Advertisement

iklan

AISA, Tiga Pilar yang Makin Sejahtera

179432

"Kejelian melihat peluang, dan mengkonversikan peluang menjadi kesuksesan", itulah PT Tiga Pilar Sejahtera. Jika dilihat dari tahun 2008, penjualan perseroan sudah naik 729%. Dari awalnya 489 Milyar di tahun 2008 menjadi 4 Trilyun di tahun 2013. Bagaimana prospek perusahaan berkode saham AISA ini?

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

"Kejelian melihat peluang, dan mengkonversikan peluang menjadi kesuksesan", itulah PT Tiga Pilar Sejahtera. Bagaimana tidak, jika dilihat dari tahun 2008, penjualan perseroan sudah naik 729%. Dari awalnya 489 Milyar di tahun 2008 menjadi 4 Trilyun di tahun 2013. Dan, laba bersih yang dihasilkan pun naik 825%, dari 37 M di tahun 2008 menjadi 346 M di tahun 2013. Itu artinya, pertumbuhan laba bersih perseroan pertahun rata-rata sebesar 61%. Perusahaan apa itu PT Tiga Pilar Sejahtera?

TIGA PILAR SEJAHTERA
Produsen Taro

Saat mendengar 'Tiga Pilar Sejahtera', penulis langsung teringat masa kecil dulu. Sebab, dulu hampir tiap hari penulis makan snack 'Taro'. Brand snack berbentuk jala mini itu adalah salah satu produk unggulan Tiga Pilar Sejahtera. Bukan hanya anak-anak, ABG hingga orang tua pun suka makan Snack ini. Perusahaan yang akan penulis bahas kali ini, PT Tiga Pilar Sejahtera, Tbk (kode saham AISA), adalah perusahaan yang memproduksi Taro.

Di Bursa Efek Indonesia, saham AISA masuk ke dalam sektor consumer goods. Jika dibandingkan dengan harga penutupan Desember 2013 yang hanya 1.430, sepanjang tahun 2014 (hingga 30 April 2014) saham AISA sudah mengalami kenaikan 54% menjadi 2.200. Jika dibandingkan dengan perusahaan di sektor yang sama, saham AISA naik paling tinggi. Perusahaan lain seperti PT Indofood Sukses Makmur, Tbk hanya naik 8%, PT Mayora Indah, Tbk naik 12%, PT Nippon Indosari Corpindo, Tbk naik 4% dan lain sebagainya.

Sedangkan jika dilihat dari tiga tahun sebelumnya, harga penutupan Desember 2011 adalah 495, berarti harga saham AISA sudah naik 344%. Karena sudah mengalami kenaikan  tinggi, maka tak heran jika ada yang mengatakan saham AISA sudah mahal. Tapi, apakah benar–benar sudah mahal?

Diantara cara untuk menelaah apakah suatu saham sudah terlalu mahal, diantaranya melihat PBV (Price By Volume) dan PER (Price Earning Ratio) saham. Tetapi sebagai seorang investor, tentu kita juga akan melihat bagaimana prospek usaha perusahaan kedepannya. Selain itu, perli dilihat juga kinerja perusahan, apakah kinerja perusahaan layak dihargai dengan harga sebesar itu dipasar atau tidak. Jika layak, berarti harga di pasar masih dalam ambang harga wajar. Jika tidak, berarti harga sudah diluar ambang kewajaran alias sudah mahal. Lalu, bagaimana penilaian harga saham AISA?

Membandingkan PBV Saham AISA

Sebagai acuan, penulis menggunakan laporan keuangan perseroan tahun 2013 saat aset Tiga Pilar Sejahtera naik cukup signifikan, yaitu sebesar 30%. Ada kenaikan hutang sebesar 45% dari tahun sebelumnya, sehingga aset perseroan mengalami kenaikan. Kenaikan hutang ini mengakibatkan rasio hutang terhadap ekuitas (DER) naik menjadi 1,32 kali dari nilai sebelumnya. Sedangkan untuk ekuitas jika dihitung diluar kepentingan non-pengendali, ekuitas perseroan naik 17% menjadi 2 Trilyun dari sebelumnya 1,7 Trilyun.

