OctaFx

iklan

Hati-Hati, Kinerja IMAS Sulapan Semata

284445

Saham IMAS adalah salah satu saham dengan kenaikan tercepat tahun 2018. Namun, kinerja IMAS sesungguhnya tak seindah gambaran laporan keuangannya.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Saham IMAS adalah salah satu saham dengan kenaikan tercepat tahun 2018 ini berkat kinerjanya yang meroket. Laba kotor naik 115% dari Rp2,67 triliun (2016) menjadi Rp3 triliun (2017). Laba usaha juga melompat naik 240% menjadi Rp1,37 triliun pada 2017; padahal asalnya hanya Rp572 miliar saja pada tahun 2016. Laba sebelum pajak dan bunga menjadi positif Rp148 miliar, meski sebelumnya Rp-226 miliar; Rugi Tahun Berjalan juga semakin mengecil. Sayangnya, kinerja IMAS nyatanya tidak seindah itu.

 

Laporan Keuangan Indomobil Sukses International

PT Indomobil Sukses International Tbk (kode saham: IMAS) adalah sebuah perseroan yang bidang usaha utamanya meliputi Otomotif (pemegang lisensi merek, distributor penjualan kendaraan, layanan purna jual, distributor suku cadang dengan merek "lndoParts", perakitan kendaraan bermotor, produsen komponen otomotif), Jasa Keuangan (jasa pembiayaan kendaraan bermotor), Jasa Persewaan Kendaraan, serta usaha pendukung lainnya.

 

Rincian Pendapatan dan Laba Kotor Segmen Usaha IMAS

Rincian Pendapatan Dan Laba Kotor IMAS

 

Dapat kita lihat bahwa pendapatan mayoritas datang dari segmen penjualan kendaraan bermotor, yaitu sebesar 62% dari total seluruh pendapatan di tahun 2017. Sedangkan kontributor terbesar kedua adalah segmen usaha Suku Cadang, lalu disusul oleh Jasa Keuangan dan Sewa Kendaraan. Sayangnya, dari tahun ke tahun penjualan kendaraan bermotor terus turun, meski nampaknya masih terkompensasi oleh penjualan segmen-segmen lainnya.

 

Tabel Laba-Rugi PT Indomobil Sukses International Tbk

Laba Rugi IMAS

 

Pendapatan sedikit meningkat dibanding tahun 2016, dengan Laba Usaha yang naik drastis dari Rp572 Miliar menjadi Rp1,37 Triliun pada 2017. Penulis yakin hal inilah yang membuat saham IMAS naik, apalagi Penghasilan Komprehensif Lain juga luar biasa, naik nyaris 10 kali lipat. Calon "tenbagger"? Belum tentu. 

Setelah cek lebih dalam kita akan temukan pada Catatan Atas Laporan Keuangan kalimat sebagai berikut: 

Pendapatan operasi lain pada Laba Usaha di tahun 2017 mengalami kenaikan sebesar 88,15% dari Rp0,58 triliun di tahun 2016 menjadi Rp1,10 triliun di tahun 2017. Kenaikan pendapatan operasi lain terutama berasal dari selisih penilaian kembali properti investasi. (Laporan Tahunan 2017 IMAS – Hal 49)

 

Laporan Keuangan Tahunan IMAS

 

Penting untuk diketahui bahwa penilaian kembali aset (revaluasi aset) itu misalnya Bapak A punya ruko harga belinya 1M, setelah 5 tahun kemudian dinilai kembali harga jualnya bisa 2,5M. Selisih 1,5M itu kan tidak masuk kantong Bapak A karena rukonya tidak dijual; hanya dinilai ulang aja.

 

Menghitung Ulang Kinerja IMAS

Pada IMAS, revaluasi aset itu dimasukkan ke dalam Pendapatan Lain-Lain untuk mengecoh Laba Usaha. Karena kalau nyatanya memang sudah dijual, maka kita akan lihat di dalam bagian Laba-Rugi ada Laba Dari Penghentian Segmen Usaha atau Laba dari Penjualan Aset. Namun, ini kan tidak ada, sehingga artinya hanya dinilai ulang saja (revaluasi) supaya tampak lebih besar, sehingga Laba Usaha saat dikurangi beban keuangan masih ada sisa positif. Nyatanya tidak begitu.

