Advertisement

iklan

24-25 September 2019: RBNZ Meeting, Kepercayaan Konsumen AS, IFO Jerman

Data dan peristiwa berdampak hari ini adalah indeks kepercayaan konsumen CB AS, IFO Jerman, serta pidato Kuroda BoJ dan Lowe RBA. Besok ada RBNZ meeting.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Selasa, 24 September 2019:

  • Jam 12:30 WIB: pidato gubernur BoJ Haruhiko Kuroda (Berdampak tinggi pada JPY).

Kuroda dijadwalkan berbicara dalam sebuah acara pertemuan di Osaka. Isi pidato Kuroda bisa dibaca di sini.

 

  • Jam 15:00 WIB: indeks kepercayaan bisnis Jerman versi IFO bulan September 2019 (Berdampak medium pada EUR).

Indikator ini dirilis oleh IFO atau Information and Forschung, lembaga riset ekonomi di Munich yang merupakan think-tanks terbesar dan terpenting bagi perekonomian Jerman khususnya, juga kawasan Eropa pada umumnya. Indeks dibuat dengan melakukan survei pada sekitar 7000 perusahaan dan pelaku bisnis di Jerman mengenai kondisi perekonomian saat ini (current condition), dan perkiraannya untuk 6 bulan ke depan (future expectations).

Indeks sentimen bisnis IFO ini merupakan indikator awal bagi pengeluaran untuk investasi baru (ekspansi) dan perekrutan tenaga kerja, sehingga akan berdampak pada pertumbuhan. Indeks menggunakan angka 100 sebagai patokan. Jika di atas 100 berarti sentimen bisnis positif, sementara bila di bawah 100 menunjukkan sentimen bisnis negatif.

24-25 September 2019: RBNZ Meeting,

Bulan Agustus lalu, indeks kepercayaan bisnis Jerman turun ke angka 94.3, lebih rendah dari perkiraan 95.1, dan menjadi yang terendah sejak bulan November 2012. Pada bulan Agustus 2019, indeks business expectations turun dari 92.1 ke 91.3, sementara indeks current conditions turun dari 99.6 ke 97.3. Penurunan sentimen kepercayaan bisnis terjadi pada sektor manufaktur, service provider, wholesaler, dan retailer.

Untuk bulan September 2019, diperkirakan indeks IFO akan naik ke 94.5. Hasil rilis yang lebih tinggi dari perkiraan akan cenderung menyebabkan EUR menguat.

 

  • Jam 16:55 WIB: pidato gubernur RBA Philip Lowe (Berdampak tinggi pada AUD).

Philip Lowe dijadwalkan berbicara di Armidale Business Chamber Dinner, di New South Wales. Isi pidato Lowe bisa dibaca di sini.

 

Angka indeks kepercayaan konsumen ini dirilis oleh The Conference Board Inc. (CB) berdasarkan survei pada 5,000 rumah tangga sebagai responden yang mewakili konsumen secara umum. Hasil survei ini menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi perekonomian AS saat ini (present situation) dan waktu yang akan datang (expectations), terutama terhadap kondisi bisnis dan ketersediaan lapangan pekerjaan.

Indeks kepercayaan konsumen CB mencerminkan keyakinan finansial dan merupakan indikator awal bagi pengeluaran konsumen yang mengambil porsi sebanyak hampir 70% dari aktivitas perekonomian AS.

24-25 September 2019: RBNZ Meeting,

Indeks CB Consumer Confidence bulan Agustus lalu berada pada angka 135.1, lebih tinggi dari perkiraan 129.5, tetapi lebih rendah dari bulan sebelumnya yang 135.8. Pada bulan Agustus 2019, indeks ekspektasi turun dari 112.4 ke 107.0, sedangkan indeks present situation naik dari 170.9 ke 177.2.

Untuk bulan September 2019, diperkirakan indeks kepercayaan konsumen akan kembali turun ke 134.1. Hasil rilis yang lebih tinggi dari perkiraan akan cenderung menyebabkan USD menguat.

 

Rabu, 25 September 2019:

  • Jam 09:00 WIB: hasil meeting RBNZ: pengumuman suku bunga bulan September 2019 (Berdampak tinggi pada NZD).

Gubernur RBNZ menentukan suku bunga acuan atau yang lazim disebut Official Cash Rate (OCR) setelah berkonsultasi dengan beberapa bankir senior dan para penasehatnya. Suku bunga RBNZ dijadwalkan dirilis 8 kali dalam setahun.

24-25 September 2019: RBNZ Meeting,

Sepanjang tahun 2016, RBNZ telah memangkas OCR sebanyak 3 kali. Pemotongan suku bunga pertama yang sebesar 0.25% ke +2.25% terjadi pada bulan Maret, dan disebabkan oleh ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global khususnya China, ekspektasi inflasi Selandia Baru yang cenderung turun, serta masih lemahnya harga komoditi terutama susu.

Pemangkasan kedua terjadi di bulan Agustus 2016. RBNZ kembali menurunkan suku bunga sebesar 0.25% ke +2.00%, karena tingkat inflasi dan harga produk susu yang masih rendah. Pada bulan November 2016, suku bunga dipotong untuk yang ketiga kalinya. Pemangkasan sebesar 0.25% ke +1.75% itu diakibatkan oleh inflasi yang masih rendah dan apresiasi mata uang NZD. Tingkat suku bunga ini adalah yang terendah sejak tahun 1985.

Kemudian pada bulan Mei lalu, RBNZ kembali memangkas OCR sebesar 0.25% ke level +1.50%, untuk mendukung tingkat inflasi dan pasar tenaga kerja di tengah perlambatan ekonomi global.

Pada meeting terakhir 7 Agustus lalu, RBNZ kembali memotong OCR sebesar 0.5% ke +1.00%, lebih rendah dari perkiraan pasar yang mengekspektasikan Rate Cut 0.25% ke +1.25%. Pemangkasan suku bunga acuan tersebut menyebabkan NZD melemah tajam.

Statement yang dirilis RBNZ menyebutkan bahwa tingkat suku bunga rendah diperlukan saat ini untuk mendukung tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi, di tengah perlambatan ekonomi global dan tensi perang dagang. Bank sentral juga mengisyaratkan bahwa pemangkasan suku bunga lebih lanjut masih dimungkinkan.

Data terakhir menunjukkan bahwa inflasi kuartal kedua Selandia Baru tahun ini mencapai +1.7%, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang +1.5%. Tenaga kerja juga naik 0.8%, tertinggi sejak kuartal ketiga 2018. Meskipun begitu, GDP kuartal kedua yang mencapai +0.5%, menjadi level yang terendah sejak kuartal ketiga 2018.

Dari data tersebut, pasar memperkirakan jika RBNZ akan mempertahankan suku bunga acuan di +1.00% pada meeting bulan September ini. Jika RBNZ kembali memangkas OCR dan Statement dianggap dovish, maka NZD akan cenderung melemah. Statement meeting hari ini bisa dibaca di sini.

 

Keterangan: Update kabar terakhir terkait indikator fundamental bisa diperoleh di Berita Forex Seputarforex.

Arsip Analisa By : Martin
290213

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.