Analisa Rupiah 29 Oktober-2 November 2018: NFP AS Dan CPI Indonesia

BI mengatakan kenaikan suku bunga selama ini telah membuat Rupiah stabil. Minggu ini, Rupiah akan dipengaruhi NFP AS dan CPI Indonesia.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (26 Oktober 2018), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Minggu lalu, Rupiah kembali melemah 0.2% dan ditutup pada 15215 per US Dollar. Pelemahan ini bersamaan dengan mata uang Asia lainnya, yaitu Won Korea Selatan, Baht Thailand, dan Rupee India. Sepanjang minggu lalu, Indeks Dolar AS merangkak naik dari 95.47 hingga 96.85, tertinggi sejak pertengahan Agustus lalu.

Dengan hasil rilis data GDP awal kuartal ketiga minggu lalu yang tumbuh 3.5%, di atas konsensus +3.3%, diperkirakan awal minggu ini USD masih berpotensi menguat. Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan (7 Day Reverse Repo Rate) pada level +5.75%, tidak mendukung penguatan mata uang Garuda.

Menurut BI, keputusan tersebut sejalan dengan langkah untuk menurunkan defisit transaksi berjalan ke batas yang aman. Di samping itu, sepanjang tahun ini, BI telah menaikkan suku bunga sebesar 1.50%. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, langkah yang diambil BI dalam bentuk kenaikan suku bunga selama ini telah menyebabkan nilai tukar Rupiah stabil. Aliran dana masuk (inflow) juga semakin besar.

Minggu ini akan dirilis data inflasi Indonesia bulan Oktober dan tenaga kerja AS (Non Farm Payrolls, upah rata-rata dan tingkat pengangguran). Inflasi bulan Oktober y/y diperkirakan berada pada angka +3.05%, sementara Non Farm Payrolls AS bulan Oktober diperkirakan naik ke 191,000 jobs.

Jika Rupiah berlanjut melemah, resistance USD/IDR ada pada level 15260. Sementara jika menguat, support kuat ada pada level 15175 hingga 15140.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental:

Selasa, 30 Oktober 2018:

  • Jam 11:30 WIB: penanaman modal asing di Indonesia kuartal ketiga tahun 2018 quarter over year (q/y): kuartal sebelumnya: -12.9% dan mencapai Rp95.7 trilliun (terendah sejak tahun 2011).


Analisa Rupiah 29 Oktober-2 November

 

Rabu, 31 Oktober 2018:

  • Uang beredar M2 di Indonesia bulan September 2018 y/y: bulan sebelumnya: +5.9%.


Analisa Rupiah 29 Oktober-2 November

 

Kamis, 1 November 2018:

  • Jam 07:30 WIB: Indeks Manufacturing PMI Indonesia versi Nikkei bulan Oktober 2018: bulan sebelumnya: 50.7. Perkiraan: 50.9.


Analisa Rupiah 29 Oktober-2 November

 

  • Jam 11:00 WIB: CPI total Indonesia bulan Oktober 2018 y/y: bulan sebelumnya: +2.88% (terendah sejak Agustus 2016). Perkiraan: +3.05%.
    CPI total Indonesia bulan Oktober 2018 m/m: bulan sebelumnya: -0.18% (terendah sejak April 2016). Perkiraan: -0.01%.
    CPI inti Indonesia bulan Oktober 2018 y/y : bulan sebelumnya: +2.82% (terendah dalam 3 bulan). Perkiraan: +2.85%.


Analisa Rupiah 29 Oktober-2 November

 

Data dan peristiwa berdampak dari AS minggu ini: Non Farm Payrolls, upah rata-rata, PCE Price Index, ISM Manufacturing, kepercayaan konsumen versi CB, dan ADP Non Farm.

 

Tinjauan Teknikal


Analisa Rupiah 29 Oktober-2 November

 

Chart Daily:

USD/IDR bergerak sideways. Dalam jangka pendek, kemungkinan USD/IDR masih cenderung koreksi bearish (Rupiah cenderung menguat). Kemungkinan ini didukung oleh kurva indikator MACD yang berada di bawah kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA yang berada di bawah level 0.00.

Dalam jangka menengah-panjang, USD/IDR masih cenderung bullish (Rupiah masih cenderung melemah), dengan resistance kuat pada level 15260:

  1. Harga masih berada di atas kurva middle band indikator Bollinger Bands.
  2. Titik indikator Parabolic SAR masih berada di bawah bar candlestick.
  3. Garis histogram indikator ADX berwarna hijau dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bullish yang masih kuat.

Level Pivot mingguan : 15202.00

Resistance : 15261.73 (level 123.6% Fibo Expansion) ; 15327.00 ; 15400.00.

Support : 15173.18 (100% Fibo Expansion) ; 15140.00 ; 15070.61 (76.4% Fibo Expansion) ; 15014.57 (61.8% Fibo Expansion) ; 14967.55 (50% Fibo Expansion) ; 14920.00 (38.2% Fibo Expansion) ; 14885.00 ; 14816.00 ; 14768.00 ; 14700.00 ; 14640.00 ; 14580.00 ; 14543.00 ; 14488.00 ; 14440.00 ; 14388.00 ; 14298.00 ; 14210.00 ; 14171.00 ; 14106.00 ; 14038.00 ; 13983.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 55 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14).

Fibonacci Expansion :

  • Titik 1: 14543.00 (harga terendah 21 Agustus 2018).
  • Titik 2: 14940.00 (harga tertinggi 5 September 2018).
  • Titik 3: 14768.00 (harga terendah 14 September 2018).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.