Kenaikan Harga Saham TAXI, Jebakan Bandar?

282863

Harga saham TAXI meroket dari 55 menjadi 118 per lembar saham dalam waktu satu minggu saja. Namun, layakkah saham PT Express Transindo Utama ini untuk dipegang lama?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Di tengah lesunya indeks saham di Bursa Efek Indonesia beberapa waktu terakhir, ada sebuah saham yang berkali-kali menyentuh batas Auto Rejection atas (ARA), yaitu TAXI (PT. Express Transindo Utama Tbk). Hal ini lantaran adanya penghentian penambahan mitra taksi online yang selama ini mengancam perusahaan taksi konvensional. Harga saham TAXI pun meroket dari 55 menjadi 118 per lembar saham dalam waktu satu minggu saja. Namun, layakkah saham TAXI dipegang lama?

 

Saham TAXI - Express Transindo Utama

 

 

Terkait dengan kenaikan saham TAXI, terdapat beberapa berita yang menggoreng saham TAXI. Berikut diantaranya:

  • Rumor akuisisi TAXI oleh GoJeK mulai disebar, untuk dijadikan alasan kenaikan TAXI beberapa hari terakhir. Menurut sebuah pemberitaan di Kontan, GoJek kabarnya akan memilih Backdoor Listing dengan akuisisi TAXI, ketimbang Initial Public Offering (IPO).
  • Penghentian penambahan mitra taksi online memberikan angin bagi TAXI.

Namun, pada tanggal 15 Maret 2018 beredarlah isu-isu negatif tentang TAXI, diantaranya;

  • Rating kelayakan investasi turun. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat Obligasi I Tahun 2014 milik PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) dari sebelumnya idBB+ menjadi idBB- dengan outlook negatif, berlaku untuk periode 12 Maret 2018 hingga 1 Maret 2019.
  • Saham TAXI sebagai bagian dari konglomerasi bisnis milik pengusaha Peter Sondakh juga disebut-sebut akan dilepas.

Terlepas dari kabar-kabar tersebut, nyatanya Express Trasindo Utama (TAXI) mencatat rugi bersih mencapai IDR133.1miliar di paruh pertama tahun 2017, atau naik 210% YoY dari rugi periode yang sama tahun sebelumnya pada IDR42.9b. Pendapatan turun 58% YoY mencapai IDR158.7miliar di paruh pertama 2017 versus IDR364miliar di laruh kedua 2016.

Apakah yakin mau berinvestasi lama disini? Kondisi sekarang dinyatakan kondisi Pisau Jatuh. Selama belum menunjukkan perbaikan manajemen dan kinerja, maka berinvestasi di saham seperti ini dapat dikatakan berjudi. Lain soal kalau hanya untuk memanfaatkan momen.

Bagaimana kiranya kinerja TAXI beberapa tahun ke belakang? Coba perhatikan beberapa grafik berikut ini.

 

Grafik Aset Dan Liabilitas TAXI

 

Aset TAXI masih lebih besar daripada liabilitasnya, sehingga dari sisi modal, TAXI masih mampu bertahan. Sayangnya, sejak aset TAXI tertinggi di tahun 2014. Aset TAXI terus menurun pada 2015 dan 2016 dengan liabilitas mencapai dua kali lipat lebih besar dari ekuitas.

 

Grafik Laba dan Beban Usaha TAXI

 

Aset berkurang lantaran beban usaha yang meningkat, bahkan membesar. Hal ini mengakibatkan kerugian yang tak terelakkan di beberapa tahun terakhir TAXI.

 

Grafik Free Cashflow TAXI

 

Free Cashflow TAXI sekarang tipis sekali dan seringkali minus. Padahal, di tahun-tahun sebelum penurunannya (sejak 2015), performa saham TAXI baik berupa pendapatan, dsb masih baik dan bertumbuh. Ini menerangkan ketidakefisienan operasional, dengan adanya penambahan unit taksi, tapi tidak diimbangi peningkatan pendapatan yang signifikan.

 

Grafik EPS TAXI

 

EPS atau laba per lembar saham TAXI menipis di tahun 2015, lalu minus di tahun 2016 dan 2017.

 

Grafik Profit Margin TAXI



Sejak 2015, laba operasional TAXI (Operating Profit Margin) mengecil, lalu akhirnya minus. Laba operasional yang mengecil atau bahkan minus, menandakan bisnisnya sendiri mengalami kemunduran.

 

Grafik ROA dan ROE TAXI

 

Rasio profitabilitas terus turun sampai akhirnya minus, akankah ada perbaikan di masa depan? Bukannya tidak mungkin, hanya saja untuk berinvestasi di saham TAXI dalam jangka waktu lama sangat tidak disarankan. Apabila ada perubahan dari segi kinerja di masa depan, tak ada salahnya melirik saham TAXI. Namun, untuk sekarang masuk dan investasi jangka panjang di TAXI, saya pikir jangan dulu.

 

 


Strategi apa yang sebaiknya dilakukan saat pasar sedang lesu dan harga-harga saham merosot? Daripada terjebak manuver bandar, simak analisa IHSG Koreksi? Berikut Langkah Strategis Saat Market Crash.

Arsip Analisa By : Shanti Putri

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'