Analisa Rupiah Mingguan: Perkembangan Brexit Dan Negosiasi AS-China

Minggu lalu, Rupiah melemah karena defisit dagang Indonesia yang mencetak rekor tertinggi. Minggu ini, perkembangan politik di Inggris dan diskusi AS-China akan menjadi katalis.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (18 Januari 2019), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Setelah menguat tajam selama dua pekan berturut-turut, minggu lalu, mata uang Garuda tertekan sebelum ditutup pada level 14170 per US Dollar, atau melemah 0.7% dibandingkan penutupan minggu sebelumnya yang 14072. Rupiah menjadi mata uang terlemah ketiga di Asia setelah Rupee India dan Yen Jepang. Minggu lalu, hampir semua mata uang Asia melemah kecuali Baht Thailand yang bisa menguat tipis versus USD.

Dari dalam negeri, pelemahan Rupiah terutama disebabkan oleh data neraca perdagangan Indonesia bulan Desember 2018 yang kembali defisit sebesar USD1.10 miliar, serta keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan (7-Day Repo Rate) di +6.00%.

Defisit neraca perdagangan bulan Desember memang yang terendah dalam 3 bulan terakhir, tetapi masih jauh dari harapan surplus USD0.90 milliar. Dalam basis tahunan (year over year), defisit perdagangan bulan Desember 2018 bahkan mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, yaitu sebesar USD8.57 milliar. Angka ini dua kali lebih besar dari rekor sebelumnya pada tahun 2013 yang mencapai USD4.07 milliar.

Sementara itu, keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan masih bisa ditolerir, karena sejalan dengan surutnya ambisi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga dalam tahun ini.

Dari luar negeri, ada sentimen negatif dan positif yang relatif berimbang. Sentimen negatif datang dari Inggris dengan adanya voting draft kesepakatan Brexit yang berakhir dengan kekalahan Perdana Menteri Theresa May, disusul dengan voting kepercayaan atas pemerintahan May. Ketidakstabilan politik di Inggris dikhawatirkan akan mempengaruhi perekonomian global.

Di lain pihak, sentimen positif berasal dari kemungkinan diakhirinya perang dagang antara AS dan China, menyusul rencana kunjungan wakil Perdana Menteri China Liu He ke Washington, untuk berunding dengan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengenai kemungkinan penghapusan bea masuk produk-produk dari China.

Minggu ini tidak ada rilis data penting, baik dari dalam negeri maupun dari AS. Pasar masih akan memantau perkembangan politik di Inggris dan kelanjutan perundingan dagang AS-China. Jika belum ada kemajuan yang berarti, diperkirakan investor masih akan cenderung mengambil langkah risk aversion dengan masuk ke asset safe haven.

Apabila Rupiah berlanjut melemah, resistance kuat USD/IDR ada pada level 14195 hingga 14260. Sementara jika menguat, support kuat USD/IDR ada pada level 14000.

 

Jadwal rilis data fundamental:

Jumat, 25 Januari 2019:

  • Jam 16:30 WIB: penanaman modal asing di Indonesia kuartal keempat tahun 2018: kuartal sebelumnya: -20.2% dan mencapai Rp89.1 triliun (terendah sejak kuartal pertama 2015).

Analisa Rupiah Mingguan: Perkembangan

 

Kamis, 31 Januari 2019:

  • Jam 17:00 WIB: Uang beredar M2 di Indonesia bulan Januari 2019 y/y: bulan sebelumnya: +6.6%.

Analisa Rupiah Mingguan: Perkembangan

Tinjauan Teknikal

Analisa Rupiah Mingguan: Perkembangan

Chart Daily:

Dalam jangka pendek, USD/IDR masih cenderung bergerak bullish (Rupiah masih cenderung melemah), menyusul terbentuknya pola triple bottom pada level support 14000:

  1. Kurva indikator MACD memotong kurva sinyal (warna merah) dan berada di atasnya, serta garis histogram OSMA telah berada di atas level 0.00.
  2. Garis histogram indikator ADX berwarna hijau dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bullish yang masih kuat.

Dalam jangka menengah-panjang, USD/IDR cenderung bearish (Rupiah cenderung menguat). Hal ini didukung oleh harga yang masih bergerak di bawah kurva SMA 200-day dan di bawah kurva middle band indikator Bollinger Bands, serta titik indikator Parabolic SAR yang masih berada di atas bar candlestick.

Level Pivot mingguan : 14131.67

Resistance : 14195.00 ; 14263.25 (level 50% Fibo Retracement) ; 14330.00 ; 14425.00 ; 14500.00 (38.2% Fibo Retracement) ; 14557.00 ; 14600.00 ; 14650.00 ; 14700.00 ; 14792.33 (23.6% Fibo Retracement) ; 14930.00 ; 15000.00 ; 15050.00 ; 15140.00 ; 15200.00 ; 15265.00 ; 15327.00 ; 15400.00.

Support : 14150.00 ; 14090.00 ; 14000.00 ; 13923.00 ; 13845.00 ; 13795.00 ; 13736.00 ; 13693.00 ; 13624.00 ; 13538.00 ; 13485.00 ; 13400.00 ; 13362.00 ; 13314.00 ; 13263.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 144 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ;  ADX (14).

Fibonacci Retracement :

  • Titik Swing Low  : 13263.00 (harga terendah 25 Januari 2018).
  • Titik Swing High : 15265.00 (harga tertinggi 11 Oktober 2018).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.