Advertisement

iklan

Analisa Rupiah 19 - 23 Oktober 2015

Awal pekan, kurs Rupiah dibuka melemah tipis pada 13,528 per Dolar AS dengan kecenderungan netral. Sejumlah berita yang keluar pekan lalu seakan memperingatkan pelaku pasar bahwa belum ada perubahan signifikan dalam kondisi fundamental ekonomi Indonesia, selain diluncurkannya berbagai paket stimulus oleh pemerintah.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Rekap Kurs Rupiah Pekan Lalu

Volatilitas kurs Rupiah dalam pekan lalu menyusut, dan nampak terkonsolidasi dalam kisaran yang telah diprediksikan. Setelah dibuka pada 13,410 per Dolar AS di awal pekan, kurs Rupiah bergerak sideways hingga kemudian ditutup pada 13,520 di penutupan hari Jumat.

Dari luar negeri, investor masih menimbang berbagai perubahan yang tengah terjadi dalam kondisi ekonomi global. Sementara itu di dalam negeri, sejumlah berita yang keluar pekan lalu seakan memperingatkan pelaku pasar bahwa belum ada perubahan signifikan dalam kondisi fundamental ekonomi Indonesia, selain diluncurkannya berbagai paket stimulus oleh pemerintah. Tercatat pekan lalu Pemerintah kembali mengumumkan kebijakan baru, berupa perubahan formula pengaturan gaji minimum dalam paket stimulus keempat.

Kurs Rupiah-Dolar ilustrasi

Dolar Amerika Serikat mengalami penguatan terhadap Euro dan Dolar Australia, tetapi masih melemah terhadap mata uang mayor lainnya di tengah rilis laporan ekonomi yang beragam. Laporan penjualan ritel dan PPI mengecewakan, sedangkan inflasi inti dan indeks keyakinan konsumen versi UoM naik diatas perkiraan. Ada indikasi kuat bahwa pemulihan ekonomi AS tengah termoderasi, dimana hal ini akan menghambat rencana bank sentralnya untuk menaikkan suku bunga. Namun semua ini masih prediksi, sedangkan dalam kenyataan kondisi ini justru memperpanjang ketidakpastian di pasar.

Sedangkan dari dalam negeri, Bank Indonesia dalam rapat hari Kamis memutuskan untuk membiarkan suku bunga acuan tetap pada 7.50 persen, dengan bunga fasilitas simpanan pada 5.50 persen dan fasilitas pinjaman pada 8.00 persen. Dalam pernyataannya, otoritas moneter Indonesia ini menyatakan masih optimis bahwa dalam sisa tahun ini inflasi akan mengalami penurunan, sedangkan defisit current account dan laju pertumbuhan akan membaik. Namun demikian, ketidakpastian global akan membuat BI tetap siaga dengan menfokuskan kebijakan jangka pendek pada stabilisasi nilai tukar, memperkuat pengelolaan likuiditas Rupiah, serta memperkuat pengelolaan penawaran dan permintaan valuta asing.

Di hari yang sama, surplus neraca perdagangan Indonesia bulan September 2015 dilaporkan meningkat, naik dari 330 juta Dolar AS menjadi 1,020 juta Dolar AS. Meski begitu, impor dan ekspor secara year-on-year masih mengalami penurunan drastis, sejalan dengan tren yang telah berlangsung sejak awal tahun ini. Ini merupakan indikais buruk, karena melemahnya impor dan ekspor menandakan perlambatan aktivitas bisnis dan merosotnya konsumsi domestik.

 

Neraca Perdagangan Indonesia

Grafik Neraca Perdagangan Indonesia (atas), Impor (kiri bawah), dan Ekspor (kanan bawah)


Sementara itu, pekan lalu perusahaan ritel ponsel Trikomsel Oke menyatakan akan melakukan restrukturisasi utang. Restrukturisasi tersebut dilansir berhubungan dengan kesulitan untuk melunasi obligasi dan pinjaman lain yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat akibat penurunan pendapatan yang sejalan dengan perlambatan pertumbuhan dan lemahnya Rupiah. Setelah kabar tersebut dirilis, perusahaan pemeringkat kredit Standard & Poor's memperingatkan bahwa ancaman default masih bakal membayangi perusahaan-perusahaan Indonesia hingga 18 bulan ke depan.

