OctaFx

iklan

ERAA: Raja Distributor Ponsel Indonesia Masih Berpotensi Upside

288317

Kendati sudah naik ratusan persen sejak 2017, ERAA masih memiliki peluang untuk naik. Bagaimana analisa selengkapnya? Mari simak sama-sama di bawah ini.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) adalah perusahaan Indonesia yang kegiatan bisnis utamanya berkaitan dengan distribusi dan penjualan eceran ponsel dan tablet, Subscriber Identity Module Card (SIM Card), voucher isi ulang prabayar, aksesoris gadget, serta perangkat elektronik IoT lainnya. Perusahaan ini tidak hanya berkolaborasi dengan merek-merek terkenal, tetapi juga dengan penyedia jaringan seluler untuk meningkatkan kegiatan bisnisnya.

Analisa Saham ERAA

ERAA mengoperasikan toko ritelnya di bawah berbagai merek, seperti Erafone Megastore; Toko Gadget Erafone; iBox yang menjual produk-produk Apple secara eksklusif; dan AndroidNation yang menjual produk-produk Android secara eksklusif. Anak perusahaannya termasuk PT Teletama Artha Mandiri, PT Erafone Artha Retailindo, PT Sinar Eka Selaras dan PT Data Citra Mandiri. ERAA Kini juga merambah perdagangan ritel software dengan nama PT Data Tekno Indotama pada 12 April 2019 sebagai entitas anak PT Erajaya Swasembada Tbk dengan kepemilikan penuh.

ERAA adalah pemimpin pasar industri distribusi gadget di Tanah Air dengan pangsa pasar sekitar 35% di tahun 2017. Dengan ratusan distribusi pusat dan ritel, serta outlet pihak ketiga sebanyak lebih dari 53,000 buah, perusahaan ini menjadi distributor gadget terbesar se-Indonesia. Dalam waktu dekat ini, tidak ada perusahaan distributor sejenis yang setara dengan ERAA dalam hal ukuran dan kapasitas bisnis. Itu membuat ERAA menjadi penguasa distribusi gadget dan penjualan eceran di Indonesia.

Tahun lalu, ERAA membuka 212 toko baru di Indonesia, Malaysia, serta Singapura, sehingga total kini ERAA sudah memiliki 936 outlet dan 62 diantaranya dibuka di luar negeri. Tahun ini, sebanyak 330 toko ritel tambahan akan dibuka. Kini, ERAA masih fokus menggarap pasar dalam negeri, karena kontribusi dari toko ritel di luar negeri masih belum besar.

 

Finansial ERAA

Berikut data finansial ERAA secara garis besar:

Data Finansial ERAA

Seperti yang dapat kita lihat, dari 2012 hingga 2014, ada penurunan yang signifikan pada pendapatan dan laba bersih ERAA. 2013 adalah tahun ketika produk-produk black market merajalela dan sangat memengaruhi ERAA sebagai pemain terbesar dalam distribusi gadget dan penjualan eceran. Segalanya membaik dari tahun 2014, saat ERAA berinvestasi pada manajemen sumber daya manusianya dan berhasil meningkatkan pendapatn sejak 2014. Kemudian di tahun 2015, ERAA sudah berhasil meningkatkan keseluruhan kinerjanya dan membuat laba bersih mulai bergerak positif.

 

Diuntungkan Oleh Pemberantasan Black Market

Secara manajemen, ERAA memang terbilang baik, ditambah lagi adanya kebijakan dari pemerintah yang mendukung ekspansi ERAA. Sejak 2016, pemerintah berkomitmen untuk memberantas gadget-gadget black market yang dapat mengurangi pendapatan pajak negara. Sejak saat itu, rekening ilegal, lisensi, dan pengadaan barang black market diberantas. Sistem basis data IMEI (International Mobile Station Equipment) diterapkan untuk mengatasi penjualan gadget ilegal. Sebagai importir smartphone yang legal dan terbesar di Indonesia, ERAA mendapatkan banyak manfaat dari hal ini.

Kebijakan International Mobile Equipment Identity (IMEI) cenderung akan berlanjut dan berpotensi merebut pangsa pasar black market yang saat ini mencapai 20%. Dikutip dari Kontan, jika Palapa Ring rampung Juni 2019, maka ERAA punya peluang untuk mengembangkan pangsa pasarnya hingga ke Indonesia Timur sehingga tidak hanya berpusat di pulau Jawa saja.

