OctaFx

iklan

ASII: Satu-Satunya Emiten Otomotif Yang Tak Digoyahkan Harga Minyak

PT Astra International Tbk sebagai emiten otomotif mendapat persaingan dari Mitsubishi dan Wuling. Bagaimana dengan saham ASII di tengah tantangan ini?

Xm

iklan

Advertisement

iklan

PT Astra International Tbk (kode saham ASII) sebagai emiten otomotif mendapat persaingan dari Mitsubishi dan Wuling. Kehadiran Mitsubishi Xpander dan Wuling Confero di GIIAS 2017 bulan Agustus lalu membuat para kompetitor melakukan potongan harga gila-gilaan. Toyota Avanza milik ASII didiskon Rp25 juta dan Daihatsu Xenia didiskon Rp20 juta demi dapat menarik minat. Di event GIIAS sendiri, Xpander dan Confero terjual lebih dari 4000 dan 500 unit. Bagaimana dengan saham ASII di tengah tantangan ini?

Astra International - ASII

 

Secara umum penjualan kendaraan beroda empat dari ASII di sembilan bulan pertama di tahun ini sudah baik, yaitu ada sebanyak 443,000 units; sudah mencapai 71% dari target setahun penuh dan lebih banyak 5.1% dari jumlah penjualan year-on-year di bulan September 2016 (yaitu 422,500 unit). Namun, Wuling Confero dan Mitsubishi Xpander cukup menyaingi Toyota Avanza dari ASII and Honda Mobilio, faktor purna jual tidak dihitung. Confero lebih murah dari sisi harga ketimbang Avanza, pengalaman menyetirnya juga baik, sebanding dengan Innova Toyota. Dari sisi model, Xpander dinilai lebih menarik. 

ASII mencatat angka penjualan lemah sepanjang September 2017; volume penjualan ASII untuk kendaraan roda empat turun 16% selama September dibanding bulan sebelumnya. Saham ASII sempat turun ke 7,920 karena pesimisme dari sebagian pemegang saham, baik asing maupun domestik. Tapi kini kembali lagi ke 8,300an karena kekuatan ASII dalam menjaga margin, yaitu melalui penguatan sektor non otomotifnya. 

Pangsa pasar (ASII) untuk Januari-September 2017 naik menjadi 55.2% di segmen kendaraan beroda empat (ASII adalah distributor tunggal mobil untuk Toyota, Daihatsu dan Isuzu) dan 74.6% di kendaraan beroda dua (ASII adalah distributor tunggal sepeda motor untuk Honda) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, 54% untuk segmen kendaraan beroda empat dan 72.9% untuk segmen kendaraan beroda dua, menunjukkan dominasi ASII di industri ini sebenarnya masih kuat.

Kelebihan dari segmen otomotif ASII adalah adanya ekosistem otomotif yang tiada banding di Indonesia. Segmen otomotif memang merupakan sumber pendapatan utama dari ASII, sebesar 42% dari total dengan kontribusi laba bersih sebesar 45% dari total laba.

 

Astra International ASII

 

Dari data di atas, segmen otomotif menyumbang 42% pendapatan Astra International (ASII), diikuti oleh segmen alat berat (United Tractor; UNTR) sebesar 30%. Berikutnya jasa keuangan (Bank Permata; BNLI) sebesar 10%.

Sekedar info, ASII dan anak usahanya yang terbesar berikutnya; UNTR merupakan dua dari katalis IHSG, yang mana pergerakan harganya dapat memberikan pengaruh untuk ikut menekan atau mengangkat harga IHSG. Ada 10 perusahaan di Indonesia yang mencakup 49% dari nilai capital IHSG (berdasarkan Market Cap nya) yaitu: BBCA, TLKM, HMSP, UNVR, BBRI, ASII, BMRI, BBNI, GGRM, dan UNTR.

 

Apa Yang Menarik Dari Saham ASII?

