Berhati-hatilah Pada Saham TAMU

Naiknya pamor PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (kode saham TAMU) belakangan ini, agaknya tidak diikuti oleh kondisi fundamental yang memadai.

acy

iklan

Advertisement

iklan

Saham PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (TAMU) memang sangat menarik, jika dilihat dari volatilitasnya. Betapa tidak, sejak IPO pada tanggal 10 Mei 2017, saham TAMU sudah naik ribuan persen.

Saham TAMU adalah emiten pelayaran minyak yang IPO di harga Rp110/lembar, tertinggi pada tanggal 21 Agustus 2017 di harga Rp4950/lembar. Banyak yang menyesal tidak membeli TAMU sejak IPO, apalagi ketika harga minyak dunia melambung hingga >$50 seperti hari ini, semua menduga TAMU pasti akan kebanjiran order usaha. Padahal, eiits belum tentu.

saham tamu

 

Rencana Pembelian Kapal

Pendapatan modal tambahan dari peluncuran saham perdana TAMU pada tahun 2017 adalah Rp82.5 Miliar atau setara dengan $5,942,739. Peluncuran saham ke publik diakui oleh Leo A, yang merupakan Direktur PT Pelayaran Tamarin Samudra (TAMU) adalah untuk melakukan pengadaan kapal baru yang akan membutuhkan dana hingga US$35 juta. Namun, setelah melakukan pengecekan Laporan Tahunan 2017, tidak ada pembelian kapal yang tercatat di arus kas investasinya. Justru, hanya ada penyusutan pada aset tetap yang sudah ada.

Sampai kini, akhir tahun 2018, penulis mendapati TAMU masih pengumuman untuk menyebarkan itikad mereka untuk membeli kapal baru. Leo mengatakan bahwa TAMU akan pastikan memang ada pembelian kapal di akhir tahun ini, hanya saja saat ini masih dalam tahap pembicaraan soal mekanisme pembiayaan antara hendak melakukan pinjaman dari bank atau right issue. "Untuk pembelian kapal targetnya sekitar US$ 25 juta -US$ 30 juta dan hingga saat ini sumber dananya masih dipertimbangkan," ujarnya.

Lalu, kemana dana IPO kemarin? Masih tanda tanya, karena penulis masih belum menemukannya. Apabila pembaca lebih tahu, silahkan berkomentar di kolom komentar di bawah.

 

Laporan Keuangan dan Pelanggan

Seperti yang kita ketahui, penghujung akhir 2018 sudah di depan mata. Namun, TAMU belum menyerahkan Laporan Keuangan kuartal II, III, apalagi IV. Maka dari itu, LK teranyar yang dapat penulis bedah adalah LK Kuartal I.

Pada bagian pendapatan, diketahui pendapatan TAMU hanya berasal dari dua pelanggan saja, yaitu CNOOC SES Ltd dan PC Ketapang II Ltd. CNOOC SES Ltd menyumbang pendapatan terbesar yaitu $3,518,614; dan sisanya dari PC Ketapang II Ltd sebesar $381,674 saja. Maka total pendapatan TAMU adalah sebesar $3900,288 dengan rincian $3,470,389 nya adalah pendapatan dari jasa Charter Hire dan $429,899 dari jasa Catering.

Pada bagian Beban Pokok Pendapatan Jasa Charter Hire hanya membutuhkan modal sebesar 305,146 sedangkan modal biaya untuk Catering adalah $374,291. Maka bisa disimpulkan bisnis Charter Hire yang mendominasi keseluruhan pendapatan TAMU memang bisnis yang menguntungkan. Total Beban Pokok Pendapatan adalah $3,322,408 (berisikan biaya tambahan untuk jamuan makan, dan tetek bengek lainnya). Lalu perhitungan dilanjutkan dan didapat bahwa memang benar TAMU masih merugi, tetapi ternyata ruginya sudah berkurang banyak, dan nampaknya akan laba ke depannya, apalagi harga minyak dunia naik pastinya akan meningkatkan kegiatan usaha emiten. Namun, ternyata tidak.

