OctaFx

iklan

Analisa Emas Mingguan: G20 Meeting, Pidato Powell, GDP, Dan PCE AS

288930

Minggu lalu, harga emas menguat akibat FOMC yang dovish dan ketegangan antara AS dan Iran. Minggu ini, G20 meeting, pidato Powell, serta GDP dan PCE AS akan menjadi katalis.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan XAU/USD berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar hingga akhir minggu lalu (21 Juni 2019), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Minggu lalu, harga emas kembali menguat hingga 4.3%, dan ditutup pada USD1398.88 per troy ounce. Kenaikan yang terjadi dalam 5 minggu secara berturut-turut tersebut menyebabkan harga logam mulia kembali bertengger pada level tertingginya sejak bulan September 2013.

Kenaikan harga emas paling tajam terjadi setelah dirilisnya Statement FOMC dan konferensi pers, yang membuat emas berhasil menembus level psikologis 1400 setelah menunggu selama 6 tahun. Statement FOMC bulan Juni dan pernyataan Jerome Powell dianggap lebih dovish dari yang diperkirakan. Selain mengisyaratkan pemotongan suku bunga acuan dalam waktu dekat, The Fed juga merevisi turun proyeksi inflasi (PCE inflation) untuk tahun ini dan tahun depan, sehingga memperkuat kemungkinan rate cut.

Faktor lain yang membuat harga logam mulia melesat tajam adalah sikap dua bank sentral mata uang utama dunia yang juga dovish, yaitu ECB dan RBA. Bahkan, RBA telah lebih dahulu memangkas suku bunganya. Langkah dovish kedua bank sentral tersebut memperkuat status emas sebagai asset safe haven. Di samping itu, faktor geopolitik yaitu ketegangan antara AS dan Iran semakin mendorong harga emas ke utara (bullish).

Minggu ini akan digelar pertemuan 20 negara (termasuk Indonesia) dengan ekonomi terbesar di dunia (G20). Pelaku pasar akan mencermati pertemuan antara Presiden AS Trump dengan Presiden China Xi pada KTT yang diadakan di Osaka tersebut. Rencana pertemuan yang telah diberitakan oleh kedua pihak itu bermaksud membahas tentang sengketa dagang antara dua negara raksasa ekonomi dunia tersebut. Jika perang dagang antara AS-China bisa berakhir, maka aksi risk aversion akan berkurang, sehingga kemungkinan pelaku pasar akan melepas aset safe haven termasuk emas.

Tetapi, risiko terbesar bagi pergerakan bullish emas adalah jika The Fed berbalik hawkish dan urung memotong suku bunga acuan. Ini bisa saja terjadi karena pada dot plot suku bunga terakhir tidak diproyeksikan akan adanya pemotongan dalam tahun ini. Median target untuk tahun ini tetap sekitar 2.4%, sama dengan proyeksi dalam dot plot bulan Maret.

Data dan peristiwa penting dari AS minggu ini adalah GDP final kuartal pertama 2019, PCE Price Index bulan Mei, serta pidato ketua The Fed mengenai outlook ekonomi dan kebijakan moneter. Secara fundamental dan teknikal, harga emas masih cenderung bullish, dengan resistance kuat pada level 1450.

 

Tinjauan Teknikal

Chart Daily:

Analisa Emas Mingguan: G20 Meeting,

Dari penunjukan indikator trend, saat ini pergerakan harga masih cenderung bullish. Sementara ini belum ada tanda-tanda akan terjadinya koreksi, baik dari Price Action maupun penunjukan indikator teknikal.

  1. Harga berada di atas kurva upper band indikator Bollinger Bands, dan titik indikator Parabolic SAR masih berada di bawah bar candlestick.
  2. Kurva indikator MACD masih berada di atas kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di atas level 0.00.
  3. Garis histogram indikator ADX berwarna hijau dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bullish yang masih kuat.

Resistance kuat berada pada sekitar level 1450 (100% Fibo Expansion).

 

Chart Monthly:

Analisa Emas Mingguan: G20 Meeting,

Fibonacci Retracement yang diambil dari Oktober 2008 hingga September 2011 menunjukkan pergerakan harga telah melampaui level 50%. Hal ini menandakan kecenderungan yang masih bullish, dengan resistance kuat di sekitar level 1450 (38.2% Fibo Retracement).

 

Level Pivot mingguan: 1381.15

Resistance: 1400.00 ; 1411.71 ; 1416.29 ; 1423.65 ; 1433.70 ; 1451.37 (level 100% Fibo Expansion) ; 1478.85 ; 1494.83 (123.6% Fibo Expansion) ; 1500.00 ; 1522.49 (138.2% Fibo Expansion).

Support: 1392.04 ; 1381.19 (61.8% Fibo Expansion) ; 1367.20 ; 1359.38 (50% Fibo Expansion) ; 1346.61 ; 1337.30 (38.2% Fibo Expansion) ; 1332.44 ; 1319.75 ; 1309.97 (23.6% Fibo Expansion) ; 1297.00 ; 1285.15 ; 1275.00 ; 1266.16 ; 1253.28 ; 1242.50 ; 1231.15 ; 1218.45 ; 1211.80 ; 1204.02 ; 1196.18 ; 1185.00 ; 1171.80 ; 1160.05 ; 1146.00 ; 1136.60 ; 1122.63 ; 1113.40 ; 1097.33 ; 1076.98.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200, EMA 55 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14).

Fibonacci Expansion (chart daily):

  • Titik 1: 1160.05 (harga terendah 16 Agustus 2018).
  • Titik 2: 1346.61 (harga tertinggi 20 Februari 2019).
  • Titik 3: 1266.16 (harga terendah 2 Mei 2019).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.