Advertisement

iklan

Analisa Rupiah 5 - 9 Oktober 2015

Penulis

+ -

Setelah seri analisa ini terakhir dirilis, kurs Rupiah kembali tertekan, bahkan sempat menyentuh 14,784 per Dolar AS pada tanggal 29 September. Perkembangan depresiasi sudah jauh diluar basis fundamentalnya, sehingga sulit untuk diperkirakan hingga kapan kondisi ini akan berlangsung.

iklan

iklan

Rekap Kurs Rupiah Dua Pekan (21 September - 2 Oktober 2015)

Setelah seri analisa ini terakhir dirilis, kurs Rupiah kembali tertekan, bahkan sempat menyentuh 14,784 per Dolar AS pada tanggal 29 September. Perkembangan depresiasi mata uang Republik Indonesia ini sudah amat jauh diluar basis fundamentalnya, sehingga sulit untuk diperkirakan lagi, hingga kapan kondisi ini akan berlangsung.

kurs Rupiah

Pemerintah Indonesia bersama Bank Indonesia telah meluncurkan dua rencana paket stimulus baru dengan fokus mendorong daya saing industri melalui deregulasi, mengakselerasi program-program strategis, dan menopang kurs Rupiah. Namun hingga beberapa hari setelah rilis paket stimulus kedua, pasar belum banyak merespon. Di satu sisi, kebijakan-kebijakan itu diperkirakan tidak akan berpengaruh besar menunjang Rupiah dalam waktu dekat. Sedangkan di sisi lain, pasar menantikan eksekusi dari kebijakan-kebijakan tersebut.

Sementara itu, kekhawatiran akan dampak depresiasi Rupiah terhadap utang luar negeri korporasi terus memuncak. Di pertengahan September, S&P menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan Indonesia akan mengalami kesulitan membayar utang-utang luar negeri mereka jika Rupiah menyentuh 15,000 per Dolar AS akibat tingginya eksposur pada mata uang asing yang tidak di-hedging. Tadi malam, kekhawatiran yang sama diulas oleh media bisnis internasional Financial Times. Mengutip ekonom dari Deutsche Bank Research dan Moody's, Financial Times mengungkapkan tingginya utang luar negeri sektor swasta yang akan jatuh tempo dalam jangka pendek dan kurangnya hedging membuat beberapa perusahaan, khususnya perusahaan pengembang, menjadi rentan.

Kurs Rupiah 'comeback' di akhir pekan lalu dan dibuka sedikit menguat pada 14,640 per Dolar AS pagi ini (5/10) setelah rilis laporan ekonomi Amerika Serikat mengecewakan pasar. Laporan tersebut menunjukkan pertambahan tenaga kerja sektor non-farm AS yang anjlok dan pertumbuhan gaji stagnan, padahal data ketenagakerjaan itu merupakan salah satu bahan pertimbangan bank sentral AS, the Fed, dalam rencana menaikkan suku bunga-nya. Sebelumnya, para pejabat the Fed mengatakan bahwa ada kemungkinan mereka akan menaikkan suku bunga pada bulan Oktober ini atau Desember, karena kondisi ketenagakerjaan di negaranya diharapkan sudah membaik. Dengan memburuknya data ketenagakerjaan, maka pasar kehilangan harapan. Sementara itu, dua faktor lain yang juga diamati: inflasi dan kondisi ekonomi internasional, keduanya belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Perkembangan-perkembangan terbaru ini layak dicatat, namun belum merubah latar fundamental dibalik pelemahan Rupiah saat ini, termasuk diantaranya:

  1. Adanya kemungkinan suku bunga Fed akan dinaikkan dalam tahun ini, yaitu antara bulan Oktober atau Desember.
  2. Kondisi pasar Asia dan negara berkembang saat ini masih kurang kondusif, khususnya akibat perlambatan ekonomi China.
  3. Rendahnya harga barang-barang komoditas di pasar internasional saat ini, padahal Indonesia mengandalkan ekspor bahan mentah.
  4. Bank Indonesia memiliki ruang yang sangat sempit untuk bertindak di tengah dilema perlambatan ekonomi nasional dan depresiasi Rupiah, serta persediaan devisa menipis.
  5. Tingginya utang luar negeri jangka pendek yang diakumulasikan sektor swasta.

