Advertisement

iklan

Kilas Balik Pasar Modal Di Tahun 2018

286827

Performa IHSG di tahun 2018 ini melemah lebih buruk dari tahun sebelumnya. Namun, ada peluang yang bisa dimanfaatkan dari sektor Consumer dan outlook jangka pendek.

acy

iklan

Advertisement

iklan

Pencapaian kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sepanjang tahun 2018 tidak sebaik tahun sebelumnya. Pada awal pembukaan di 2 Januari 2018, IHSG berada pada harga Close Rp6353. Namun, di akhir perdagangan 26 Desember 2018 kemarin, harga ditutup pada Rp6194, atau turun sebesar 2.5%. Berikut kami sajikan kilas balik pasar modal di tahun 2018.

Kilas Balik Pasar Modal 2018

  • IHSG sempat menyentuh titik tertinggi sepanjang masanya (All Time High) pada 19 Februari 2018 di harga Rp6693.
  • Sentimen positif datang dari sektor sawit dengan adanya kebijakan B20; sektor Agri bangkit di bulan November dari Rp1411 ke Rp1607 di penutupan tahun. Namun secara keseluruhan, sektor Agri turun 2.67% dari harga Close 2 Januari 2018 di Rp1607, menjadi Rp1564 pada perdagangan 26 Desember 2018.
  • Reli panjang di sektor Mining sejak 2016 kini melemah dan hanya menguat tipis di 2018. Pada 2 Januari 2018, Mining berada di harga Close Rp1674 dan ditutup di Rp1776 pada 26 Desember 2018, dengan harga tertingginya di Rp2097 (tercapai pada 30 Juli 2018). Pelemahan terjadi seiring dengan pelemahan harga minyak dan batubara.
  • Sektor Basic Industry menguat dari Rp729 di 2 Januari, menjadi Rp854 di 26 Desember 2018. Penguatan ini disinyalir masih akan berlanjut di 2019.
  • Sektor Miscellaneous Industry bergerak volatile, tapi pada akhirnya ditutup menguat tipis dari Rp1364 di awal tahun, menjadi Rp1394 di akhir penutupan bursa pada 26 Desember 2018.
  • Sektor Consumer melemah dari Rp2871 menjadi Rp2569. Sektor Consumer dihebohkan oleh AISA yang menyatakan tidak mampu membayar obligor di April 2018. Sebelumnya, emiten ini dinyatakan bersalah dalam skandal beras premium oplosan di 2017 dan meminta perpanjangan waktu pembayaran sampai tahun depan. AISA pun terjun ke harga Rp168 saja per lembarnya, dan dinyatakan suspend hingga waktu yang belum ditetapkan.
  • Sektor Property juga turun seiring dengan menurunnya daya beli dan kecenderungan masyarakat yang lebih banyak menumpuk uangnya di bank, atau berinvestasi di instrumen keuangan lainnya. Pada awal tahun, sektor Property berada pada harga Close Rp498 dan ditutup di harga Rp447. Sektor Property biasanya naik saat Consumer Confidence meningkat, hal ini biasanya ditandai dengan naiknya indikator Disposable Income.
  • Sektor Infrastructure juga turun dari Rp1172 ke Rp1064. Hal ini mencerminkan ketakutan investor atas proyek-proyek infrastruktur program pemerintah yang telat bayar. Namun, kecemasan ini teratasi sejak pemerintah rutin mencari pembiayaan untuk membayar proyek-proyek tol dan infrastruktur lainnya, dengan meluncurkan program Sukuk Ritel010, SBR003, dan lain sebagainya. Sektor Infrastructure pun pelan-pelan merangkak naik dari Rp954 ke Rp1064.
  • Sektor Finance bergerak naik-turun dikarenakan naiknya harga USD terhadap Rupiah, tapi diimbangi dengan menguatnya optimisme konsumen mengenai kondisi ekonomi masa depan. Hal ini tercermin dari indikator Consumer Confidence yang naik dari 147.9 menjadi 152. Tercatat Sektor Finance bergerak dari harga Rp1129 menjadi Rp1175 di akhir tahun.
  • Sektor Trade amblas dari 915 di 2 Januari 2018 menjadi Rp783 di 26 Desember 2018. Hal ini terjadi seiring dengan negatifnya Trade Balance Indonesia karena lebih banyak impor daripada ekspor. Dengan menguatnya Dolar atas Rupiah, sektor Trade terjun sebanyak 14.4%.
  • Sektor Manufacture turun tipis dari Rp1648 ke Rp1618.

 

Sektor Consumer Cetak Peluang, Ekonomi Cukup Baik Dalam Jangka Pendek

Menurunnya saham-saham pada sektor Consumer seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membeli di harga rendah. Hal ini karena secara fundamental, indeks kepercayaan konsumen di Indonesia meningkat dari 119.2 pada kuartal sebelumnya ke 122.7 pada November 2018.

Kepercayaan Konsumen Indonesia

Sementara itu, kondisi ekonomi tumbuh dari 106.2 ke 109.1, dan ekspektasi konsumen menguat dari 132.2 ke 136.4. Ekonomi Indonesia secara jangka pendek (dalam 1 tahun ke depan) penulis nilai akan berada pada kondisi yang cukup baik, setidaknya lebih baik dari sebelumnya, karena adanya penguatan pada indikator-indikator ekonomi yang memberikan sinyal positif dalam jangka waktu dekat. Indikator-indikator tersebut adalah:

  1. Konsumen lebih optimis mengenai kondisi ekonomi masa depan (indeks meningkat dari 147.9 ke 152).
  2. Kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen meningkat.
  3. Meningkatnya indikator ketersediaan pekerjaan 119.5 ke 125, dan kegiatan bisnis dari 129.3 ke 132.
  4. Sementara itu, tekanan inflasi diperkirakan akan meningkat dalam 6 bulan ke depan (170.4 ke 175.1 ) dan dalam 12 bulan ke depan (169.1 ke 173. Walaupun demikian, disinyalir ada penurunan dalam 3 bulan ke depan (dari 176.4 ke 174.1).
  5. Kepercayaan Konsumen di Indonesia rata-rata naik 98.18 poin dari tahun 2000 hingga 2018, dan mencapai titik tertinggi sepanjang masa di 128.10 poin pada Juni 2018.
Arsip Analisa By : Shanti Putri

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'