Selain dari pemberantasan black market, rupanya ERAA juga mendapat berkah dari pola konsumsi masyarakat Indonesia yang terbilang unik. Mengapa unik? Sepanjang 2018 PT Erajaya Swasembada Tbk (ERRA), mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 43% menjadi Rp34.7 triliun, yang merupakan pencapaian luar biasa karena sebenarnya kondisi makro dikhawatirkan akan menurunkan pembelian ponsel pintar.

 

Tetap Kuat Meski Rupiah Melemah

Riset yang dilakukan oleh Canalys melaporkan bahwa Pada tahun 2018, pertumbuhan Smartphone cenderung konsisten meski nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS sempat melemah. Merosotnya Rupiah akan membuat komponen Smartphone yang diimpor ke dalam negeri semakin mahal dan mengerek naik harganya. Namun nyatanya, pertumbuhan Smartphone tetap melaju.

Sepanjang tahun 2018, emiten dengan kode saham ERAA di Bursa Efek Indonesia ini menjual lebih dari 16 juta Smartphone atau tumbuh 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan rata-rata harga penjualan produk meningkat 13% menjadi Rp1.8 juta per item. Dengan begitu, sepanjang tahun lalu, ERAA berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp34.7 triliun atau tumbuh 43% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar (Rp24.2 triliun).

Sedangkan untuk laba bersih, ERAA mencatatkan pertumbuhan 150% secara year-on-year (YoY) dari Rp339.5 miliar menjadi Rp850.1 miliar. Hasan Aula, CEO ERAA, menyebutkan bahwa rata-rata persediaan perusahaan meningkat di atas 50 hari, sehingga menyebabkan peningkatan arus kas perusahaan. Hal ini pun membuat level pinjaman bank juga meningkat.

Padahal di tahun 2018, biaya iklan dan promosi dikurangi 11% menjadi RP254.33 miliar saja, mengantisipasi sepinya pasar diakibatkan naiknya harga Smartphone karena menurunnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Ternyata, pasar merespon berbeda. Pendapatan ERAA justru meningkat 43% karena industri gadget Tanah Air memang masih sangat menarik.

Sepanjang 2018, Canalys mencatat pertumbuhan pengiriman Smartphone di Indonesia mencapai dua digit, yakni sebesar 17,1 persen dibanding tahun 2017. Jumlah Smartphone yang diimpor di tanah air selama tahun 2018 mencapai 38 juta. Sementara pada kuartal IV-2018, jumlah pengiriman Smartphone tercatat sebanyak 9.5 juta unit, naik 8.6 persen secara YoY.

Pertumbuhan konsumen Smartphone di Indonesia

Pertumbuhan ini menunjukan bahwa pasar Smartphone Indonesia telah kembali bergeliat setelah mengalami titik terendahnya tahun 2016 lalu, dengan pertumbuhan tahunan -3,3 persen. Sementara di tahun 2017, pertumbuhan tahunannya hanya 0.6 persen. Salah satu faktor lesunya pasar Smartphone di Indonesia kala itu adalah regulasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang diberlakukan pemerintah.

 

Potensi Industri Gadget di Indonesia

  1. Berdasarkan laporan survei yang dilakukan lembaga Pew Research Center pada bulan Februari 2019, hanya 42 persen dari populasi penduduk Indonesia yang memiliki perangkat Smartphone. 28 persen memiliki ponsel  Non Smartphone, dan 29 persen lainnya tidak memiliki keduanya. Dengan demikian, potensi pasar yang dapat digarap oleh ERAA masih sangat luas.
  2. Lebih lanjut, Pew Research mengungkapkan bahwa generasi muda dominan dalam mendorong penetrasi Smartphone. Orang-orang muda dinilai lebih cenderung terhubung secara digital dan memiliki perangkat Smartphone untuk mengakses internet serta menggunakan media sosial (medsos).
  3. Perlu diketahui bahwa di tahun 2018, jumlah penduduk generasi muda usia produktif antara 15-54 tahun mendominasi Indonesia, dengan penyebaran penduduk pada rentang usia adalah sebagai berikut:

    Penduduk Indonesia
  4. Ekonomi berbasis perangkat teknologi seperti penggunaan jasa angkutan online, dompet digital, sosial media, bahkan aplikasi messenger turut mendongkrak permintaan Smartphone.
  5. Ternyata banyak konsumen Indonesia merasa butuh mengganti ponsel lawasnya seiring dengan terus bertumbuhnya persaingan ponsel.