 

Fundamental Minggu Ini

Awal pekan, kurs Rupiah dibuka melemah tipis pada 13,528 per Dolar AS dengan kecenderungan netral. Dalam beberapa hari mendatang, minimnya rilis berita penting tidak memberi alasan bagi Rupiah untuk bergerak jauh dari wilayah pergerakannya saat ini.

Dari Amerika Serikat, telah dijadwalkan rilisan berdampak menengah data perumahan dan klaim pengangguran mingguan, sehingga perhatian pasar mungkin akan lebih terpusat pada pidato ketua bank sentralnya, Janet Yellen, pada hari Selasa malam. Sedangkan dari Indonesia, hanya ada publikasi statistik utang luar negeri dalam kalender kegiatan minggu ini.

 

Prediksi Rupiah Pekan Ini

Secara teknikal dan fundamental, pair USD/IDR masih bergerak di wilayah oversold, sebagaimana bisa dilihat dari kondisi MACD dan posisi harga dibawah EMA-100. Belum banyak perubahan dari kondisi minggu lalu, terutama karena kisaran 13,270-13,848 yang dicanangkan minggu lalu belum tertembus.

 

USDIDR

Chart USD/IDR pada timeframe H4 dengan indikator EMA-20 (merah), EMA-60 (tosca), EMA-100 (coklat),  fibonacci retracement, dan MACD 


Pekan ini, Rupiah masih diprediksi untuk bergerak di kisaran 13,270-13,848 per Dolar AS. Namun bila volatilitas meningkat, maka sulit disebutkan kemana akan bergerak selanjutnya, terutama karena level saat ini secara fundamental terlalu rapuh untuk dipertahankan. Apabila 13,848 ditembus, maka itu akan membuka peluang untuk berkonsolidasi di level yang lebih masuk akal secara fundamental di kisaran 13,848-14,206. Namun jika support pada 13,270 yang ditembus, maka bukan tidak mungkin akan mengarah ke 13,000an.

 

Arsip Analisa By : A Muttaqiena
250399

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.

Charizza201210
kira-kira dalam minggu ini sampai awal bulan depan prediksi rupiah terhadap AS melemah/menguat? thx..

A. Muttaqiena
Mohon maaf, saat ini sulit bagi kami untuk memprediksi dalam range lebih dari seminggu, karena minggu depan ada jadwal penting rapat bank sentral AS yang bisa berdampak besar pada Dolar.
Rini
"berdampak besar"nya diprediksikan melemah atau menguat pd rupiah??
A. Muttaqiena
Bisa mendorong rupiah melemah maupun menguat. Kalau diingat kembali, momen penguatan Rupiah sebelumnya kan sebenarnya dipicu oleh putusan bank sentral AS yang mengecewakan (menunda kenaikan Fed rate). Nah, kita akan lihat lagi besok, apakah mereka masih tetap dengan pandangannya dulu (yang berarti jelek buat Dolar), atau sebaliknya, menunjukkan sinyal akan menaikkan Fed rate dalam waktu dekat (yang berarti bagus bagi Dolar). Sedangkan terkait dengan melemah atau menguatnya Rupiah sampai sejauh mana, dari segi fundamental, akan sulit bagi Rupiah untuk menguat lebih dari 13,000an, karena fondasi ekonomi memang sedang lemah. Berdasarkan analisa kami, level keseimbangan yang lebih ideal bagi Dolar/Rupiah sekarang diĀ 13,600-14,000. Tetapi, itu jika kita menganggap kondisi fundamental eksternal (khususnya AS) tidak mengalami perubahan besar.
Taufiq
Respon dan analisys nya bagus sekalinya bagus sekali..

Trims banyak yaa,

A. Muttaqiena
Sama-sama, semoga bermanfaat :)

Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex

Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone