Cari Mitra, Pengembangan Anak Usaha Ala Telkom

204996

Walau Indosat dan XL Axiata memilih melego menaranya, nampaknya Telkom lebih suka mengembangkan anak usaha dengan mencari mitra strategis. Hal ini sudah dilakukan Telkom ketika menggandeng Transvision Group untuk mengembangkan Telkom Vision. Dengan strategi yang sama, perusahaan ini akan membesarkan bisnis anak usaha Telkom yang lain, termasuk bisnis menara Mitratel.

Xm

iklan

FirewoodFX

iklan

PT XL Axiata, Tbk (EXCL) baru saja mengkonfirmasi ke publik tentang penjualan 3.500 menaranya kepada PT Solusi Tunas Pratama, Tbk (SUPR). Nilai transaksi penjualannya mencapai Rp. 5,6 trilyun. Langkah penjualan menara oleh EXCL bukan sesuatu yang baru dilakukan oleh perusahaan penyedia jasa operator seluler. Sebelumnya, PT Indosat, Tbk juga melepas tower tower yang dia miliki kepada PT Tower Bersama Infrastructure Group, Tbk (TBIG). Jauh sebelum Indosat melego menara-menaranya, Tri Indonesia dan Bakrie Telecom juga sudah melego menara milik mereka.

Satu persatu, operator seluler mulai melepas tower yang notabene adalah sarana dan prasarana penunjang bisnis mereka. Namun, dengan beban pemeliharaan dan perawatan menara terbilang cukup besar, maka pilihan untuk melego pun dianggap sebagai pilihan yang terbaik. Mengingat, jika unit usaha menara masih menginduk pada perusahaan operator seluler, penyewa menara sebagai konsumen usaha tersebut jadi lebih sedikit. Sehingga, karena pendapatan sewa kurang maksimal, beban besar untuk operasional menara pun mau tidak mau menjadi tanggungan perusahaan induk. Selain itu, dengan melepas menara maka akan menjadikan perusahaan dapat lebih fokus kepada jasa seluler yang menjadi inti bisnisnya.

Walau Indosat dan XL Axiata lebih memilih melego menaranya, nampaknya Telkom lebih memilih untuk mengembangkan anak usaha dengan mencari mitra strategis. Hal ini sudah dilakukan Telkom terlebih dahulu ketika menggandeng Transvision Group untuk mengembangkan Telkom Vision. Dengan strategi yang sama, Telkom akan membesarkan bisnis anak usaha lainnya, termasuk bisnis menara.

Mitratel

Share Swap, Back Door Listing, Atau...

Bisnis menara Telkom ditangani sepenuhnya oleh anak usaha Telkom, PT Daya Mitra Telekomunikasi, atau Mitratel. Beberapa bulan terakhir, berita bahwa Telkom akan segera melepas Mitratel kian berhembus kencang. Jika bisnis menara masih dibawah kendali perusahaan operator, maka pendapatan dari sewa lebih sedikit ketimbang beban biaya operasionalnya. Rasio tenansi Mitratel masih rendah, atau sebesar 1,2 kali dengan rasio tenansi pada perusahaan menara independen sebesar 2 kali. Itu sebabnya mengapa perusahaan menara yang tidak menginduk pada perusahaan telekomukasi terbukti cepat tumbuh lebih besar. Karena itulah, Telkom berupaya untuk mengembangkan Mitratel dengan mencari mitra strategis. Melepas Mitratel bisa menjadikan Telkom dapat lebih fokus mengembangakan usaha inti perseroan, yaitu sebagai perusahaan operator jasa telekomunikasi.

Telkom pernah mengkonfirmasi kepada publik tentang wacana membesarkan Mitratel, yaitu dengan melakukan tukar guling atau share swap dengan Tower Bersama Group. Saat ini Mitratel memiliki 3.500 menara, dengan aset mencapai Rp 8,45 trilyun rupiah. Namun, untuk menggemukkan aset Mitratel, Telkom berencana untuk memindahkan 14.000 tower milik Telkomsel ke Mitratel. Dengan penambahan ini, maka baik backdoor listing dengan membeli Shell Company ataupun share swap akan jadi lebih mudah dilakukan. Atau bisa juga, tanpa share swap ataupun backdoor listing, Mitratel langsung IPO.

Mencari Mitra Untuk Kembangkan Bisnis Anak Usaha

Selain sedang mencari mitra untuk mengembangkan Mitratel, Telkom juga nampaknya sedang mencari mitra bisnis untu mengembangkan bisnis anak usahanya yang lain. Telkom berencana melepas 20% sahamnya di PT Sigma Cipta Caraka serta PT Metra TV. Metra TV adalah pengelola UseeTV, layanan TV dan radio streaming yang memiliki pelanggan aktif sebanyak 1,2 juta. Telkom mengendalikan Metra TV melalui anak usahanya yang menangani bisnis information, media dan education, yaitu Telkom Metra.

Dengan strategi ini, tujuan yang ingin dicapai Telkom adalah untuk memperbesar layanan video streaming UseeTV yang dikelola oleh Metra TV. Perseroan menargetkan mampu menjaring 10 juta pelanggan dalam waktu lima tahun mendatang. Target tersebut dinilai dapat terealisasikan, mengingat pengembangan UseeTV yang berbasis internet lebih mudah daripada bisnis televisi berbayar via satelit. Apalagi, basis internet dinilai lebih efisien dari segi operasional. Maka, MetraTV dinilai memiliki prospek menarik.

