iklan

Bukan Karena Corona, Ini Alasan KFC Rumahkan Karyawan

Di tengah krisis ekonomi akibat pandemi Corona, tak sedikit perusahaan yang merumahkan karyawannya. Salah satunya adalah KFC. Namun, benarkah kebijakan tersebut diambil karena Corona?

iklan

iklan

Dalam berinvestasi saham, kita disarankan untuk membeli emiten yang produk-produknya ada di sekitar kita. Ujaran bertajuk "berinvestasi itu mudah" tentu banyak digembor-gemborkan di berbagai media. Salah seorang investor kawakan yang namanya sering disebut-sebut di media massa, plus sekelompok tim yang terkenal akan "bandarmologi"-nya pernah mengatakan:

"Belilah saham yang dikenal, yang produk-produknya ada di sekitar kita, misalnya sabun mandi, layanan perbankan, kendaraan, dan sebagainya. Berinvestasi itu mudah, kok.

Ada seseorang yang membeli saham dengan cara bodoh. Setiap ada uang, dia belikan saja BBCA. Hari ini sudah kaya raya. Beliau begitu karena gajiannya di BBCA, dan ini bank yang terkenal dimana-mana ada cabangnya. Ya begitu aja. Investasi itu gampang, kok"

Hmm, andai memilih saham memang semudah itu yaa...

Cara Memilih Saham(Baca Juga: 10 Langkah Memilih Saham Berkualitas)

Pertanyaannya, apakah produk-produk yang familiar itu menjamin nilai suatu saham selalu stabil? Pada analisa kali ini, kita akan mengulas soal Fast Food Indonesia Tbk (FAST) atau yang kita kenal sebagai KFC (Kentucky Fried Chicken). Restoran cepat saji yang punya tagline "Memang Jagonya Ayam" ini dikabarkan telah merumahkan ratusan karyawan dan memotong gaji hingga 50%. Padahal, produk olahannya sudah banyak dikenal hingga memiliki banyak cabang di hampir setiap mall. Apa sebabnya?

 

Corona Bukan Alasan Utama KFC Rumahkan Karyawan

Pandemi Covid-19 di Indonesia sejak dua bulan belakangan memberikan efek dahsyat bagi perekonomian, termasuk bisnis restoran sekelas KFC. Per tanggal 13 April 2020 lalu, sebanyak 450 pekerja KFC Region Jawa dirumahkan dan dipotong gajinya. Pekerja dengan upah di atas Rp3 juta akan dipotong 50%, sementara pekerja dengan upah di bawah Rp3 juta akan dipotong 30%. Namun, apakah benar bila kebijakan tersebut dilatarbelakangi oleh pandemi Corona?

KFC, Jagonya Ayam

Faktanya, keputusan FAST untuk merumahkan ratusan karyawan disebabkan oleh arus kas yang kurang baik. Berdasarkan Laporan Keuangannya, dapat dikatakan bahwa KFC saat ini tengah rentan krisis.

Menurut LapKeu terakhir (Q3/2019), pendapatan emiten FAST sebesar Rp5,013,114,043,000 (5 Triliun). Dari angka tersebut, Beban Pokok Penjualan terakumulasi sebanyak 38%, atau sekitar Rp1,874,569,493,000 (1.8 Triliun). Beban pokok penjualan terdiri dari pasokan ayam, nasi, cola, dan sebagainya. Artinya, Margin Laba Kotor sebesar 62% atau sekitar Rp3,138,544,550,000 (3.13 Triliun). Jika dilihat dari sudut pandang investor, maka kondisi tersebut bisa dianggap baik.

Sayangnya, dari sisa Laba Kotor sebesar 3.13 Triliun tersebut, 2.48 Triliun-nya telah digunakan sebagai beban penjualan dan distribusi. Beban gaji karyawan menjadi poin pengeluaran dengan nominal terbesar, yakni 675 Miliar (49% dari total beban penjualan dan distribusi). Angka tersebut belum termasuk promosi penjualan dan sewa gedung untuk membuka outlet serta cabang baru KFC. Alhasil, Laba Usaha KFC hanya 206.5 Miliar, sementara Laba Bersih-nya sebesar 175.7 Miliar.

Laporan Keuangan FAST

Hal inilah yang membuat banyak investor jangka panjang malas melirik FAST sebagai pilihan investasi. Dari sebegitu besarnya Margin Laba Kotor KFC, Laba Operasional hanya mendapatkan "sisa" sekitar 4%-an saja. Laba Operasional yang mungil membuatnya rentan terkena krisis tak terduga, seperti saat pandemi Covid-19 kali ini.

Kondisi tersebut dinilai kurang baik, karena karyawan harus tetap dibayar meski penjualan sedang tidak stabil. Karyawan cenderung tidak mau tahu; setiap tahun ingin gaji selalu naik, bonus besar, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, porsi gaji karyawan serta biaya-biaya lainnya dalam beban penjualan tidak boleh terlalu besar, apalagi sampai 49% dari total pendapatan.

 

Meski Laris, KFC Termasuk Rentan Krisis

Margin Laba KFC

Berdasarkan grafik di atas, maka bisa dilihat jika Margin Laba KFC ternyata memang bertahan di angka segitu saja sejak 2013; 60% untuk Margin Laba Kotor, 4% untuk Margin Laba Operasi, dan menyisakan 2-3% untuk Margin Laba Bersih. Sebagai seorang investor, di sinilah kemampuan penilaian suatu saham diperlukan. Meski KFC ada dimana-mana dan produknya laris, tetapi dinilai kurang prospektif dan rentan krisis. Mengapa?

Alasannya adalah karena beban yang diampunya terlalu besar, sehingga exposure terhadap keadaan kahar (Force Majeur) sangat tinggi. Ketika diberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) seperti saat ini, maka habislah sudah. Karyawan masih harus dibayar meski pemasukan kosong melompong. Cadangan kas? Sangat minim, hanya 725 miliar. Angka tersebut tentu tidak akan cukup untuk bertahan. Sepanjang Kuartal III saja, beban biaya penjualan dan administrasi sebesar 2.48 Triliun, gaji karyawan 675 Miliar, belum lagi sewa gedung 370 miliar, bayar listrik, dan lain-lainnya.

Bila pandemi Covid-19 ini terus berlangsung, KFC mungkin bisa benar-benar bangkrut. Bukan karena buruknya manajemen atau jeleknya produk, tetapi karena bebannya terlalu besar. Karyawan harus dibayar, begitu pula listrik dan beban lainnya. Di sisi lain, pemasukan nyaris tidak ada. Pemesanan secara online juga tampaknya tidak cukup membantu.

Arsip Analisa By : Shanti Putri
292814

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'


Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone