Advertisement

iklan

Analisa Rupiah Mingguan: Notulen FOMC, Cadev Indonesia, Pidato Powell

Minggu lalu, Rupiah menguat karena anjloknya indeks USD dan lelang SBN yang dianggap sukses. Minggu ini, notulen FOMC, Cadev Indonesia, pidato Powell, dan CPI AS akan berperan penting.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (4 Januari 2019), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Minggu lalu, Rupiah kembali ditutup menguat versus US Dollar. Sepanjang pekan lalu, mata uang Garuda terus menggebrak hingga menyentuh level 14250 per US Dollar, sebelum akhirnya ditutup pada level 14345. Dengan demikian, Rupiah telah menguat sebesar 1.44% dibandingkan harga penutupan minggu sebelumnya yang 14555. Harga penutupan tersebut adalah yang terkuat dalam sebulan terakhir.

Faktor pendukung penguatan Rupiah datang dari luar dan dalam negeri. Dari luar negeri, penguatan Rupiah dipicu oleh merosotnya indeks USD, anjloknya harga-harga saham di AS, dan optimisme akan kemajuan negosiasi dagang AS-China. Sementara dari dalam negeri, lelang Surat Berharga Negara (SBN) yang diadakan pemerintah dianggap sukses. Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, suksesnya lelang SBN akan menambah pasokan valuta asing di dalam negeri, karena pembeli SBN juga berasal dari luar negeri. Hal ini tak pelak akan mendorong penguatan Rupiah.

Selain itu, hasil rilis data inflasi dan PMI Manufaktur Indonesia bulan Desember ikut mendukung penguatan mata uang Garuda. Inflasi tahunan stabil di angka 3.0% hingga 3.5%, sementara PMI Manufaktur naik ke angka 51.2, di atas perkiraan 50.5 dan bulan sebelumnya yang 50.4. Ini tentu akan berdampak pada naiknya kegiatan manufaktur di dalam negeri. Sementara di beberapa negara Asia termasuk China, PMI Manufaktur sedang mengalami trend penurunan yang cukup signifikan.

Minggu ini akan dirilis beberapa data penting, baik dari AS maupun dari dalam negeri. Dari AS akan ada notulen meeting FOMC 19-20 Desember lalu, dan data inflasi bulan Desember. Sementara dari dalam negeri akan dirilis data cadangan devisa bulan Desember 2018. Selain itu, akan ada juga pidato ketua The Fed Jerome Powell pada acara Economic Club di Washington DC.

Pasca pidato Powell akhir pekan lalu yang dianggap dovish, dan perkiraan data inflasi AS bulan Desember yang akan kembali turun, minggu ini diperkirakan Rupiah masih akan cenderung menguat. Jika berlanjut menguat, support kuat USD/IDR ada pada level 14250 hingga 14205. Sementara jika melemah, resistance ada pada level 14465.

Jadwal Rilis Data Fundamental:

Senin, 7 Januari 2019:

  • Jam 15:00 WIB: Cadangan devisa (Cadev) Indonesia bulan Desember 2018 month over month (m/m): bulan sebelumnya: USD117.20 miliar (tertinggi dalam 3 bulan terakhir). Perkiraan: USD116.30 miliar.

Rupiah 7-11 Januari 2019: Notulen FOMC,

 

  • Jam 15:00 WIB: data Retail Sales di Indonesia bulan November 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +2.9% (terendah dalam 3 bulan terakhir). Perkiraan: +3.3%.

Rupiah 7-11 Januari 2019: Notulen FOMC,

 

  • Jam 16:15 WIB: Indeks kepercayaan konsumen Indonesia bulan Desember 2018 m/m: bulan sebelumnya: 122.7 (tertinggi dalam 4 bulan terakhir). Perkiraan: 122.0.

Rupiah 7-11 Januari 2019: Notulen FOMC,

 

Rabu, 9 Januari 2019:

  • Jam 14:00 WIB: data pertumbuhan kredit bulan Desember 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +12.05% (terendah dalam 4 bulan terakhir). Perkiraan: 6.7%.

Rupiah 7-11 Januari 2019: Notulen FOMC,

 

Data dan peristiwa berdampak dari AS minggu ini: notulen FOMC, CPI, ISM Non-Manufacturing, pidato Powell, Fed Evans, Fed Rosengren, dan Fed Clarida.

 

Tinjauan Teknikal

Rupiah 7-11 Januari 2019: Notulen FOMC,

 

Chart Daily:

USD/IDR masih cenderung bergerak bearish (Rupiah masih cenderung menguat), setelah kembali menembus kurva SMA 200-day yang merupakan acuan arah trend jangka menengah-panjang. Support kuat ada di level 14205 yang tersentuh tanggal 3 Desember tahun lalu. Kecenderungan bearish ini didukung oleh:

  1. Harga berada dekat kurva lower band indikator Bollinger Bands, dan titik indikator Parabolic SAR masih berada di atas bar candlestick.
  2. Kurva indikator MACD berada di bawah kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di bawah level 0.00.
  3. Kurva indikator RSI berada di bawah center line (level 50.0).
  4. Garis histogram indikator ADX berwarna merah dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bearish yang masih kuat.


Level Pivot mingguan : 14378.67

Resistance : 14388.98 (level 61.8% Fibo Retracement) ; 14465.00 ; 14555.00 (50% Fibo Retracement) ;14603.00 ; 14650.00 ; 14723.00 (38.2% Fibo Retracement) ; 14785.00 ; 14840.00 ; 14929.83 (23.6% Fibo Retracement) ; 15000.00 ; 15050.00 ; 15140.00 ; 15200.00 ; 15265.00 ; 15327.00 ; 15400.00.

Support : 14330.00 ; 14250.00 ; 14205.00 ; 14106.00 ; 14038.00 ; 13983.00 ; 13923.00 ; 13845.00 ; 13795.00 ; 13736.00 ; 13693.00 ; 13624.00 ; 13538.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 144 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ;  RSI (14) ; ADX (14).

Fibonacci Retracement :

  • Titik Swing Low: 13845.00 (harga terendah 6 Juni 2018).
  • Titik Swing High: 15265.00 (harga tertinggi 11 Oktober 2018).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.