Advertisement

iklan

Analisa Rupiah 23-27 Juli 2018

Rupiah masih konsisten melemah karena ditekan oleh hawkish Fed. Secara teknikal, Rupiah juga masih diprediksi turun dalam jangka menengah-panjang.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Tinjauan Fundamental

Rupiah ditutup pada level 14475 per US Dollar minggu lalu, atau melemah 0.7% dibandingkan penutupan minggu sebelumnya. Mata uang Garuda sempat menguat hingga level 14363 akibat surplus neraca perdagangan Indonesia yang jauh di atas perkiraan, tetapi berbalik melemah hingga menyentuh level 14540, setelah pengumuman Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di 5.25%. Level 14540 adalah yang terendah sejak bulan Oktober 2015. Rupiah ditutup menguat akibat pernyataan presiden AS Donald Trump yang mengkritisi agenda kenaikan suku bunga The Fed. Selain Rupiah, hampir semua mata uang di kawasan Asia melemah kecuali Yen Jepang.

Melalui Menko Perekonomian, pemerintah mengatakan bahwa faktor utama pelemahan Rupiah masih disebabkan oleh pernyataan ketua The Fed Jerome Powell, yang akan menaikkan suku bunga hingga dua kali lagi (di sisa tahun 2018), karena indikator ekonomi AS yang terus membaik. Namun ia memperkirakan jika BI nantinya juga akan merespon kebijakan tersebut dengan penyesuaian suku bunga.

BI menjelaskan bahwa pihaknya bersama pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan upaya jangka panjang untuk memperkuat Rupiah, yaitu dengan meningkatkan eskpor, memberikan insentif pajak untuk eskpor, dan mendorong sektor pariwisata.

Pelemahan Rupiah yang terus berlangsung sejak usai lebaran lalu telah mulai dikeluhkan pelaku industri, terutama yang bahan bakunya masih impor dan pasarnya ke domestik. Salah satunya adalah industri makanan dan minuman yang harga bahan bakunya mengalami lonjakan hingga 7%, tapi belum merencanakan untuk menaikkan harga jual. Untuk sementara, mereka akan mengorbankan keuntungan perusahaan untuk menutupi kerugian akibat fluktuasi nilai tukar tersebut.

Minggu ini tidak ada data penting dari dalam negeri, sementara dari AS akan dirilis data awal Advance GDP kuartal kedua, yang diperkirakan melonjak dari +2.0% (data Final kuartal pertama) ke +4.1%. Mengenai pernyataan presiden Trump yang mengkritisi The Fed, analis memperkirakan hanya akan berdampak sementara pada USD, selama rencana kenaikan suku bunga The Fed tidak berubah.

Jika Rupiah berlanjut menguat, support kuat USD/IDR ada pada level 14440 hingga 14363, sedangkan jika melemah, resistance berada pada level 14540 hingga 14615.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental:

Senin, 23 Juli 2018:

  • Jam 12:00 WIB: data pertumbuhan kredit bulan Juni 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +10.26% (tertinggi dalam setahun terakhir).

 

Analisa Rupiah 23-27 Juli

Selasa, 24 Juli 2018:

  • Jam 16:30 WIB: penanaman modal asing di Indonesia kuartal kedua tahun 2018 quarter over year (q/y): kuartal sebelumnya: +12.4% dan mencapai Rp108.9 trilliun.


Analisa Rupiah 23-27 Juli

Selasa, 31 Juli 2018:

  • Jam 16:30 WIB: uang beredar M2 di Indonesia bulan Juni 2018 y/y: bulan sebelumnya: +6.1%.


Analisa Rupiah 23-27 Juli

Data berdampak dari AS minggu ini
: GDP, Durable Goods Orders, perumahan dan indeks kepercayaan konsumen UoM.

 

Tinjauan Teknikal


Analisa Rupiah 23-27 Juli
klik gambar untuk memperbesar

 

Chart Daily:

Dalam jangka menengah-panjang, USD/IDR masih bullish (Rupiah masih cenderung melemah). Dalam jangka pendek, kemungkinan terjadi koreksi bearish (Rupiah cenderung menguat) jika Pin Bar yang terbentuk pada 20 Juli terkonfirmasi. Apabila terjadi koreksi, support kuat ada pada level 14260.00 hingga 14210.00 (76.4% Fibo Expansion).

Kemungkinan terjadinya koreksi didukung oleh kurva indikator MACD yang masih berada di bawah kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA yang masih berada di bawah level 0.00.

Kemungkinan bullish pada jangka menengah-panjang didukung oleh:

  1. Harga yang berada dekat kurva upper band indikator Bollinger Bands, dan titik indikator Parabolic SAR yang masih berada di bawah bar candlestick.
  2. Garis histogram indikator ADX berwarna hijau yang menunjukkan sentimen bullish.

Level Pivot mingguan : 14459.33

Resistance : 14540.00 ; 14614.38 (161.8% Fibo Expansion) ; 14640.00 ; 14784.00.

Support : 14440.00 ; 14321.34 (100% Fibo Expansion) ; 14260.00 ; 14210.00 (76.4% Fibo Expansion) ; 14140.58 (61.8% Fibo Expansion) ; 14084.50 (50% Fibo Expansion) ; 14028.36 (38.2% Fibo Expansion) ; 13960.00 (23.6% Fibo Expansion) ; 13895.00 ; 13845.00 ; 13795.00 ; 13736.00 ; 13693.00 ; 13624.00 ; 13538.00 ; 13485.00 ; 13400.00 ; 13362.00 ; 13314.00 ; 13263.00 ; 13212.64 ; 13171.00 ; 13082.00 ; 13048.00 ; 12990.00 ; 12899.00 ; 12800.00 ; 12754.00 ; 12623.00 ; 12560.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 55 ; Bollinger Bands (20,2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14).

Fibonacci Expansion :
Titik 1 : 13736.00 (harga terendah 13 April 2018).
Titik 2 : 14210.00 (harga tetinggi 23 Mei 2018).
Titik 3 : 13845.00 (harga terendah 6 Juni 2018).

Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.