Analisa Rupiah 22-26 Oktober 2018: Suku Bunga BI Dan GDP AS

Minggu lalu, Rupiah ditopang oleh neraca perdagangan Indonesia dan rencana BI yang akan meluncurkan SDA. Minggu ini, Rupiah akan dipengaruhi oleh statement BI dan data GDP AS.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (19 Oktober 2018), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Minggu lalu, untuk pertama kalinya Rupiah mampu menguat setelah 3 minggu berturut-turut ditutup melemah. Masih bertahan di atas level 15000 per US Dollar, Rupiah ditutup pada level 15185, menguat 0.1% dibandingkan penutupan minggu sebelumnya yang 15200. Penguatan mata uang Garuda ini seiring dengan mata uang Asia lainnya yang sebagian besar menguat, kecuali Yen Jepang, Yuan China, dan Ringgit Malaysia.

Rupiah sempat berada di atas level 15200 pasca rilis notulen meeting FOMC, yang secara keseluruhan dianggap hawkish. Namun, data neraca perdagangan Indonesia bulan September yang mampu kembali surplus memiliki pengaruh lebih kuat. Neraca perdagangan bulan lalu mengalami surplus USD0.23 miliar, lebih baik dari perkiraan defisit USD0.5 miliar. Surplus ini memberi harapan akan membaiknya Current Account pada kuartal ketiga.

Penguatan Rupiah minggu lalu juga didukung oleh rencana Bank Indonesia (BI), yang akan meluncurkan kebijakan baru berupa Special Deposit Account (SDA). Tujuannya adalah untuk menarik Dana Hasil Ekspor (DHE) yang diparkir di luar negeri ke Indonesia, sehingga bisa menambah pasokan US Dollar di dalam negeri, dan pada akhirnya akan mengurangi tekanan terhadap nilai tukar Rupiah. Di samping itu, intervensi BI di pasar uang juga berperan dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Minggu ini akan ada dua data penting, baik dari dalam negeri maupun dari AS. Dari dalam negeri akan ada Rapat Dewan Gubernur BI yang akan mengumumkan suku bunga acuan. Sementara dari AS akan dirilis data Advance GDP kuartal ketiga, yang diperkirakan anjlok ke +3.3% dibandingkan kuartal sebelumnya yang +4.2%.

Suku bunga acuan BI diperkirakan masih akan dipertahankan pada level +5.75%, tapi pasar akan mencermati statement BI mengenai prospek kenaikan suku bunga, juga kebijakan lainnya yang bisa menopang penguatan nilai tukar Rupiah.

Jika Rupiah berlanjut menguat, support kuat USD/IDR ada pada level 15100 hingga 15000. Sedangkan jika melemah, resistance kuat ada pada level 15200 hingga 15260.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental:

Senin, 22 Oktober 2018:

  • Jam 11:00 WIB: data pertumbuhan kredit bulan September 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +12.12% (tertinggi dalam 3 tahun terakhir).

Analisa Rupiah 22-26 Oktober 2018: Suku

 

Selasa, 23 Oktober 2018:

  • Jam 14:20 WIB: suku bunga Bank Indonesia bulan Oktober 2018: bulan sebelumnya: +5.75%. Perkiraan: +5.75%.


Analisa Rupiah 22-26 Oktober 2018: Suku

 

Jumat, 26 Oktober 2018:

  • Jam 17:00 WIB: indeks harga rumah di Indonesia kuartal ketiga 2018: kuartal sebelumnya: +3.26% ke 206.89 index points (tertinggi sejak tahun 2006).


Analisa Rupiah 22-26 Oktober 2018: Suku

 

Data dan peristiwa berdampak dari AS minggu ini: Advance GDP, Durable Goods Orders, indeks kepercayaan konsumen UoM, serta pidato pejabat-pejabat The Fed (Mester, Clarida, dan Bostic).

 

Tinjauan Teknikal


Analisa Rupiah 22-26 Oktober 2018: Suku

Chart Daily
:

Dalam jangka pendek, kemungkinan USD/IDR masih akan koreksi bearish (Rupiah menguat). Kemungkinan ini didukung oleh kurva indikator MACD yang berada di bawah kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA yang berada di bawah level 0.00. Support kuat pada garis Uptrend hingga level 15000.

Dalam jangka menengah-panjang, USD/IDR masih cenderung bullish (Rupiah masih cenderung melemah), dengan resistance kuat pada level 15260:

  1. Harga masih berada di atas kurva middle band indikator Bollinger Bands.
  2. Titik indikator Parabolic SAR masih berada di bawah bar candlestick.
  3. Garis histogram indikator ADX berwarna hijau dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bullish yang masih kuat.

Level Pivot mingguan : 15191.67

Resistance : 15200.00 ; 15261.73 (level 123.6% Fibo Expansion) ; 15327.00 ; 15400.00.

Support : 15173.18 (100% Fibo Expansion) ; 15100.00 ; 15070.61 (76.4% Fibo Expansion) ; 15014.57 (61.8% Fibo Expansion) ; 14967.55 (50% Fibo Expansion) ; 14920.00 (38.2% Fibo Expansion) ; 14885.00 ; 14816.00 ; 14768.00 ; 14700.00 ; 14640.00 ; 14580.00 ; 14543.00 ; 14488.00 ; 14440.00 ; 14388.00 ; 14298.00 ; 14210.00 ; 14171.00 ; 14106.00 ; 14038.00 ; 13983.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 55 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14).

Fibonacci Expansion :

  • Titik 1: 14543.00 (harga terendah 21 Agustus 2018).
  • Titik 2: 14940.00 (harga tertinggi 5 September 2018).
  • Titik 3: 14768.00 (harga terendah 14 September 2018).

Arsip Analisa By : Martin

Bagaimana reaksi Anda tentang ini?

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.