Anak usaha yang sedang dicarikan jodoh lainnya adalah PT Sigma Cipta Caraka. PT Sigma Cipta Caraka atau Telkom Sigma merupakan perusahaan jasa teknologi informatika, implementasi, integrasi sistem, outsourcing, serta pemeliharaan lisensi dan peranti lunak. Telkom Sigma beroperasi sejak Mei 1987, dan hingga sekarang memiliki aset tercatat hingga Rp 2,08 triliun. Pencarian mitra strategis untuk Telkom Sigma karena Telkom memfokuskan di data center dan manage services. Untuk mendukung target tersebut, Telkom sudah menggandeng perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, IBM untuk membangun data center seluas 100.000 meter persegi.

Fokus Telkom Di Luar Negeri

Telkom sudah menyerahkan urusan ekspansinya di luar negeri kepada anak usahanya, yakni Telin (PT Telekomunikasi Indonesia Internasional). Nampaknya tahun ini menjadi tahun dimulainya ekspansi ke luar negeri yang lebih agresif. Ekspansi ini dimulai dengan tiga proyek infrastruktur jaringan telekomunikasi internasional, diantaranya mega proyek sistem kabel laut luar negeri dengan jalur South East Asia-Middle East-Western Europe 5 (SEA-ME-WE5), sistem kabel laut jalur South East Asia- United States (SEA-US), dan jaringan Indonesia Global Gateway (IGG).

Telin
Setiap tiga proyek Infrastuktur memiliki bentuk model pengembangan tersendiri. Misalnya saja proyek proyek sistem kabel laut luar negeri dengan jalur South East Asia-Middle East-Western Europe 5 (SEA-ME-WE5), Telin menggandeng 12 perusahaan telekomunikasi di Asia dan 2 perusahaan Eropa. Proyek ini memiliki panjang sekitar 20.000 KM, terbentang dari Asia Tenggara ke Eropa, Perancis, dan Italia. Mega proyek ini nantinya akan menghubungkan 17 negara yang dilaluinya.

Proyek kedua yakni sistem kabel laut jalur South East Asia- United States (SEA-US) merupakan sistem label laut yang memiliki panjang 15.000 k m. Kabel laut tersebut menghubungkan lima area dan teritori yaitu Manado (Indonesia), Davao (Filipina), Piti (Guam), Oahu (Hawaii) dan Los Angeles. Dan proyek ketiga yaitu jaringan Indonesia Global Gateaway (IGG) atau jaringan yang membentang dari Medan sampai Menado. Infrastruktur tersebut menghubungkan jalur SEA ME-WE 5 ke arah barat hingga Eropa dan jalur SEA-US ke arah timur hingga Amerika Serikat.

Baru-baru ini Telkom juga mengabarkan telah mengakuisisi perusahaan asal Australia, Contact Centres Australia CCA) dan membentuk join venture dengan Telstra Corporation Limited. Perusahaan hasil Joint Venture ini dibentuk untuk memberikan layanan dan aplikasi jaringan (NAS) kepada perusahaan-perusahaan Indonesia, multinasional, dan perusahaan Australia yang beroperasi di Indonesia. Dengan berbekal relasi korporasi Telkom yang bagus, jaringan dan data center yang sudah diperbesar kapasitasnya, dan juga reputasi Tesltra Corporation Limited, NAS dipercaya dapat tumbuh signifikan dimasa yang akan datang. Joint Venture ini pun semakin memantapkan posisi Telkom di industri ICT di regional.

Tak berhenti sampai disitu, melalui Telin Telkom berupaya melebarkan bisnisnya hingga ke Selandia Baru, dengan mengakuisisi salah satu perusahaan operator di negeri itu. Perusahaan operator telekomunikasi yang tengah dikait – kaitkan dengan Telkom adalah Two Degress Mobile Ttd.

Raksaksa Yang Makin Perkasa

Penulis pernah menulis mengenai “Raksaksa Yang Makin Perkasa” ini beberapa bulan yang lalu. Ya, selama semester pertama tahun 2014, pendapatan Telkom mampu tumbuh 8% jika dibandingkan dengan pendapatan diperiode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih tercatat sebanyak 10 trilyun, atau naik 3% jika dibandingkan dengan laba bersih di periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara fundamental, Telkom masih bagus kinerjanya. Net Profit margin Telkom masih besar, yaitu berkisar 24%. Dengan ROA dan ROE yang masih menarik, yaitu berkisar 16% dan 35%. Dan juga jumlah hutang yang dimiliki Telkom berkisar 42% dari total asetnya. Namun, perlu dicermati bahwa Price Book Value (PBV) Telkom sudah berkisar 4,7 kali dan PER yang diperdagangkan berkisar 19 kali.

Jika melihat aksi korporasi yang sudah dilakukan manajemen untuk membesarkan bisnis anak usaha, bukan tidak mungkin jika kedepannya, Telkom yang kini sudah menjadi perusahaan besar dapat lebih besar lagi. Disaat Indosat dan XL Axiata melepas menara-menara yang mereka miliki, Telkom justru memilih mencarikan jodoh untuk mengembangkan bisnis menara dibawah bendera Mitratel. Demikian pula, Telkom mencarikan jodoh-jodoh untuk Telkom Sigma dan MetraTV yang tak lama lagi akan mendapatkan partner bisnis untuk mengembangkan usahanya. Sehingga, ketika anak usaha tersebut berhasil dibesarkan, maka Telkom pun secara langsung akan ikut besar.

Aksi korporasi Telkom di luar negeri juga perlu diapresiasi, mengakuisisi perusahaan di luar negeri dan membentuk joint venture dapat membuat pundi-pundi Telkom makin besar. Sehingga, jika Anda tertarik dan suka dengan Telkom, selamat berinvestasi.

Arsip Analisa By : Royan Aziz

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.