Analisa Rupiah 4-8 Juni 2018: Inflasi Dan Cadangan Devisa Indonesia

283899

Secara fundamental dan teknikal, diperkirakan minggu ini Rupiah masih cenderung menguat.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (1 Juni 2018), dan dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Minggu lalu, Rupiah kembali menguat dan ditutup pada level 13888 versus US Dollar, atau menguat 1.6% dibandingkan penutupan minggu sebelumnya yang 14115. Melonjaknya Rupiah terutama disebabkan oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI 7-Day Reverse Repo Rate) sebesar 0.25% menjadi 4.75%, seperti yang telah diperkirakan.

Dalam siaran pers BI yang dirilis seusai rapat dewan gubernur, disebutkan bahwa kebijakan tersebut diambil sebagai langkah pre-emptive guna memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah. Tindakan tersebut juga sebagai antisipasi perkiraan kenaikan suku bunga The Fed dan meningkatnya risiko di pasar keuangan global.

BI yakin kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan cukup baik dan kuat. Tekanan terhadap nilai tukar sejak Februari lalu lebih disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu tren kenaikan suku bunga The Fed, dan meningkatnya ketidakpastian global akibat perubahan kebijakan AS serta risiko geopolitik. Di waktu yang akan datang, BI akan terus menyesuaikan perkembangan baik domestik maupun global, untuk memanfaatkan peluang kenaikan suku bunga secara terukur.

Selain kenaikan suku bunga BI, penguatan Rupiah minggu lalu juga didukung oleh penegasan lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P) bahwa peringkat Indonesia tetap pada level layak investasi (investment grade). Gubernur BI Perry Wariyo menyatakan bahwa afirmasi tersebut semakin memperkuat keyakinan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia, di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut.

Minggu ini tidak ada data penting dari AS. Meski data tenaga kerja AS bulan Mei mengalami perbaikan, tapi kekhawatiran perang dagang AS - Uni Eropa akibat pernyataan Gedung Putih pekan lalu bisa berdampak negatif pada USD. Dari dalam negeri, minggu ini akan dirilis data inflasi bulan Mei yang diperkirakan stabil di +3.5%, dan cadangan devisa Mei yang diperkirakan naik ke USD128.30 miliar (dari sebelumnya di USD124.90 miliar). Secara fundamental dan teknikal, diperkirakan minggu ini Rupiah masih cenderung menguat.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental:

Senin, 4 Juni 2018:

  • Jam 07:30 WIB: Indeks Manufacturing PMI Indonesia versi Nikkei bulan Mei 2018: bulan sebelumnya: 51.6, perkiraan: 51.4.


Analisa Rupiah 4 - 8 Juni 2018: Inflasi

 

 

  • Jam 11:00 WIB: CPI total Indonesia bulan Mei 2018 y/y: bulan sebelumnya: +3.41%. Perkiraan: +3.50%.
    CPI total Indonesia bulan Mei 2018 m/m : bulan sebelumnya: +0.10%. Perkiraan: +0.21%.
    CPI inti Indonesia bulan Mei 2018 y/y : bulan sebelumnya: +2.69%. Perkiraan: +2.80%.


Analisa Rupiah 4 - 8 Juni 2018: Inflasi

 

 

  • Jam 11:30 WIB: Jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia bulan April 2018 y/y: bulan sebelumnya: +28.76%. (tertinggi sejak tahun 2011).


Analisa Rupiah 4 - 8 Juni 2018: Inflasi

 

 

Rabu, 6 Juni 2018:


Analisa Rupiah 4 - 8 Juni 2018: Inflasi

 

 

Kamis, 7 Juni 2018:

  • Jam 15:00 WIB: data Retail Sales di Indonesia bulan April 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +2.50% (teringgi dalam 4 bulan terakhir), perkiraan: +3.40%.


Analisa Rupiah 4 - 8 Juni 2018: Inflasi

 

 

Jumat, 8 Juni 2018:

  • Jam 16:00 WIB: Cadangan devisa Indonesia bulan Mei 2018 month over month (m/m): bulan sebelumnya: USD124.90 miliar (terendah sejak bulan Juni tahun lalu). Perkiraan: USD128.30 miliar.


Analisa Rupiah 4 - 8 Juni 2018: Inflasi

 

Data berdampak dari AS minggu ini: ISM Non Manufacturing, Jobless Claims dan JOLTS.

 

 

Tinjauan Teknikal


Analisa Rupiah 4 - 8 Juni 2018: Inflasi
klik gambar untuk memperbesar

 

Chart Daily : USD/IDR masih cenderung bearish (Rupiah cenderung menguat):

  1. Harga berada dekat kurva lower band indikator Bollinger Bands, dan titik indikator Parabolic SAR berada di atas bar candlestick.
  2. Kurva indikator MACD berada di bawah kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di bawah level 0.00.
  3. Kurva indikator RSI berada di bawah center line (level 50.0).
  4. Garis histogram indikator ADX berwarna merah dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bearish yang masih kuat.


Level Pivot mingguan : 13960.67

Resistance : 13950.00 (level 50% Fibo Retracement) ; 14012.00 (38.2% Fibo Retracement) ; 14087.64 (23.6% Fibo Retracement) ; 14131.00 ; 14210.00 ; 14287.00 ; 14369.00 ; 14552.00 ; 14640.00 ; 14784.00.

Support : 13815.00 (76.4% Fibo Retracement) ; 13736.00 ; 13693.00 ; 13655.00 ; 13605.00 ; 13568.00 ; 13538.00 ; 13500.00 ; 13453.00 ; 13400.00 ; 13362.00 ; 13314.00 ; 13263.00 ; 13212.64 ; 13171.00 ; 13082.00 ; 13048.00 ; 12990.00 ; 12899.00 ; 12800.00 ; 12754.00 ; 12623.00 ; 12560.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 21 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; RSI (14) ; ADX (14).

Fibonacci Retracement :
Titik Swing Low  : 13693.00 (harga terendah 27 Maret 2018).
Titik Swing High : 14210.00 (harga tetinggi 23 Mei 2018).

Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.


Sheepythetrader
Semoga IDR bisa menguat lagi ya. Harga minyak akhir-akhir ini jadi pendorong untuk USD menguat terhadap IDR, selain Fed rate hike.
Semoga IDR bisa tetap stabil, karena bulan juni ada keperluan perusahaan lokal untuk pelaporan dan/atau hedging terkait KPPK.