Dengan ekuitas sebanyak 1,7 Trilyun dan jumlah saham perseroan sebanyak 2,9 milyar lembar, maka harga wajar saham adalah di harga 688. Jika dibandingkan dengan harga penutupan April 2014 di harga 2.200, maka harga saham AISA di pasar lebih mahal 3 kali dari harga wajarnya. PBV saham berkisar di 3,2 kali. Apakah sungguh mahal?

Jika melihat perusahaan di sektor consumer foods, bisa dibilang saham AISA masih murah. PBV perusahaan yang lain seperti, Indofood CBP Sukses Makmur 4,6 kali, Akasha Wira Internasional 4,3 kali, Nippon Indosari Corporindo 6,8 kali, Ultrajaya Milk 5,8 kali dan Mayora Indah 6,7 kali.

Membandingkan PER Saham AISA

Sedangkan jika kita lihat dari PER-nya, PER Tiga Pilar Sejahtera berkisar 20,7 kali. PER ini diambil dari laba bersih perseroan sebesar 106 per lembar saham. Dan perlu dilihat juga bahwa laba bersih per saham AISA mengalami kenaikan sebesar 47% dari tahun 2013. Tahun lalu, laba bersih per saham hanya sebesar 72.

Bandingkan dengan PER perusahaan–perusahaan lain di sektor yang sama: Indofood CBP Sukses makmur 25,1 kali, Akasha Wira Internasional 20,5 kali, Nippon Indosari Corporindo 34,1 kali, Ultrajaya Milk 35,4 kali dan Mayora Indah 24,9 kali. Maka menurut Anda, mahalkah harga saham AISA dengan PER 20,7 kali saat ini?

Terkadang ada investor yang karena yakin dengan perusahaan tersebut, meskipun harga pasarnya sudah sangat mahal, dia tetap borong juga sahamnya. Sehingga, tertarik atau tidak terhadap saham Tiga Pilar Sejahtera, minat atau tidak untuk memiliki saham ini, semuanya terserah Anda sebagai pemilik dana. Namun sebelum memutuskan, Anda perlu tahu juga bagaimana kinerja perusahaan ini.

Kinerja Tiga Pilar Sejahtera

Penjualan perseroan sepanjang tahun 2013 mengalami kenaikan 48%, dari 2,7 Trilyun di tahun 2012 menjadi 4 Trilyun di tahun 2013. Ini membuktikan bahwa laju pertumbuhan perseroan masih terus berlanjut. Peningkatan penjualan ternyata diikuti juga oleh kenaikan beban penjualan perseroan, yaitu sebesar 47%. Jika melihat kondisi perekonomian sepanjang tahun 2013, dimana kurs melemah secara signifikan, maka kenaikan beban tersebut dianggap masih wajar. Perseroan membutuhkan bahan baku gandum buat produksi. Untuk mendapatkannya, perseroan harus impor. Sehingga, ketika rupiah melemah, maka perseroan harus mengeluarkan uang lebih banyak. Dengan demikian, maka wajar jika beban perseroan juga ikut naik.

Akibat kenaikan beban perseroan, margin perseroan juga ikut turun menjadi 8,5% dari sebelumnya 9,2% ditahun 2012. Meskipun begitu, perseroan masih bisa cetak laba 346 Milyar dari sebelumnya 253 Milyar atau naik 37%.

Tahun 2013 merupakan tahun sulit bagi perusahaan–perusahaan consumer goods. Mereka harus berhadapan dengan perekonomian nasional yang melambat, kurs Rupiah terus melemah, dan juga peningkatan suku bunga acuan. Bahkan perusahaan Akasha Wira mencatatkan menurunan laba bersih hingga 33% dari tahun sebelumnya. Ultrajaya juga mengalami penurunan laba bersih 8%. Indofood Sukses Makmur dan anak usahanya Indofood CBP Suses Makmur sama-sama mengalami penurunan laba bersih masih-masing sebesar 29% dan 2%. Namun, Tiga Pilar Sejahtera masih bisa mencatatkan kenaikan laba bersih hingga 37%.