 

Perbandingan Laba IMAS Dengan Dan Tanpa Revaluasi Properti

Perbandingan Laba Rugi IMAS

 

Setelah Pendapatan Operasi Lain pada Laba Usaha dikurangi revaluasi aset, maka didapat Laba Usaha yang jauh lebih kecil, yaitu Rp 836 Miliar saja dan bukan Rp 1,37 Triliun. Lalu setelah diteruskan didapatlah EBIT (Earning Before Interest & Tax) sebagai berikut:

 

Perbandingan EBIT IMAS Dengan Dan Tanpa Revaluasi Properti

EBIT IMAS

 

Nyatanya apabila dihitung ulang, ternyata IMAS tidak Laba, melainkan Rugi Rp 389 Miliar (sebelum penghitungan pajak dan beban). Alih-alih Laba, IMAS sebenarnya merugi. Pada catatan Bagian atas Rugi Neto Entitas Asosiasi di tahun 2017 mengalami kenaikan kerugian sebesar 304,74%; dari rugi Rp134,63 miliar di tahun 2016, menjadi rugi Rp544,90 miliar di tahun 2017. Hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan kerugian pada entitas asosiasi Nissan.

 

Penilaian Kembali Properti Investasi IMAS

Penjualan Nissan yang memburuk memberikan kerugian tambahan pada IMAS. Nissan kini menjadi beban tersendiri bagi IMAS karena daya saingnya yang kalah dibandingkan dengan yang lain. Untuk mengantisipasinya, IMAS berinisiatif untuk berpartner dengan merek-merek lain yang diharapkan akan membantu performa IMAS secara keseluruhan.

Perhitungan lebih jauh, IMAS merugi 484,4 miliar di 2017.

 

Tabel Perhitungan Laba-Rugi IMAS Dengan Dan Tanpa Revaluasi

Perhitungan Laba-Rugi IMAS

 

Belum cukup sampai di sini, Pendapatan Komprehensif Lain di tahun 2017 mengalami kenaikan sebesar 760,39% dari Rp311,96 miliar di tahun 2016 menjadi Rp2,68 triliun di tahun 2017. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh penilaian kembali properti investasi.

 

Penilaian Kembali Properti Investasi IMAS

Penilaian Kembali Properti Investasi IMAS

 

Karena adanya kenaikan yang disebabkan oleh penilaian kembali properti investasi pada Pendapatan Komprehensif lain, maka berubah pula lah Total Penghasilan (Rugi) Komprehensif Tahun Berjalan yang mengalami kenaikan, yaitu dari rugi Rp0,92 miliar di tahun 2016 menjadi laba Rp2,62 triliun di tahun 2017. Nyatanya IMAS tidak benar-benar laba, bahkan semakin merugi.

Adanya reklasifikasi dan Pengakuan atas Nilai Wajar Properti Investasi sama halnya dengan revaluasi; tidak ada pendapatan yang masuk kantong karena hanya sekedar menaksir nilai semata. Bahkan dua developer saja bisa memiliki persepsi berbeda, di mata tuan A harga sebuah ruko di kawasan Dipati Ukur harganya 2 milyar sedangkan menurut tuan B harga yang wajar adalah 1,5 milyar. IMAS tidak menggunakan auditor tertentu untuk menaksir harga propertinya. Artinya, nilai ini bisa saja dibesar-besarkan.

 

Kinerja IMAS

Hati-Hati, Kinerja IMAS Sulapan

 

Kas neto yang digunakan untuk aktivitas operasi sejumlah Rp601,61 miliar, terutama digunakan untuk pembayaran kepada pemasok. Dibandingkan tahun 2016, kas neto yang digunakan untuk aktivitas operasi di tahun 2017 mengalami penurunan sebesar 606,36%. Sehingga walaupun penerimaan dari pelanggan hanya turun 44 milyar saja, tetapi pembayaran ke pemasok naik 600 milyar sehingga kas operasi minus. Selain karena harga barang supply-nya naik, konversi dari Dollar ke Rupiah juga turut membebani.

Berikut rincian segmen usaha otomotif yang mendominasi pendapatan IMAS;

 

Pendapatan Segmen Operasi Otomotif

Pendapatan Segmen Operasi Otomotif

 

Dapat kita perhatikan bahwa penjualan kendaraan bermotor menurun dari Rp12,7 triliun di tahun 2015 menjadi Rp9,28 triliun di tahun 2016, kemudian menjadi Rp9,18 triliun pada 2017. Hal ini dijelaskan pada catatan atas laporan keuangan; di mana emiten mengakui bahwa pendapatan dari segmen ini memang menurun, tetapi laba kotornya meningkat. Hal ini disebabkan oleh penurunan penjualan kendaraan penumpang, tetapi dikompensasi kenaikan dari penjualan kendaraan komersil dan alat berat.

 

Nissan Lengser, Hino Naik Panggung

Pendapatan segmen operasi dari otomotif utamanya datang dari penjualan Nissan dan Hino. Ada yang menarik disini, penjualan mobil Nissan menurun, sedangkan penjualan Hino naik pesat di tahun 2017. Bahkan pada 2018, penjualan ritel PT Hino Motor Sales Indonesia yang mana 40% nya dimiliki oleh IMAS, naik 34% sepanjang kuartal I/2018, setara dengan 8.990 unit. 