Disamping laporan-laporan ekonomi Indonesia terbaru juga cukup mengkhawatirkan. Iklim bisnis di sektor manufaktur pada bulan September diberitakan masih tertekan dengan terus menurunnya jumlah karyawan, output, dan pesanan. Sementara itu di periode yang sama, inflasi inti melonjak. Data-data yang keluar minggu lalu tersebut mengindikasikan industri dalam negeri yang masih terkekang. Dalam situasi ini, pertumbuhan GDP Indonesia kuartal tiga dikhawatirkan tetap lambat.

 

Fundamental Minggu Ini

Awal pekan ini, kurs Rupiah dibuka pada 14,640 per Dolar AS di pasar uang (pemantauan TradingView) dengan kecenderungan menguat. Nampaknya, kekecewaan akan laporan ketenagakerjaan AS masih mempengaruhi sentimen pasar, tetapi pelaku pasar masih akan memantau laporan-laporan ekonomi lain yang akan dirilis pekan ini.

Dari dalam negeri, jadwal rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) kosong, sedangkan jadwal Bank Indonesia cukup padat. Dua diantara data yang layak untuk dipantau adalah cadangan devisa September yang bakal dipublikasikan tanggal 7 dan laporan survei penjualan eceran bulan Agustus yang akan dikeluarkan tanggal 8.

Dari Amerika Serikat, sejumlah data berdampak menengah-kuat akan diterbitkan, diantaranya PMI Non-Manufaktur ISM, neraca perdagangan, klaim pengangguran, dan notulen rapat FOMC The Fed. Meski begitu, data-data itu kemungkinan tidak akan berdampak besar dalam merubah sentimen pasar yang kian pesimis kenaikan suku bunga the Fed bisa dilakukan dalam tahun ini.

Pejabat bank sentral Australia, Jepang, Eropa, dan Inggris juga dijadwalkan akan menyampaikan kebijakan ataupun pandangan mereka dalam beberapa hari mendatang. Disini perlu dicatat bahwa ada kemungkinan bank sentral-bank sentral lain akan melonggarkan stimulus mereka seiring dengan makin berlarut-larutnya spekulasi seputar kenaikan suku bunga the Fed. Bila hal itu terjadi, maka Dolar berpotensi menguat kembali.

 

Prediksi Rupiah Pekan Ini

Secara teknikal, jika masih akan terus melanjutkan laju bullish-nya, maka USD/IDR dalam sepekan mendatang berpotensi kembali ke kisaran 14,700an. Di sisi lain, peluang untuk menguat selalu ada, mengingat dua pekan yang lalu Rupiah masih diperdagangkan di kisaran 14,400-14,500an.

USDIDR

Chart USD/IDR pada timeframe Daily dengan beberapa indikator stochastics dan fibonacci retracement


Bisa diperhatikan bahwa kurs saat ini mengambang di dekat fibo 38.2%. Ini berarti terbuka peluang untuk bergerak ke 14,401, meski kemungkinan besar akan bounce kembali ke arah 14,784. Prediksi netral dari kisaran pergerakan kurs Rupiah dalam waktu satu-dua pekan mendatang adalah diantara 14,545-14,784 per Dolar AS. Sedangkan prediksi optimis kurs Rupiah bergerak menuju 14,401 bisa dicapai jika kurs menembus fibo 38.2%.

 

Arsip Analisa By : A Muttaqiena
248813
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.

Lawang M. Siagian
Rp mendekati 14.200, ada penjelasannya dan bagaimana perkiraan pergerakannya sampai akhir minggu ini?
Seputarforex
Analisa tentang perkembangan terkini rupiah dan prediksinya di-update scara berkala dan dapat diikuti di kanal Analisa Rupiah Seputarforex di link berikut