Analisa Rupiah 12-16 Maret 2018

Analisa mingguan USD/IDR berikut dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (9 Maret 2018), dan dimaksudkan sebagai acuan trading jangka menengah dan panjang.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (9 Maret 2018), dan dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.


Tinjauan Fundamental

Minggu lalu, Rupiah bergerak perlahan tetapi pasti ke arah penurunan. Tidak ada sentimen dari dalam negeri yang bisa mendukung penguatan Rupiah. Semua data fundamental yang dirilis minggu lalu jeblok. Cadangan devisa bulan Februari turun ke USD128.06 miliar, di bawah perkiraan USD131.98 miliar. Penjualan ritel bulan Januari year over year malah minus 1.8%, di bawah perkiraan +0.7% dan bulan sebelumnya yang +2.8%. Indeks kepercayaan konsumen Februari juga turun ke 122.5, di bawah estimasi 126.1.

Akan tetapi, faktor utama pelemahan Rupiah minggu lalu bukan karena data ekonomi dalam negeri, melainkan karena:

  1. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed minggu depan yang menurut CME Fed Fund futures sudah 90.2% atau hampir pasti.
  2. Kekhawatiran pelaku pasar atas tarif impor baja dan alumunium yang diterapkan Presiden AS Donald Trump, dan telah menyebabkan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang yang ekonominya masih mengandalkan ekspor melemah, termasuk Indonesia.
  3. Rencana pertemuan presiden Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bulan Mei nanti yang mendongkrak Indeks Dolar kembali di atas 90.

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI), kondisi pelemahan Rupiah masih akan berlangsung sampai FOMC meeting tanggal 21-22 Maret minggu depan. Namun BI memastikan akan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dengan tetap berada di pasar, maksudnya akan melakukan intervensi jika pelemahan terlalu dalam.

Melonjaknya Non Farm Payrolls AS bulan Februari yang dirilis Jumat malam lalu (9 Maret) tidak serta merta menyebabkan US Dollar menguat terhadap semua mata uang, karena merosotnya upah rata-rata per jam dan peningkatan tingkat pengangguran yang di atas estimasi. USD memang masih unggul versus mata uang safe haven JPY, CHF dan EUR. Namun mata uang tersebut melemah versus GBP dan mata uang komoditi CAD, AUD dan NZD.

Untuk Rupiah, sebagian analis memperkirakan minggu depan masih akan cenderung melemah. Selain sentimen eksternal kenaikan suku bunga The Fed, permintaan USD dari dalam negeri juga masih tinggi. Dari dalam negeri akan ada data neraca perdagangan bulan Februari yang diperkirakan surplus, dan dari AS akan ada data inflasi dan penjualan retail. Jika berlanjut melemah, resistance kuat USD/IDR ada pada level 13800 hingga 13915, dan jika menguat support kuat ada pada level 13723 hingga 13675.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental

Rabu, 14 Maret 2018:

  • Jam 11:00 WIB: penjualan mobil di Indonesia bulan Februari 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +11.1%.


Analisa Rupiah 12-16 Maret

 

 

Kamis, 15 Maret 2018

  • Jam 11:00 WIB: data neraca perdagangan Indonesia bulan Februari 2018 y/y: bulan sebelumnya: -USD0.67 miliar, perkiraan: +USD0.19 miliar.


                                  Analisa Rupiah 12-16 Maret



  • Jam 19:20 WIB: data pertumbuhan kredit bulan Januari year over year (y/y): bulan sebelumnya: +8.35%.


Analisa Rupiah 12-16 Maret


 


Data berdampak dari AS minggu ini
adalah CPI, Retail Sales, PPI, Building Permits dan Housing Starts, indeks kepercayaan konsumen UoM, JOLTS, serta Jobless Claims.


Tinjauan Teknikal



Analisa Rupiah 12-16 Maret
klik gambar untuk memperbesar


Chart Daily: USD/IDR masih cenderung bullish (Rupiah cenderung melemah) setelah sinyal dari Pin Bar yang terbentuk tanggal 1 Maret gagal (baca juga: Sinyal Pin Bar Perlu Dipertanyakan, Ini Alasannya). Tetapi Pin Bar tersebut memang tidak terkonfirmasi oleh indikator tren, baik MACD, ADX maupun Parabolic SAR, jadi semestinya bisa diantisipasi:

  1. Harga masih bergerak di dalam Channel Uptrend dan di atas kurva middle band indikator Bollinger Bands.
  2. Titik indikator Parabolic SAR masih berada di bawah bar candlestick.
  3. Kurva indikator MACD masih berada di atas kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di atas level 0.00.
  4. Garis histogram indikator ADX berwarna hijau dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bullish yang masih kuat.


Level Pivot mingguan : 13768.33.

Resistance : 13800.00 ; 13860.00 ; 13915.53 (level 100% Fibo Expansion) ; 14006.05 (123.6% Fibo Expansion) ; 14063.00 ; 14133.00 ; 14337.00 ; 14493.00 ; 14784.00.

Support : 13723.00 (50% Fibo Expansion) ; 13674.95 (38.2% Fibo Expansion) ; 13628.61 (23.6% Fibo Expansion) ; 13568.00 ; 13538.00 ; 13474.85 ; 13453.00 ; 13393.77 ; 13362.00 ; 13314.00 ; 13263.00 ; 13212.64 ; 13171.00 ; 13082.00 ; 13048.00 ; 12990.00 ; 12899.00 ; 12800.00 ; 12754.00 ; 12623.00 ; 12560.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 50 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14).

Fibonacci Expansion :
Titik 1 : 13263.00 (harga terendah 25 Januari 2018).
Titik 2 : 13655.00 (harga tetinggi 12 Februari 2018).
Titik 3 : 13528.00 (harga terendah 19 Februari 2018).

Arsip Analisa By : Martin

Bagaimana reaksi Anda tentang ini?

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.