Melihat fenomena inilah yang kemudian dianggap penulis sebagai kesuksesan manajemen perseroan ketika melihat peluang. Peluang ini sudah dieksplor sejak sebelum 2013, saat Tiga Pilar Sejahtera mulai serius di bisnis Produksi Makanan, kemudian akusisi bidang agribisnis, serta akuisisi di bisnis beras. Produksi makanan, agribisnis dan beras sepertinya akan menjadi tiga pilar yang mengokohkan perusahaan ini.

AISA Produk Makanan Siap Konsumsi
Tahun 2013, pendapatan produksi makanan meningkat 48%, atau sebesar 1,6 Trilyun dari 1,1 Trilyun di tahun sebelumnya. Dari bisnis produksi makanan, kontribusi bagi perseroan adalah  41%.

Fokus usaha Perseroan sebelum tahun 2008 hanyalah bidang produksi makanan. Sehingga, kontribusi yang dihasilkan dari produksi makanan pun sebesar 100%. Kemudian perseroan mulai merambah bisnis Palm Oil dan beras. Kontribusi produksi makanan dalam output perusahaan inipun kemudian semakin turun prosentasenya. Meskipun kontribusinya turun, produksi makanan dari tahun 2008 sampai 2013 telah mengalami kenaikan 262%, yaitu dari 459 Milyar di tahun 2008 menjadi 1,6 Trilyun di tahun 2013, atau mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 30%.

Keseriusan perseroan untuk semakin mengkokohkan bisnis produksi makanan terlihat setelah perseroan mengakuisisi PT Subafood Pangan Jaya yang memiliki 5% market share makanan siap konsumsi. Hasilnya, Tiga Pilar Sejahtera telah menambah market share makanan siap konsumsi (Consumer Food) menjadi sebesar 28% dengan tambahan market share PT Subafood Pangan Jaya.

Diversifikasi Diluar Produk Makanan Siap Konsumsi

Tiga Pilar Sejahtera mulai merambah bisnis di luar produksi makanan dengan mengakuisisi PT Bumiraya Investindo. Ini menjadi pilar lain perseroan, yaitu di bidang palm oil. Dari sini, perseroan mendapatkan lahan seluas 92.899 hektar. Di tahun 2013, penjualan bisnis palm oil perseroan mengalami peningkatan 90% dari tahun sebelumnya. Kontribusi bidang ini untuk perseroan sebesar 2%. Meskipun prosentasenya sedikit, namun selain menjual tandan buah segar, perseroan juga mulai menjual minyak sawit mentah, inti sawit dan turunannya.

Sedangkan untuk pilar ketiga, mulai dari tahun 2010, Tiga Pilar Sejahtera memulai bisnis distribusi beras dengan mengambil alih PT Dunia Pangan yang bergerak di usaha beras. Di awal mulainya bisnis beras ini, perseroan mendapatkan kontribusi pendapatkan sebesar 34 M. Sekarang, di tahun 2013 bisnis beras mampu memberikan kontribusi pendapatan sebesar 2,4 Trilyun. Bisnis beras ini menjadi penyumbang terbesar pendapatan perseroan dengan persentase 60% di tahun 2013 ini.

Usaha di bidang beras ini sekaligus merupakan kontribusi Tiga Pilar Sejahtera bagi ketahanan pangan nasional. Menurut BULOG, Indonesia seharusnya memiliki cadangan beras di kisaran antara 750 ribu hingga 1,25 juta ton; namun persediaan beras saat ini masih di bawah jumlah tersebut.

Pada bulan Desember 2010, Tiga Pilar Sejahtera mengakuisisi perusahaan penggilingan beras modern pertama di Indonesia, PT Jatisari Sri Rejeki (JSR), yang bertempat di Cikampek, Jawa Barat. Kemudian mengakuisisi perusahaan pabrik beras lainnya yaitu pabrik beras milik PT Alam Makmur Sembada beserta dengan merek terkenalnya "Ayam Jago" yang sekarang diproduksi oleh PT Indo Beras Unggul (IBU) di Cikarang, Jawa Barat. Gabungan kapasitas kedua pabrik beras tersebut memungkinkan TPS Rice untuk memproses 1.000 ton gabah kering per hari.

