Advertisement

iklan

Analisa Rupiah 17-21 September 2018: Neraca Perdagangan Indonesia

Minggu lalu, Rupiah menguat akibat respon positif pasar terhadap kebijakan pemerintah dan data inflasi AS. Minggu ini, Rupiah akan dipengaruhi neraca perdagangan Indonesia.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (14 September 2018), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Perlahan tapi pasti, Rupiah mulai unjuk gigi. Minggu lalu, mata uang Garuda kembali ditutup menguat tipis 0.1% pada level 14800 versus US Dollar, dibandingkan harga penutupan minggu sebelumnya yang 14815. Respon positif pasar terhadap kebijakan pemerintah untuk menekan defisit transaksi berjalan tampaknya masih berlangsung. Bank Indonesia (BI) juga terus melakukan intervensi di pasar uang untuk menahan pelemahan Rupiah, dan menjaga stabilitas nilai tukar. Penguatan Rupiah di akhir pekan juga didukung oleh data inflasi AS bulan Agustus yang di bawah perkiran pasar.

Dalam sebuah wawancara, Wakil Gubernur BI mengatakan bahwa nilai tukar Rupiah masih jauh dari fundamentalnya, sehingga BI akan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak semakin jauh dari fundamentalnya. Jika diperlukan, BI akan kembali menaikkan suku bunga acuan.

Meski saat ini Rupiah cenderung menguat, Wakil Gubernur BI masih melihat ada risiko yang akan menyebabkan pelemahan, terutama tekanan dari global. Perang dagang antara AS dan China yang masih berlangsung dan belum ada tanda-tanda akan berakhir menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang.

Minggu ini tidak ada data ataupun peristiwa penting dari AS, sementara dari dalam negeri akan dirilis data neraca perdagangan bulan Agustus yang akan berdampak tinggi pada Rupiah. Seperti diketahui, neraca perdagangan adalah komponen utama dalam transaksi berjalan (Current Account) yang sedang menjadi sorotan. Bulan Juli lalu, perdagangan Indonesia mengalami defisit hingga USD2 miliar, atau tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Untuk bulan Agustus, diharapkan neraca perdagangan Indonesia akan surplus sebesar USD0.68 miliar. Jika surplus, diperkirakan Rupiah akan cenderung menguat.

Apabila Rupiah berlanjut menguat, support kuat USD/IDR ada pada level 14740 hingga 14700. Sementara jika melemah, resistance berada pada level 14840 hingga 14890.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental

Senin, 17 September 2018:

  • Jam 11:00 WIB: data neraca perdagangan Indonesia bulan Agustus 2018 y/y: bulan sebelumnya: -USD2.03 miliar (defisit tertinggi sejak bulan Juli 2013). Perkiraan: +USD0.68 miliar.


Analisa Rupiah 17-21 September 2018:

 

  • Jam 12:00 WIB: penjualan mobil di Indonesia bulan Agustus 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +25.9% (tertinggi sejak bulan Juni 2014).


Analisa Rupiah 17-21 September 2018:

 

  • Jam 14:00 WIB: data pertumbuhan kredit bulan Agustus 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +11.34% (tertinggi dalam 2 tahun terakhir).


Analisa Rupiah 17-21 September 2018:

 

Data berdampak dari AS minggu ini: Building Permits, Housing Starts, dan indeks Philly Fed Manufacturing.

 

 

Tinjauan Teknikal


Analisa Rupiah 17-21 September 2018:
klik gambar untuk memperbesar

Chart Daily : dalam jangka pendek, USD/IDR cenderung koreksi bearish (Rupiah masih cenderung menguat), menyusul terbentuknya pola candle double top pada level 14840. Kecenderungan ini didukung oleh:

  1. Titik indikator Parabolic SAR yang pindah ke atas bar candlestick, menunjukkan kemungkinan pergerakan bearish.
  2. Kurva indikator MACD memotong kurva sinyal (warna merah) dan bergerak di bawahnya, sementara garis histogram OSMA berada di bawah level 0.00.

Dalam jangka menengah-panjang, USD/IDR masih cenderung bullish (Rupiah cenderung melemah):

  1. Harga masih berada di atas kurva middle band indikator Bollinger Bands.
  2. Garis histogram indikator ADX berwarna hijau dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bullish yang masih kuat.

Meski demikian, jika harga menembus kurva middle band Bollinger Bands, dan level support 14580 terlampaui, pergerakan bearish akan bisa berlanjut (Rupiah berlanjut menguat).

Level Pivot mingguan : 14818.67

Resistance : 14840.00 ; 14888.00 ; 14930.00 ; 15000.00 ; 15158.00 ; 15249.00 ; 15327.00 ; 15400.00.

Support : 14786.56 (level 38.2% Fibo Retracement) ; 14741.00 (50% Fibo Retracement) ; 14693.00 (61.8% Fibo Retracement) ; 14635.47 (76.4% Fibo Retracement) ; 14580.00 ; 14515.00 ; 14488.00 ; 14440.00 ; 14388.00 ; 14298.00 ; 14210.00 ; 14171.00 ; 14106.00 ; 14038.00 ; 13983.00 ; 13923.00 ; 13845.00 ; 13795.00 ; 13736.00 ; 13693.00 ; 13624.00 ; 13538.00 ; 13485.00 ; 13400.00 ; 13362.00 ; 13314.00 ; 13263.00 ; 13212.64 ; 13171.00 ; 13082.00 ; 13048.00 ; 12990.00 ; 12899.00 ; 12800.00 ; 12754.00 ; 12623.00 ; 12560.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 55 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14).

Fibonacci Retracement :
Titik Swing Low: 14543.00 (harga terendah 21 Agustus 2018).
Titik Swing High: 14940.00 (harga tertinggi 5 September 2018).

Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.