Harga Emas Minggu Ini Bergantung Pada Nada FOMC

290081

Minggu lalu, harga emas melemah oleh risk appetite investor, membaiknya data ekonomi AS, dan meredanya perang dagang AS-China. Minggu ini, Statement FOMC dan pernyataan Powell akan menjadi katalis.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan XAU/USD berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar hingga akhir minggu lalu (13 September 2019), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Minggu lalu, harga emas kembali mengalami depresiasi dan ditutup pada USD1488.62 per troy ounce, atau melemah 1.23% dibandingkan harga penutupan minggu sebelumnya. Pelemahan ini telah memasuki minggu ketiga secara berturut-turut, akibat risk appetite investor yang berlanjut dan membaiknya data ekonomi AS.

Dalam perjalanannya, harga logam mulia sempat menguat dan menyentuh level 1524 pasca ECB meeting, tetapi berbalik bearish setelah hasil rilis data ekonomi AS di atas perkiraan. Dalam rapat Kamis minggu lalu, ECB mengumumkan program stimulus baru dengan menyuntikkan dana senilai €20 miliar ke sistem perbankan, dan menurunkan suku bunga deposit dari -0.4% menjadi -0.5%.

Kebijakan Mario Draghi dan kawan-kawan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi kawasan yang sedang dilanda resesi. Hal ini mendorong nilai asset safe haven termasuk emas mengalami apresiasi. Tetapi, membaiknya data ekonomi AS yaitu inflasi (Core CPI dan PPI), penjualan ritel, dan kepercayaan konsumen, menunjukkan bahwa kondisi ekonomi AS masih lebih baik dari Eurozone. Ini sesuai dengan isi pidato Ketua The Fed Powell di Swiss beberapa waktu lalu, yang menyatakan bahwa outlook ekonomi AS ke depan masih positif dan The Fed tidak memproyeksikan atau mengharapkan akan terjadinya resesi.

Selain itu, kemerosotan harga emas juga didukung oleh naiknya yield obligasi pemerintah AS dan meredanya tensi perang dagang AS-China. Hal ini ditandai dengan pihak China yang menghapus pengenaan bea masuk impor untuk beberapa produk AS seperti daging sapi, daging babi, kedelai, obat kanker, dan tembaga.

Minggu ini, fokus investor akan tertuju pada FOMC meeting. Pelaku pasar telah memperkirakan The Fed akan kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 0.25% menjadi +1.75% hingga 2.00%. Yang akan berdampak adalah Statement, proyeksi ekonomi, dan pernyataan Jerome Powell pada konferensi pers, terutama mengenai kelanjutan pemotongan suku bunga di waktu mendatang.

Beberapa analis memperkirakan Powell akan hawkish dengan mengulang pernyataannya bahwa rate cut kali ini bukan awal dari siklus pelonggaran moneter yang berkelanjutan, sementara data ekonomi AS akhir-akhir ini tercatat membaik. Seperti diketahui, Powell tidak pernah terpengaruh oleh desakan Presiden Trump yang memintanya untuk segera menurunkan suku bunga hingga serendah mungkin, seperti yang dicuitkan di akun Twitter-nya baru-baru ini.

Jika Statement FOMC dan pernyataan Powell hawkish, hampir bisa dipastikan harga emas akan berlanjut bearish. Sebaliknya, jika FOMC dovish, emas akan berbalik rally dengan target level 1555.

Survei yang dilakukan Kitco.com pada sejumlah trader menunjukkan, sebagian besar pemain Wall Street dan Main Street memperkirakan minggu depan emas berpotensi akan kembali bullish. Sekitar 47% pemain Wall Street memperkirakan bullish, 29% bearish, dan 24% lagi netral atau sideways. Sementara 61% pemain Main Street memperkirakan bullish, 23% bearish, dan 16% netral.

 

Tinjauan Teknikal

FOMC Dovish Emas Bullish, FOMC Hawkish

 

Chart Daily:

Harga emas masih cenderung bearish dengan melanjutkan koreksi (retracement), menyusul terbentuknya Pin Bar yang terkonfirmasi (level terendah Pin Bar ditembus). Dalam hal ini, Pin Bar yang terbentuk menunjukkan kemungkinan penerusan trend (trend continuation) bearish.

Kecenderungan ini didukung baik oleh indikator trend maupun indikator momentum:

  1. Harga berada di bawah kurva middle band indikator Bollinger Bands, dan menembus kurva support EMA 34.
  2. Titik indikator Parabolic SAR berada di atas bar candlestick.
  3. Kurva indikator MACD masih berada di bawah kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di bawah level 0.00.
  4. Kurva indikator RSI gagal menembus center line (level 50.0) dan masih berada di bawahnya.
  5. Garis histogram indikator ADX berganti warna merah yang menunjukkan sentimen bearish.

Support kuat ada pada 1478.36 (50% Fibo Retracement). Level 50% Fibo Retracement biasanya digunakan sebagai acuan berakhirnya koreksi. Jika 50% Fibo Retracement ditembus dan harga keluar dari channel uptrend, kemungkinan pergerakan harga akan berlanjut bearish dengan target pada level 1436 (sekitar 76.4% Fibo Retracement). Ini juga merupakan level double top antara 25 Juni hingga 3 Juli 2019.

Sementara jika 50% Fibo tidak ditembus dan harga berbalik bullish, resistance kuat masih pada level 1555 yang merupakan support kunci antara tahun 2012 hingga awal 2013.

Level Pivot mingguan: 1498.98

Resistance: 1497.03 (level 38.2% Fibo Retracement) ; 1519.90 (23.6% Fibo Retracement) ; 1535.00 ; 1556.92 ; 1582.49 ; 1614.63 ; 1646.25 ; 1665.45 ; 1681.26 ; 1697.08.

Support: 1478.36 (50% Fibo Retracement) ; 1459.70 (61.8% Fibo Retracement) ; 1436.82 (76.4% Fibo Retracement) ; 1424.00 ; 1410.90 ; 1400.00 ; 1383.00 ; 1373.00 ; 1358.00 ; 1348.00 ; 1332.44 ; 1319.75 ; 1309.00 ; 1297.00 ; 1285.15 ; 1275.00 ; 1266.16 ; 1253.28 ; 1242.50 ; 1231.15 ; 1218.45 ; 1211.80 ; 1204.02.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200, EMA 34 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; RSI (14) ; ADX (14).

Fibonacci Retracement:

  • Titik Swing Low: 1400.37 (harga terendah 1 Agustus 2019).
  • Titik Swing High: 1556.92 (harga tertinggi 4 September 2019).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.