Setelah mencari berulang-ulang di laporan laba-rugi dan rincian pendapatan, penulis hanya menemukan dua pelanggan saja, tanpa ada tambahan lain, dengan porsi terbesar diperoleh dari CNOOC SES Ltd. Celakanya, wilayah kerja Southeast Sumatera (SES) yang asalnya dioperatori oleh CNOOC SES Ltd sudah resmi diambil alih 100% oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) yang mana hasil produksi gas lapangan SES digunakan untuk pembangkit listrik milik PLN di Cilegon. Bahkan, 476 dari total 513 karyawan di CNOOC SES Ltd pindah ke Pertamina

 

Hutang Jangka Panjang

Sampai kini, belum jelas nasib TAMU sebagai mitra CNOOC SES Ltd, padahal TAMU mengandalkan pendapatan daripadanya. Dari total pendapatan $3900,288, sebesar $3,518,614 datang dari CNOOC. Setelah CNOOC pergi sejak pertengahan tahun ini, maka nasib tidak jelas bagi TAMU sudah nampak di depan mata. Mungkin itulah sebabnya TAMU tidak merilis Laporan Keuangan Kuartal II, III dan IV.

Yang lebih menakutkan adalah pada bagian hutang jangka panjang yang jatuh tempo di tahun ini, yaitu sebesar $5,175,000 sedangkan pendapatan kotor hanya $3,900,288. Untuk bagian hutang, didapati dalam catatan 16 bahwa TAMU berhutang kepada Bank Mandiri sebesar $26,771,602 dan Bank Mandiri Syariah sebesar $22,853,988. Total semuanya adalah $49,625,590 yang akan jatuh tempo pada tahun 2022 untuk Bank Mandiri dan 2020 untuk Bank Mandiri Syariah. Apabila emiten gagal melaksanakan kewajibannya, maka jaminannya adalah kapal-kapal TAMU, yaitu Petroleum Pioneer, Petroleum Excelsior, Petroleum Superior dan Petroleum Charlie.

Mungkin inilah mengapa emiten kerap mengumumkan bahwa TAMU akan membeli kapal baru, hingga terakhir kali berita tersebut diulang pada bulan Oktober 2018. Penulis pikir untuk apa ngotot ingin membeli kapal, toh klien utamanya sudah tidak beroperasi, dan sekarang juga belum punya kontrak lagi dengan siapapun (apabila sudah punya kontrak baru pastinya akan diumumkan, tetapi ini kan tidak ada). Nampaknya emiten TAMU kelihatannya sudah yakin bahwa kapal-kapal yang saya sebutkan diatas akan disita oleh Mandiri, karena tidak mampu membayar hutang, sehingga emiten hendak mengambil pinjaman lagi atau melakukan right issue untuk membeli kapal baru agar perusahaan bisa tetap memiliki mata pencaharian.

 

Simpulan Mengenai Saham TAMU

Karena ketidakjelasan nasib ini maka penulis ingatkan pembaca untuk berhati-hati dengan saham TAMU, karena potensinya untuk rontok cukup besar.

Pertama, pelanggan utamanya sudah tidak beroperasi dan tidak ada kejelasan bagi TAMU, sehingga sangat berpotensi kehilangan pendapatan secara masif.

Kedua, hutang TAMU cukup besar, sedangkan pemasukan masih tanda tanya, maka TAMU cenderung akan kehilangan kapal-kapalnya (disita Mandiri karena nampaknya tidak akan mampu membayar utang).

Ketiga, belum ada kontrak baru yang bisa menyelamatkan masa depan TAMU.

Emiten ini memang fantastis, laba masih minus, dan ternyata cenderung menuju ke arah kebangkrutan. Ditambah lagi ketidakjelasan masa depan; kontrak baru tidak ada tapi harga sahamnya sejauh ini sudah naik luar biasa. Selagi masih tinggi, apabila Anda memiliki saham ini, penulis sarankan untuk berhati-hati.

Arsip Analisa By : Shanti Putri

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'



Muslim
terimakasih infonya, sangat bermanfaat terutama untuk saya yang pemula