ASII merupakan perusahaan yang pendapatannya didominasi dari segmen otomotif. Sebenarnya, pergerakan saham perusahaan otomotif berbanding terbalik dengan pergerakan harga minyak. Namun, ASII adalah satu-satunya emiten otomotif yang tak terpengaruh harga minyak! Perhatikan grafik perbandingan berikut.

 

Grafik Indomobil Sukses Internasional (IMAS, ungu) vs West Texas Intermediate Crude Oil (CL, candlestick)

Grafik IMAS vs West Texas Intermediate

 

IMAS adalah emiten yang sumber pendapatannya berasal dari otomotif. Harga sahamnya berbanding terbalik dengan harga minyak global. Hal ini lumrah karena pemegang saham cenderung berpikir bahwa kenaikan harga minyak akan mempengaruhi permintaan otomotif. Maka, apabila harga minyak global seperti WTI atau Brent naik, harga saham otomotif seperti misalnya IMAS, akan turun. Berbeda dengan ASII!

 

Grafik Astra International (ASII, ungu) vs West Texas Intermediate Crude Oil (CL, candlestick)

Saham ASII vs West Texas Intermediate

ASII yang sumber pendapatannya didominasi dari sisi otomotif tidak banyak terpengaruh oleh kenaikan harga minyak global. Hal itu karena ASII memiliki UNTR dan AALI (kontributor revenue ASII terbanyak berikutnya setelah otomotif) yang justru naik saat harga minyak naik!

 

Grafik United Tractor (UNTR, biru) vs West Texas Intermediate Crude Oil (CL, candlestick)

Grafik UNTR vs WTI

 

Grafik Astra Agro Lestari (AALI, kuning) vs West texas Intermediate Crude Oil (CL, candlestick)

Grafik AALI vs WTI

 

UNTR vs CL dan AALI vs CL bergerak ke arah yang sama. Saat minyak naik, UNTR dan AALI juga naik. Karena porsi kontribusi UNTR dan AALI kepada ASII cukup besar, maka ASII tidak pernah benar-benar jatuh saat harga minyak dunia mengalami fluktuasi kencang.

Maka ASII tidak pernah khawatir laba perusahaan akan banyak terpengaruh saat pendapatan dari sisi otomotif kurang begitu baik, karena terbantu dari sisi alat berat dan agribisnis. Harga sahamnya tidak akan benar-benar jatuh ketika penjualan dari sisi otomotif mengalami tekanan dari sisi persaingan usaha atau sebab-musabab lainnya, karena Astra International memiliki kelebihan yang tidak dimiliki pesaingnya di industri otomotif Indonesia; IMAS, GDYR, AUTO dan GJTL. Kelebihan itu adalah ASII memiliki unit usaha lain yang justru diuntungkan saat harga minyak dunia naik: UNTR (United Tractor; Heavy Equipment) dan AALI (Astra Agro Lestari; Agribisnis). Inilah sebabnya mengapa ASII menarik.

Karena ASII mengetahui bahwa diversifikasi usaha begitu penting untuk mengimbangi fluktuasi di bidang otomotif, ASII memperbesar belanja modal (Capex/Capital Expenditures) ke segmen non otomotif. UNTR dan AALI sudah cukup kuat, maka ASII berinvestasi di properti dan jalan tol. Per 30 September 2017, capex yang dialokasikan ke segmen properti mencapai Rp2.01 triliun atau meningkat hingga 144% YoY. Selanjutnya, ASII melalui Astra Infra Toll Road berencana membangun jalan tol akses Kertajati sepanjang 5 km yang terkoneksi dengan jalan tol Cikopo-Palimanan yang dioperasikan perseroan.