Pabrik penggilingan beras JSR berlokasi di dataran seluas 74.000 m2, memungkinkan ekspansi dimasa yang mendatang. Pabrik tersebut menggunakan teknologi modern, sehingga mampu memaksimalkan produksi beras berkualitas halus. Akuisisi IBU juga termasuk akuisisi merek beras berkualitas baik dan populer di pasar, termasuk diantaranya Ayam Jago, Istana Bangkok, Vitarice dan Nona Holland. Produksi diluar musim panen tidak menjadi masalah bagi dua pabrik tersebut karena teknologi pengeringan yang canggih dari keduanya memungkinkan penyimpanan padi kering sejumlah 44.000 ton sebagai persediaan untuk 2 bulan.

Prospek Tiga Pilar Sejahtera Ke Depan

Tiga Pilar Sejahtera percaya bahwa ada lingkup yang signifikan bagi pertumbuhan industri beras di Indonesia. Perseroan memiliki rencana untuk mengembangkan bisnis berasnya dan bisnis tersebut berpotensi memberikan kontribusi secara signifikan pada pendapatan tahun 2015. Harga telah melonjak secara signifikan dalam satu dekade terakhir. Thailand, sebagai eksportir beras terbesar Dunia, telah melihat dukungan politik yang kuat untuk harga beras lebih tinggi. Hal ini adalah salah satu dari sekian faktor eksternal yang mendukung harga tinggi, tidak hanya di tingkat nasional, akan tetapi juga di tingkat global. Faktor lain yang mendukung harga tinggi adalah perubahan iklim, serta pertumbuhan jumlah penduduk dan permintaan akan beras.

TPS Rice telah mulai menambah silo untuk penyimpanan beras di 2 pabrik sebanyak masing-masing 12 Silo dengan kapasitas penyimpanan masing-masing sebesar 2.000 ton. Secara keseluruhan, kedua pabrik akan memberikan kapasitas penyimpanan beras total sebesar 92.000 ton yang cukup untuk persediaan masa tidak panen besar. Ditambah lagi dengan 12 silo tahap pertama dari total 36 silo dengan kapasitas masing-masing sebesar 2.000 ton untuk pabrik baru di lokasi Jawa Tengah.

Hingga Laporan Tahunan Tiga Pilar Sejahtera diterbitkan, penambahan 12 unit silo di  Cikampek dan 12 unit silo di Cikarang serta pembangunan 2 pabrik beras baru di Jawa Tengah masih dalam proses dan diharapkan selesai pada akhir kuartal ketiga tahun 2013. Depo-depo beras untuk membantu penjualan telah dibangun untuk daerah-daerah Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor, Bandung mencakup Jawa Barat dan sekarang telah masuk di Semarang, Jawa Tengah. Penjualan ke pasar modern digiatkan untuk mencapai kontribusi yang lebih besar.

Dalam lima tahun ke depan, Tiga Pilar Sejahtera bermaksud untuk mengambil 5% bagian dari pasar nasional. Pasar dagang beras nasional setiap tahunnya mencapai sekitar 36 juta ton. Dengan mempertimbangkan kemampuan sekarang dan rencana pengembangan masa mendatang, Tiga Pilar Sejahtera percaya bahwa target ini dapat dicapai. Apakah Anda juga percaya pada saham AISA?

Seiring kian kokohnya tiga pilar produksi makanan siap konsumsi, palm oil dan beras,  tahun 2014 ini PT Tiga Pilar Sejahtera, tbk menargetkan pendapatan sebesar 6,7 Trilyun, atau naik 65% dibanding tahun sebelumnya. Dengan mulai stabilnya kondisi perekonomian nasional serta strategi tiga pilar bisnisnya, menurut penulis, target pendapatan tersebut realistis untuk dicapai.

Selamat berinvestasi.

Arsip Analisa By : Royan Aziz

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.