 

Seberapa Besar Potensi Upside ERAA?

  • Dengan harga 1605/lembar saham dan EPS sebesar 276.53, maka rasio PE ERAA berada di angka 5.89. Boleh dikatakan, ERAA masih tergolong murah secara valuasi sehingga potensinya untuk naik masih cukup besar.
  • Penetrasi Smartphone Indonesia yang masih rendah dan peluang dari Palapa Ring yang akan segera memungkinkan ERAA untuk membuka gerai di Indonesia timur, semakin menambah potensi ekspansi yang menjanjikan.
  • Manajemen ERAA cukup gesit dalam bertindak; segala peluang yang ada dijajal demi menjadi yang terbesar dan paling unggul dari semua. ERAA cenderung ekspansif dan eksploratif dengan berusaha menjajal kemampuannya untuk melakukan penetrasi pasar luar negeri selain dalam negeri.
  • Disrupsi yang diakibatkan oleh penjual gadget secara online tidak meresahkan ERAA, sebab ERAA juga sedang berusaha melakukan penjualan secara online dengan membuka toko online resmi di beberapa marketplace ternama. Namun, penjualan online tidak akan terlalu diutamakan sebab ERAA menyadari bahwa masyarakat kini cenderung masih mengunjungi gerai offiline dengan alasan kemudahan klaim garansi produk, serta kesempatan konsultasi pembelian produk sebelum membeli.

 

Faktor Penghambat ERAA

Keinginan ekspansi yang besar mengakibatkan ERAA memiliki utang nyaris dua kali lipat dari modal kerjanya. Diketahui pada tahun 2018, total liabilitas ERAA adalah 7.86 triliun dengan ekuitas sebesar 4.83 triliun.

Hal ini sebenarnya masih dapat tertangani dengan baik mengingat pendapatan ERAA yang besar dan terus meningkat. Namun, penulis mengingatkan bahwa apabila suatu saat nanti utang sudah jauh lebih besar dan melebihi kapasitas produktivitasnya, maka itulah saat yang tepat untuk melepas ERAA secara fundamental.

 

Kesimpulan

Untuk saat ini, ERAA masih baik untuk dikoleksi mengingat selera masyarakat Indonesia terhadap ponsel masih sangat tinggi dengan potensi penetrasi sebesar 58%. ERAA sebagai raja industri distributor gadget terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar sepertiga dari seluruh gerai ponsel di Indonesia, memiliki peluang besar untuk meraup peluang penetrasi pasar ponsel di negeri ini. Belum lagi, kebijakan pemerintah yang mendorong pemberatasan ponsel di pasar gelap juga turut menambah besar peluang ERAA untuk terus ekspansi menjangkau masyarakat di seluruh Indonesia.

 


DISCLAIMER ON

Analisa ini bukan ajakan untuk membeli. Penulis sendiri sudah memiliki saham ERAA sejak Desember 2017. Pembaca dianjurkan menganalisa lebih lanjut sebelum memutuskan meyakini hal-hal yang dipaparkan di atas. Dipersilakan kepada pembaca untuk melakukan pemeriksaan data-data yang diungkapkan di atas.

Arsip Analisa By : Shanti Putri

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'



Anna
Thank you, Bu Shanti. Saya sudah agak lama pegang ERAA juga, tapi agak ragu belakangan ini karena utang terlalu gede itu. Termasuk emiten yang sedang anyep juga dalam portofolio. Tapi di sisi lain, ini outlook industrinya bagus. Jadi ragu-ragu. Menurut perkiraan Ibu, "utang sudah jauh lebih besar dan melebihi kapasitas produktivitasnya" itu liabilitas berapa kali ekuitas ya? Kira-kira aja bu, untuk wanti-wanti dalam LK berikutnya.
Seputarforex
Pembahasan mengenai utang ERAA telah dibahas lebih lanjut dalam artikel khusus. Silahkan mengunjunginya di halaman "Akankah Ekspansi ERAA Berujung Melapetaka?"