y/y.

19 Desember 2019: BoE Dan BoJ Meeting,

Penjualan ritel total Inggris bulan Oktober lalu turun 0.1% (atau -0.1%), lebih rendah dari perkiraan naik 0.2%, dan lebih rendah dari bulan sebelumnya yang stagnan atau 0.0%. Sementara untuk basis tahunan (y/y), penjualan ritel naik 3.1% pada bulan Oktober, sama dengan bulan sebelumnya, dan menjadi yang tertinggi dalam 3 bulan. Penurunan terbesar terjadi pada penjualan toko peralatan rumah, tekstil, pakaian, dan makanan.

Untuk bulan November 2019, diperkirakan Retail Sales total m/m akan naik 0.3%, dan y/y akan naik 2.1%. Hasil rilis yang lebih tinggi dari perkiraan akan cenderung menyebabkan GBP menguat.

 

  • Jam 19:00 WIB: hasil meeting BoE (Berdampak tinggi pada GBP):

1. Data Asset Purchase Facility BoE bulan Desember 2019:

Asset Purchase Facility BoE  adalah target pembelian asset oleh BoE. Data ini berkaitan dengan program Quantitative Easing dari BoE, yaitu jumlah dana total yang akan digunakan oleh BoE untuk membeli asset-asset di pasar terbuka. Pada meeting terakhir 7 November lalu, dana untuk pembelian asset ditetapkan sebesar £435 miliar, sesuai dengan perkiraan dan sama dengan bulan sebelumnya.

Untuk bulan Desember 2019, data ini diperkirakan akan tetap sebesar £435 miliar. Jika jumlah dana untuk pembelian asset dikurangi (lebih kecil dari sebelumnya), maka GBP akan cenderung menguat.

 

2. Pengumuman suku bunga dan ringkasan kebijakan moneter BoE bulan Desember 2019:

Penentuan suku bunga dilakukan dengan cara voting diantara para anggota Monetary Policy Committee (MPC). Pada meeting 2 Agustus 2018, BoE menaikkan suku bunga acuan sebesar 0.25% ke level +0.75%. Kenaikan ini adalah yang kedua kali dalam 10 tahun terakhir, dan menjadi suku bunga tertinggi sejak bulan Maret 2009.

19 Desember 2019: BoE Dan BoJ Meeting,

Pada meeting terakhir 7 November lalu, BoE mempertahankan suku bunga pada +0.75%, sesuai dengan perkiraan pasar. Namun, keputusan tersebut tidak diambil dengan suara bulat karena ada 2 anggota MPC yang memilih opsi menurunkan suku bunga. Sementara itu, 7 anggota lainnya memilih untuk mempertahankan suku bunga pada level +0.75%.

Statement menyebutkan bahwa kebijakan moneter di waktu mendatang akan tergantung pada outlook ekonomi dan pencapaian target inflasi 2%. Proses Brexit yang tengah berlangsung dan pertumbuhan global akan tetap menjadi pertimbangan utama dalam menetapkan suku bunga.

Pada proyeksi ekonomi, bank sentral menurunkan estimasi GDP untuk tahun ini menjadi 1.0%, sementara proyeksi untuk tahun depan ada di level 1.6%. Dari hasil stress test terbaru pada bank-bank di Inggris, sebagian besar bank dinilai masih mampu menahan goncangan yang timbul akibat kemungkinan terjadinya resesi dan krisis finansial.

Data terakhir menunjukkan, inflasi tahunan bulan November stagnan pada +1.5%, terendah sejak bulan November 2016. GDP kuartal ketiga 2019 naik ke 0.3% q/q, dan tingkat pengangguran bulan Oktober +3.8%, sama dengan bulan sebelumnya.

Dari data-data terbaru dan dengan proses Brexit yang belum mencapai kesepakatan, maka BoE masih diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level +0.75% pada bulan Desember 2019. Jika BoE menurunkan suku bunga, maka GBP akan melemah. Statement meeting hari ini bisa dibaca di sini.

 

  • Jam 19:00 WIB: notulen meeting BoE hari ini (19 Desember 2019) (Berdampak tinggi pada GBP).

Selain penetapan suku bunga dan pembelian asset, rapat MPC juga dimaksudkan untuk memperoleh gambaran dalam menetapkan suku bunga berikutnya. Notulen meeting antara lain berupa hasil voting untuk target pembelian asset dan penentuan suku bunga.

Laporan ini dirilis dengan format: X1-X2-X3, dimana X1 menunjukkan jumlah anggota yang setuju kenaikan pembelian asset atau kenaikan suku bunga, X2 adalah jumlah anggota yang setuju penurunan pembelian asset atau penurunan suku bunga, dan X3 merupakan jumlah anggota yang tidak ingin ada perubahan.

Pada meeting terakhir 7 November lalu, hasil voting untuk suku bunga adalah 0-2-7, dan pembelian asset 0-0-9. Artinya, ada 2 anggota MPC yang menginginkan penurunan suku bunga, tetapi semua anggota setuju untuk mempertahankan jumlah pembelian asset sebesar £435 miliar.

Pada meeting hari ini, diperkirakan hasil voting untuk suku bunga diperkirakan kembali 0-2-7, dan pembelian asset tetap 0-0-9. Jika hasil voting menunjukkan ada anggota MPC yang memilih opsi kenaikan suku bunga dan ada yang ingin mengurangi pembelian asset, maka GBP akan cenderung menguat. Hasil rilis notulen meeting BoE hari ini bisa diunduh di sini.

 

  • Jam 20:30 WIB: indeks Philly Fed Manufacturing AS bulan Desember 2019 (Berdampak medium-tinggi pada USD).

Indikator sentimen bisnis yang dirilis oleh The Fed of Philadelphia ini merupakan indikator awal ISM Manufacturing Index. Indeks dibuat berdasarkan survei terhadap para pelaku manufaktur di wilayah Philadelphia mengenai prospek bisnis dan perekonomian AS, dan menjadi salah satu acuan analis untuk mengukur tingkat kepercayaan investor.

Angka indeks yang positif (lebih besar nol) menggambarkan perekonomian membaik, sedangkan indeks dengan angka negatif mengindikasikan kondisi ekonomi yang sedang menurun.

19 Desember 2019: BoE Dan BoJ Meeting,

Bulan November lalu, indeks Philly Fed Manufacturing berada pada +10.4, lebih tinggi dari perkiraan yang +7.0, dan lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang +5.6. Pada bulan November 2019, indeks new orders dan delivery mengalami kenaikan.

Untuk bulan Desember 2019, diperkirakan indeks Philly Fed Manufacturing akan turun ke +8.1. Hasil rilis yang lebih tinggi dari perkiraan akan mendukung penguatan USD.

 

Keterangan: Update kabar terakhir terkait indikator fundamental bisa diperoleh di Berita Forex Seputarforex.

Arsip Analisa By : Martin
291367

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.