Advertisement

iklan

Evaluasi Kinerja Saham-Saham Konstruksi Di Tahun 2019

Kinerja saham-saham konstruksi BUMN menorehkan capaian masing-masing di tahun 2019. Perusahaan mana yang lebih unggul? Simak ulasannya sebagai berikut.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Terdapat perbedaan capaian kinerja saham-saham konstruksi BUMN pada tahun 2019. Terlihat di Wijaya Karya, perusahaan dengan nama emiten WIKA ini mampu menorehkan imbal hasil (return) hingga 32% dalam 1 tahun. Sementara, Adhi Karya (ADHI) menghasilkan return -23,7%, PP Persero (PTPP) -15%, dan Waskita Karya (WSKT) -14%. Apa yang membuat WIKA mampu lebih unggul dibandingkan perusahan konstruksi lainnya?

Kinerja saham berbanding lurus dengan fundamental perusahaan tersebut. Hal ini merupakan poin penting pertama yang harus di highlight. Kinerja fundamental berhubungan dengan faktor kinerja keuangan perusahaan yang bersangkutan. Beberapa di antaranya bisa dilihat melalui indikator berikut ini.

  1. Pendapatan yang stabil dan cenderung meningkat
  2. Profitabilitas margin yang stabil dan cenderung meningkat
  3. Beban bunga, dan beban hutang yang stabil
  4. Laba per saham (EPS) yang meningkat
  5. Likuiditas keuangan perusahaan yang terjaga
  6. Laba bersih yang stabil dan cenderung meningkat
  7. Dividen yang stabil dan selalu meningkat

Dari 7 poin di atas, WIKA bisa dikatakan mampu menjawab itu semua. Namun, tidak semua perusahan konstruksi BUMN memiliki kondisi yang sama. Poin nomor 5 bisa di dikatakan sama semua antar perusahaan konstruksi. Sebab, perusahaan konstruksi memiliki arus rata-rata kas negatif, dikarenakan belum terbayarnya kontrak-kontrak kerja oleh pemerintah.

 

Nilai Laba Bersih Perusahaan Konstruksi

 Ada empat emiten, yaitu WIKA, PTPP, ADHI, dan WSKT, dengan nilai laba bersih masing-masing sebagai berikut.

Kinerja Saham-saham Konstruksi di

Dari kinerja laba bersih pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa WIKA memiliki capaian laba bersih paling besar, dibandingkan dengan perusahaan konstruksi lainnya. Selain itu, secara efisiensi kinerja WIKA, juga dinilai berhasil. Hal tersebut didasari oleh perbandingan antara laba bersih dan total aset WIKA yang menduduki peringkat atas, yaitu 1.7%. Sedangkan lainnya, antara lain PTPP 0.93%, ADHI 0.68%, dan WSKT 0.76%.

 

Capaian Laba Per Saham Perusahaan Konstruksi

Selain laba bersih, kineja perusahaan juga dapat dinilai dari pencapaian laba per saham atau Earning Per Share (EPS). Nilai laba per saham dari empat perusahaan konstruksi dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Kinerja Saham-saham Konstruksi di

Apabila kita bandingkan kinerja year-on-year (yoy), hingga kuartal-III, WIKA mampu membukukan pertumbuhan EPS yang lebih baik dibandingkan 3 kompetitornya. Sebab itu, tidak salahnya jika investor domestik maupun asing banyak yang mengincar saham WIKA untuk dijadikan investasi atau portfolionya.

 

Kinerja Emiten WIKA

Segmen bisnis WIKA terbagi menjadi 4 segmen industri, antara lain industri umum, infrastruktur, energi dan properti. Pencapaian dari masing-masing industri oleh WIKA dapat dilihat sebagai berikut. 

Kinerja Saham-saham Konstruksi di

Berdasarkan gambar di atas, infrastruktur merupakan segmen yang paling besar bagi bisnis WIKA. Sampai dengan bulan Oktober 2019, kontrak baru WIKA secara tahunan mengalami peningkatan sebesar 9.43%. Hal ini menunjukkan bahwa EPS WIKA sangat besar untuk bisa kembali naik dibanding tahun 2018 lalu.

Kinerja Saham-saham Konstruksi diSumber: Stockbit

Lalu bagaimana kinerja WIKA pada bulan Januari nanti? Menurut data 10 tahun terakhir pada gambar di atas, probabilitas kenaikan saham WIKA di bulan Januari mencapai 80%. Nilai peluang ini menjadi tertinggi jika dibandingkan dengan 11 bulan lainnya. Dengan demikian, WIKA layak untuk masuk dalam salah satu saham pilihan Anda, ya.

Arsip Analisa By : Aditya Putra
291479

Aditya Putra telah aktif di dunia saham selama lebih dari 6 tahun dan hingga saat ini masih menjadi seorang Equity Analyst di perusahaan sekuritas. Aditya menyukai Value Investing, selalu berhasrat menemukan 'Hidden Gems' di saham-saham Small Caps Indonesia, dan terus mengamati saham-saham yang 'salah harga'.