 

Kinerja Perusahaan Astra International

ASII menaungi beberapa merek di Indonesia seperti Toyota (dan Lexus), Daihatsu, Isuzu, BMW dan Peugeot, UD Truck, Honda (hanya sepeda motor saja). Harus diingat bahwa ASTRA mempunyai ekosistem otomotif dan value chain yang komprehensif yang dibangun selama berpuluh-puluh tahun di Indonesia. Menghasilkan reputasi jaringan layanan yang bagus, suku cadang yang mudah dijangkau, nilai jual kembali yang baik, dan lain-lain.

Mulai dari manufaktur via Toyota Manufacturing Indonesia dan Astra Daihatsu Motor, jaringan Wholesale and Distribusi (Auto2000, dll), menyediakan supply chain onderdil mobil melalui Astra Otoparts, memberikan layanan pembiayaan melalui Astra Sedaya Finance dan FIF, dan bahkan layanan pasca pembelian yang tersedia di Astra seperti asuransi melalui Astra Asuransi Buana. Benar-benar komplit dari manufaktur hingga pasca pembelian produk.

Dari sisi layanan produk otomotif, ASII jauh lebih lengkap ketimbang pesaing-pesaingnya, walau mendapat persaingan sengit dari sisi otomotif; dari Mistsubishi dan Wuling di model kendaraan Low Multipurpose Vehicle (LMPV), yaitu Xpander and Confero. Selain itu, ASII sudah melancarkan strategi dengan memberikan diskon, serta berencana membuat produk model baru

ASII juga kuat dari segmen non-otomotif. Penghasil pendapatan terbesar lainnya berasal dari segmen alat berat; United Tractors (UNTR), Agribisnis; Astra Agro Lestari (AALI) dan segmen jasa keuangan; Bank Permata (BNLI), ketiganya berkontribusi besar untuk ASII. Secara khusus, penjualan Komatsu (alat berat) pada bulan Januari-Agustus mencapai 2,411 unit, 74.1% lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (1,385 unit). Karena harga batubara semakin tinggi, maka memungkinkan adanya peningkatan penambangan batubara yang menguntungkan heavy equipment milik Astra.

Dari layanan keuangan; Bank Permata (BNLI) membukukan laba bersih sebesar Rp674.1 miliar, berbalik tajam dari rugi Rp843.5 miliar yang tercatat pada periode yang sama tahun lalu. Secara non-otomotif, ASII cukup kuat. Untuk menambah kontributor pendapatan, ASII bahkan melakukan penambahan modal pada produk-produknya yang terdiversifikasi dan pada tahun 2023-2025 ASII akan memulai bisnis jalan tolnya.

 

Analisa Fundamental ASII

 

Rata-rata pertumbuhan ekuitas ASII adalah 14%. Untuk perusahaan seperti ASII dengan market cap 150T, pertumbuhan ekuitasnya tergolong luar biasa. ASII juga mencatat rata-rata 17.31% dalam 10 tahun untuk pertumbuhan pendapatannya. Ini standar yang baik, mengingat pertumbuhan rata-rata pesaingnya adalah 15%. Sedangkan rata-rata pertumbuhan rata-rata ASII dalam 10 tahun adalah 22.86%. Ini juga dikategorikan bagus. Menurut penilaian growth investing, nilai pertumbuhan untuk saham ini sangat sempurna.

 

Analisa Fundamental ASII

 

Berdasarkan analisa value investing, ASII kurang memuaskan. Namun berdasarkan pertumbuhannya, ASII sangat menarik. Penulis percaya bahwa manajemen ASII sangat kuat, terbukti dari kemampuannya menjaga revenue agar bisa terus stabil bahkan meningkat; dengan cara memperkuat sisi non otomotifnya, sambil terus memperkuat segmen otomotifnya yang sudah dibangun puluhan tahun dengan strategi manajemen yang sangat responsif. Karena manajemen ASII kuat dalam mempertahankan penerimaan pendapatannya, maka sahamnya juga berharga untuk tetap dimiliki.

Arsip Analisa By : Shanti Putri

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'