Analisa Rupiah 10-14 September 2018: Inflasi Dan Retail Sales AS

285216

Rupiah menguat dalam 2 hari terakhir akibat intervensi BI dan respon pasar atas kebijakan pemerintah. Minggu ini, Rupiah akan dipengaruhi oleh CPI dan Retail Sales AS.

acy

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (7 September 2018), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Minggu lalu, Rupiah kembali terperosok hingga menyentuh level 14940 per US Dollar, sebelum ditutup pada 14815. Secara keseluruhan, Rupiah melemah 0.6% dibandingkan harga penutupan minggu sebelumnya yang 14725. Jika bukan dari fundamental ekonomi, pelemahan Rupiah yang begitu cepat saat ini tentu disebabkan oleh faktor psikologis di pasar uang akibat krisis di Turki dan Argentina.

Sementara itu, penguatan Rupiah dalam dua hari terakhir tidak lepas dari usaha Bank Indonesia (BI) untuk menjaga nilai tukar agar tidak melemah terlalu dalam. Hingga minggu lalu, BI telah mengeluarkan belasan triliun Rupiah baik di pasar valuta asing maupun obligasi, dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk intervensi.

Selain itu, respon pasar terhadap tindakan pemerintah untuk menekan Current Account Defisit (CAD) yang melebar telah berdampak positif, dan berkontribusi dalam penguatan Rupiah selama dua hari terakhir. Pemerintah telah mengumumkan kenaikan pajak impor terhadap sejumlah barang konsumsi seperti bahan bangunan, ban, peralatan elektronik, dan produk tekstil. Presiden juga telah memutuskan untuk menunda sebagian proyek pembangkit tenaga listrik, dan minggu lalu menteri ESDM mengumumkan peraturan baru mengenai kewajiban penggunaan komponen dalam negeri di proyek energi.

Pemerintah juga akan membuat peraturan untuk menindak tegas para spekulan yang ikut menyebabkan terpuruknya nilai tukar Rupiah. Meski kenaikan pajak impor kemungkinan bisa memicu inflasi, tapi sangat diharapkan dalam jangka pendek ini bisa menahan gempuran terhadap nilai tukar Rupiah.

Membaiknya data tenaga kerja AS bulan Agustus tentu akan membuat Greenback makin perkasa minggu ini, yang berarti kemungkinan Rupiah akan kembali tertekan. Namun demikian, kita tidak bisa memperkirakan sentimen pasar dengan pasti, sehingga kita masih bisa berharap agar Rupiah tidak terperosok lagi.

Minggu ini tidak ada data penting dari dalam negeri, sementara dari AS akan ada inflasi dan penjualan ritel bulan Agustus. Jika Rupiah berlanjut menguat, support kuat USD/IDR ada pada level 14800 hingga 14760. Sedangkan jika melemah, resistance berada pada level 14857 hingga 14930.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental:

Senin, 10 September 2018:

  • Jam 08:10 WIB: data Retail Sales di Indonesia bulan Juli 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +2.3% (terendah dalam 4 bulan). Perkiraan: +3.4%.


Analisa Rupiah 10-14 September 2018:

 

Rabu, 12 September 2018:

  • Jam 07:00 WIB: data pertumbuhan kredit bulan Agustus 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +11.34% (tertinggi dalam 2 tahun terakhir).

 

Analisa Rupiah 10-14 September 2018:

 

Senin, 17 September 2018:

  • Jam 16:00 WIB: data neraca perdagangan Indonesia bulan Agustus 2018 y/y: bulan sebelumnya: -USD2.03 miliar (terendah sejak bulan Juli 2013). Perkiraan: +USD0.68 miliar.


Analisa Rupiah 10-14 September 2018:

 

Data dan peristiwa berdampak dari AS minggu ini: CPI, Retail Sales, PPI, kepercayaan konsumen UoM, JOLTS, serta pidato Fed Brainard, Fed Quarles, dan Fed Bostic.

 

Tinjauan Teknikal


Analisa Rupiah 10-14 September 2018:
klik gambar untuk memperbesar

Chart Daily : terjadi koreksi bearish (Rupiah menguat) setelah terbentuknya pola candle triple top. Namun secara teknikal, dalam jangka menengah panjang USD/IDR masih cenderung bullish (Rupiah masih cenderung melemah).

  1. Harga masih berada di atas kurva middle band indikator Bollinger Bands, dan titik indikator Parabolic SAR berada di bawah bar candlestick.
  2. Kurva indikator MACD masih berada di atas kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di atas level 0.00.
  3. Garis histogram indikator ADX berwarna hijau dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bullish yang masih kuat.

Level Pivot mingguan : 14826.00

Resistance : 14857.00 (level 76.4% Fibo Expansion) ; 14930.00 ; 15006.00 (100% Fibo Expansion) ; 15158.00 (123.6% Fibo Expansion) ; 15249.00 (138.2% Fibo Expansion) ; 15327.00 (150% Fibo Expansion) ; 15400.00 (161.8% Fibo Expansion).

Support : 14761.00 (61.8% Fibo Expansion) ; 14688.00 (level 50% Fibo Expansion) ; 14662.00 ; 14611.00 (38.2% Fibo Expansion) ; 14540.00 ; 14488.00 ; 14440.00 ; 14388.00 ; 14298.00 ; 14210.00 ; 14171.00 ; 14106.00 ; 14038.00 ; 13983.00 ; 13923.00 ; 13845.00 ; 13795.00 ; 13736.00 ; 13693.00 ; 13624.00 ; 13538.00 ; 13485.00 ; 13400.00 ; 13362.00 ; 13314.00 ; 13263.00 ; 13212.64 ; 13171.00 ; 13082.00 ; 13048.00 ; 12990.00 ; 12899.00 ; 12800.00 ; 12754.00 ; 12623.00 ; 12560.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 55 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14).

Fibonacci Expansion :
Titik 1: 13920.00 (harga terendah 20 Juni 2018).
Titik 2: 14560.00 (harga tertinggi 24 Juli 2018).
Titik 3: 14368.00 (harga terendah 27 Juli 2018).

Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.