Analisa Rupiah Mingguan: CPI Dan Retail Sales AS, Perdagangan Indonesia

287333

Minggu lalu, Rupiah melemah tipis akibat Current Account dan cadev Indonesia. Minggu ini, Rupiah akan dipengaruhi CPI dan Retail Sales AS, serta perdagangan Indonesia.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (8 Februari 2019), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Minggu lalu, Rupiah ditutup pada level 13950 per US Dollar, atau melemah tipis 0.11% dibandingkan harga penutupan minggu sebelumnya yang 13935. Pada akhir pekan, mata uang Garuda sempat melemah hingga ke level 13990, tetapi berbalik menguat bersamaan dengan penguatan mata uang Asia lainnya, yaitu Rupee India, Won Korea Selatan, Dolar Singapura, dan Ringgit Malaysia.

Sentimen dari dalam negeri yang menyebabkan pelemahan Rupiah adalah data Current Account dan cadangan devisa, sementara faktor eksternal adalah pesimisme pelaku pasar atas penyelesaian perang dagang antara AS dan China.

Current Account Indonesia kuartal keempat 2018 kembali defisit sebesar USD9.15 miliar, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang defisit USD8.63 miliar, dan merupakan defisit tertinggi sejak kuartal kedua 2014. Sementara cadangan devisa bulan Januari turun ke USD120.1 miliar, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang USD120.7 miliar. Meski demikian, data pertumbuhan ekonomi kuartal keempat 2018 (GDP q/y) naik dari 5.17% ke 5.18%.

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, nilai tukar Rupiah yang saat ini berada pada kisaran 13900 per USD dinilai masih undervalue atau terlalu murah. Menurut Perry, secara fundamental, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik dan tingkat inflasi yang rendah akan bisa mendorong penguatan Rupiah lebih lanjut.

Minggu ini akan ada rilis beberapa data penting, baik dari AS maupun dari dalam negeri. Dari AS akan dirilis data inflasi dan penjualan ritel bulan Januari, sementara dari dalam negeri akan dirilis data neraca perdagangan bulan Januari. Inflasi tahunan AS bulan Januari diperkirakan kembali turun ke +1.5% dibandingkan bulan sebelumnya yang +1.9%, sementara defisit neraca perdagangan Indonesia diperkirakan membengkak ke USD1.5 miliar dibandingkan bulan sebelumnya yang defisit USD1.1 miliar.

Disamping itu, pelaku pasar juga akan memperhatikan perkembangan perundingan dagang AS-China, dan kemungkinan terjadinya government shutdown lagi di AS jika belum dicapai kesepakatan antara Kongres dan Presiden Trump. Seperti diketahui, batas akhir pendanaan pemerintahan AS adalah tanggal 15 bulan ini.

Secara teknikal, Rupiah masih cenderung menguat dengan support kuat USD/IDR pada level 13885 hingga 13837. Jika melemah, resistance kuat ada pada level 13990 hingga 14000.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental:

Senin, 11 Februari 2019:

  • Jam 16:00 WIB: data Retail Sales di Indonesia bulan Desember 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +3.4%. Perkiraan: +6.2%.

Analisa Rupiah Mingguan: CPI Dan Retail

Selasa, 12 Februari 2019:

  • Jam 16:00 WIB: indeks harga rumah di Indonesia kuartal keempat 2018: kuartal sebelumnya: +3.31% ke 207.69 index points (tertinggi sejak tahun 2006).

Analisa Rupiah Mingguan: CPI Dan Retail

Rabu, 13 Februari 2019:

  • Jam 11:00 WIB: data neraca perdagangan Indonesia bulan Januari 2019 y/y: bulan sebelumnya: -USD1.10 miliar (defisit terendah dalam 3 bulan terakhir). Perkiraan: -USD1.50 miliar.

Analisa Rupiah Mingguan: CPI Dan Retail

 

  • Jam 14:00 WIB:  data pertumbuhan kredit bulan Januari 2019 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +12.90%.

Analisa Rupiah Mingguan: CPI Dan Retail

Data dan peristiwa berdampak dari AS minggu ini: CPI, PPI, Retail Sales, indeks kepercayaan konsumen UoM, serta pidato ketua The Fed Powell, Fed George, dan Bowman.

 

Tinjauan Teknikal

Analisa Rupiah Mingguan: CPI Dan Retail

Chart Daily:

Masih cenderung bearish (Rupiah masih cenderung menguat), menyusul terbentuknya pola double top pada level 13990:

  1. Harga masih bergerak di bawah neckline dari pola head and shoulders.
  2. Harga masih berada di bawah kurva lower band indikator Bollinger Bands, dan titik indikator Parabolic SAR masih berada di atas bar candlestick.
  3. Kurva indikator MACD masih berada di bawah kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di bawah level 0.00.
  4. Garis histogram indikator ADX berwarna merah, yang menunjukkan sentimen bearish.

Level Pivot mingguan : 13942.33

Resistance : 13994.00 (level 61.8% Fibo Retracement) ; 14119.77 (50% Fibo Retracement) ; 14242.41 (38.2% Fibo Retracement) ; 14330.00 ; 14399.63 (23.6% Fibo Retracement) ; 14465.00 ; 14540.00 ; 14650.00 ; 14785.00 ; 14930.00 ; 15050.00 ; 15140.00 ; 15200.00 ; 15265.00 ; 15327.00 ; 15400.00.

Support : 13935.00 ; 13885.00 ; 13837.29 (76.4% Fibo Expansion) ; 13736.00 ; 13589.10 (100% Fibo Retracement) ; 13538.00 ; 13485.00 ; 13400.00 ; 13362.00 ; 13314.00 ; 13263.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 144 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14).

Fibonacci Expansion :

  • Titik 1: 15265.00 (harga tertinggi 11 Oktober 2018).
  • Titik 2: 14205.00 (harga terendah 3 Desember 2018).
  • Titik 3: 14650.00 (harga tertinggi 11 Desember 2018).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.