Analisa Rupiah 9-13 Juli 2018

284317

Rupiah masih akan cenderung melemah karena warning presiden AS Donald Trump terhadap Indonesia. Secara teknikal, USD/IDR konsolidasi dengan kecenderungan masih bullish.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (6 Juli 2018), dan dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Pasca kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI), Rupiah sempat menguat ke level 14260 per USD awal minggu lalu. Namun, penguatan tersebut tidak berlanjut. Faktor eksternal terutama isu perang dagang, dan merosotnya data cadangan devisa Indonesia bulan Juni hingga di bawah USD 120 miliar, menyebabkan Rupiah kembali terpuruk hingga menyentuh level 14450 per USD, sebelum ditutup pada level 14365 (melemah tipis 0.28% dibandingkan penutupan minggu sebelumnya yang 14325). Menyusutnya cadangan devisa selama 3 bulan terakhir terjadi akibat digunakan untuk intervensi di pasar uang, guna memperkuat nilai tukar Rupiah.

Menanggapi Rupiah yang semakin loyo, pemerintah melalui menteri keuangan menyatakan akan berupaya agar Rupiah bisa kembali menguat. Salah satunya dengan mengusahakan agar defisit transaksi berjalan (Current Account) diperkecil melalui pengurangan impor; pemerintah akan lebih selektif dan meneliti kebutuhan impor. Dalam hal ini, pemerintah juga akan berkoordinasi dengan BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jika Rupiah terus melemah, dikhawatirkan inflasi akan naik dan akan membebani daya beli masyarakat terutama yang berpenghasilan tetap. Cepat atau lambat, harga energi (BBM, listrik) dan berbagai jenis bahan baku akan naik karena sebagian besar masih impor. Sudah selayaknya pemerintah cepat tanggap dan berbuat maksimal untuk menahan laju pelemahan Rupiah.

Secara fundamental, minggu ini Rupiah masih akan cenderung melemah menyusul warning presiden AS Donald Trump yang akan mencabut perlakuan khusus terhadap Indonesia di bidang perdagangan. Dari dalam negeri, akan dirilis indeks kepercayaan konsumen dan penjualan ritel, sementara dari AS ada data inflasi bulan Juni.

Jika berlanjut melemah, resistance kuat USD/IDR ada pada level 14450 hingga 14550. Sedangkan jika melemah, support berada pada level 14320 hingga 14260.

 

Jadwal rilis data fundamental:

Senin, 9 Juli 2018:

  • Jam 16:15 WIB: Indeks kepercayaan konsumen Indonesia bulan Juni 2018 m/m: bulan sebelumnya: 125.1 (tertinggi dalam 4 bulan terakhir. Perkiraan: 125.5.


Analisa Rupiah 9-13 Juli

 

 

Rabu, 11 Juli 2018:

  • Jam 11:00 WIB: data pertumbuhan kredit bulan Juni 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +10.26% (tertinggi dalam setahun terakhir).

 

Analisa Rupiah 9-13 Juli

 

  • Jam 15:15 WIB: data Retail Sales di Indonesia bulan Mei 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +4.1% (tertinggi sejak bulan Juni tahun lalu), perkiraan: +4.4%.


Analisa Rupiah 9-13 Juli

 

 

Jumat, 13 Juli 2018:

  • Jam 11:00 WIB: penjualan mobil di Indonesia bulan Juni 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +6.8%.


Analisa Rupiah 9-13 Juli

 

Data dan peristiwa berdampak dari AS minggu ini: CPI, PPI, indeks kepercayaan konsumen UoM, Jobless Claims, dan pidato pejabat The Fed.

 

 

Tinjauan Teknikal


Analisa Rupiah 9-13 Juli
klik gambar untuk memperbesar

 

Chart daily: USD/IDR konsolidasi dengan kecenderungan masih bullish (Rupiah masih cenderung melemah). Pergerakan harga tampak membentuk pola pennant bullish dengan kemungkinan break resistance:

  1. Harga berada di atas kurva middle band indikator Bollinger Bands, dan titik indikator Parabolic SAR masih berada di bawah bar candlestick.
  2. Kurva indikator MACD masih berada di atas kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di atas level 0.00.
  3. Garis histogram indikator ADX berwarna hijau dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bullish yang masih kuat.

Level Pivot mingguan : 14358.33

Resistance : 14420.00 ; 14450.00 ; 14502.16 (138.2% Fibo Expansion) ; 14558.27 (150% Fibo Expansion) ; 14614.38 (161.8% Fibo Expansion) ; 14640.00 ; 14784.00.

Support : 14321.34 (100% Fibo Expansion) ; 14260.00 ; 14210.00 (76.4% Fibo Expansion) ; 14140.58 (61.8% Fibo Expansion) ; 14084.50 (50% Fibo Expansion) ; 14028.36 (38.2% Fibo Expansion) ; 13960.00 (23.6% Fibo Expansion) ; 13895.00 ; 13845.00 ; 13795.00 ; 13736.00 ; 13693.00 ; 13624.00 ; 13538.00 ; 13485.00 ; 13400.00 ; 13362.00 ; 13314.00 ; 13263.00 ; 13212.64 ; 13171.00 ; 13082.00 ; 13048.00 ; 12990.00 ; 12899.00 ; 12800.00 ; 12754.00 ; 12623.00 ; 12560.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 55 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14).

Fibonacci Expansion :
Titik 1 : 13736.00 (harga terendah 13 April 2018).
Titik 2 : 14210.00 (harga tetinggi 23 Mei 2018).
Titik 3 : 13845.00 (harga terendah 6 Juni 2018).

Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.