Sektor pertambangan dan konstruksi menjadi faktor penting pertumbuhan dan hal ini diakui oleh Direktur Penjualan dan Promosi Hino. Ia mengatakan permintaan naik 2x lipat didorong pertambangan di Kalimantan, sedangkan di Jawa Timur penjualan Hino naik didorong logistik, dan di Sumatera permintaan Hino juga naik karena disokong oleh pulihnya sektor perkebunan. Penjualan di Jabodetabek masih mendominasi, tetapi lonjakan permintaan di daerah-daerah sangat membantu penjualan meningkat. 

Perseroan memproyeksikan bahwa industri batubara masih menarik, sehingga peluang untuk semakin meningkatnya penjualan Hino cukup optimis bagi manajemen IMAS. Tercatat sepanjang 2017, Hino Motor Sales Indonesia berekspansi dengan membuka beberapa gerai baru dan berencana menambah 10 dealer baru di tahun 2018. Sejauh ini Hino memiliki 160 dealer 3S (penjualan, servis, dan suku cadang). Sejauh ini prospek penjualan otomotif IMAS dari sisi alat berat dan kendaraan komersil cukup baik.

Untuk kendaraan penumpang, sebuah riset kepuasan konsumen yang dilakukan oleh IIMS mengatakan bahwa Nissan (yang memberikan pendapatan terbesar di segmen usaha otomotif) masih kalah dibandingkan Toyota. Hal ini juga ditunjang dengan turunnya daya beli masyarakat sejak tahun 2017 yang berlanjut ke tahun 2018. 

Turunnya daya beli masyarakat mengakibatkan larisnya suku cadang IMAS. Tercatat pendapatan dan laba kotor segmen usaha suku cadang mengalami kenaikan di tahun 2017, yaitu dari pendapatan Rp2,05 triliun (2016) menjadi Rp2,35 triliun (2017); dan laba kotor dari Rp566 miliar (2016) menjadi Rp692 miliar (2017). Segmen jasa keuangan; yaitu jasa pembiayaan kredit mobil dan motor pun mengalami kenaikan; yaitu dari pendapatan Rp1,40 triliun (2016) menjadi Rp1,58 triliun (2017); dan laba kotor dari Rp669 miliar (2016) menjadi Rp812 miliar (2017).

 

Kesimpulan Mengenai Kinerja IMAS

  • Penjualan kendaraan berat menolong kinerja IMAS. Namun, beban berat tetap menyeret IMAS lebih dalam.
  • Adanya sulapan pada Laporan Keuangan membuat IMAS tampak cantik, namun sayang nyatanya tidak demikian.
  • IMAS kenyataannya masih merugi. Agak riskan berinvestasi di saham begini, karena emiten yang cenderung menyulap akunting pada Laporan Keuangannya bisa membuat orang berharap banyak, padahal aslinya kopong.

Penulis ucapkan selamat kepada yang sudah cuan pada saham IMAS, tetapi sangat TIDAK DISARANKAN untuk masuk sekarang dengan tujuan investasi jangka panjang.

Arsip Analisa By : Shanti Putri

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'



Nubie Kampung
Lap keu simpan di laci aja..semua ada di chartKlo turun ya tinggal cutlossCutloss is our fren
Shanti Putri
Ga semua orang bisa trading, salah-salah nyangkut di pucuk. Lagian tergantung tujuan orang juga sih.. Kalo tujuan jangka panjang (nabung saham buat sekolah anak, buat pensiun) tindakannya jg harus jangka panjang.

Ngapain cl kalo emang bener pasti bagus, LKH beli UNTR di harga 250 sebanyak 1,5 milyar karena dia tau potensinya. 6 tahun kemudian dia jual UNTR di harga 15000.
Trader mana yang kuat hold saham 6 tahun, cuy? Note: eike bukan fans LKH (lo keng hong), eike fans LMH (lee min ho) jadi bukan karena eike fans LKH jadi ngomongin dia yah... dia cuma contoh doang disini.

Di balik setiap kode saham ada bisnis yang berjalan di belakangnya. Saya jg ga bakal repot2 bedah LK kalo cuma mau pegang kurang dari setaun. Saya bedah LK karena emang niat nabung saham buat tujuan jangka panjang, sekalian di upload dimari biar eksis :)
Geprek Mozarela
Menurut saya sih, analisa seperti ini membantu, khususnya buat investor baru yang belum ngerti cara baca laporan keuangan dan nggak paham kalau angka-angka disitu bisa aspal, seperti saya :) Thank you bu Shanti