Kinerja Gudang Garam Tak Pernah Padam

211502

PT Gudang Garam, Tbk (kode saham GGRM) adalah perusahaan rokok yang sahamnya ditransaksikan di Bursa Efek Indonesia. Saham Gudang Garam termasuk blue chips dengan nilai kapitalisasi pasar hingga akhir kuartal tiga tahun 2014 tercatat sebesar 109 triliun. Sehingga, pergerakan saham Gudang Garam akan secara langsung berpengaruh terhadap gerak IHSG, meskipun pengaruhnya tidak begitu signifikan.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

PT Gudang Garam, Tbk (kode saham GGRM) adalah perusahaan rokok yang sahamnya ditransaksikan di Bursa Efek Indonesia. Gudang Garam masuk sebagai saham blue chips dengan nilai kapitalisasi pasar hingga akhir kuartal tiga tahun 2014 tercatat sebesar 109 triliun. Sehingga, pergerakan saham Gudang Garam akan secara langsung berpengaruh terhadap gerak IHSG, meskipun pengaruhnya tidak begitu signifikan.

Gudang Garam
Pertumbuhan kinerja bisnis Gudang Garam sepanjang tahun 2014 masih mengalami peningkatan. Tercatat, Gudang Garam mampu meraup hasil penjualan hingga 48 triliun. Hasil tersebut naik 20% jika dibandingkan dengan hasil penjualan periode yang sama di tahun sebelumnya, yaitu sebesar 40 triliun. Pertumbuhan bisnis perseroan merupakan yang terbaik bila dibandingkan dengan emiten tobbaco manufacture lain. Misalnya saja HM Sampoerna dengan peningkatan penjualan sebesar 9% atau sebesar 59 triliun. Atau Bentoel Group yang menghasilkan peningkatan penjualan hingga 19%, atau sebesar 10 triliun. Juga bila dibandingkan dengan Wismilak yang justru mengalami pertumbuhan penjualan negatif 1% atau sebesar 1 triliun.

Peningkatan penjualan Gudang Garam disokong dari penjualan domestik dan ekspor. Dari ekspor, kontribusi terhadap penjualan secara total hanya sebesar 4%, atau pendapatan total perusahaan dari ekspor sebesar 2 triliun. Sisanya, atau sebanyak 96% hasil pendapatan penjualan perseroan didapatkan dari pasar domestik. Jika dilihat dari besarnya jumlah penduduk Indonesia, dan jumlah perokok laki-laki dewasa yang mencapai 67%, maka wajar saja jika pundi-pundi Gudang Garam didapat dari pasar domestik. Jika dilihat dari pangsa pasar domestik, Gudang Garam menguasai hampir sekitar 20.6%.

Pertumbuhan Pendapatan, Laba Bersih Tertinggi Di Kelasnya

Di pasar dalam negeri, produk Gudang Garam dipasarkan hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Dari mulai Sumatera, Gudang Garam membentuk perusahaan PT Surya Sriwijaya Perkasa dan PT Surya Lampung Perkasa sebagai distributor untuk wilayah Sumatera. Untuk wilayah Sulawesi, pemasaran produk Gudang Garam melalui PT Surya Minahasa Perkasa. Dan melalui PT Surya Papua Perkasa, produk – produk Gudang Garam dipasarkan untuk kawasan Papua. Kawasan Kalimantan dan Nusa Tenggara juga ada anak usaha yang mendistribusikan produk Gudang Garam. Sedangkan pasar Jawa, perseroan langsung mengambil alih distribusi melalui kantor pusat PT. Surya Madistrindo.


Nett Profit Margin Gudang Garam

Kuatnya pertumbuhan pasar domestik membuat pendapatan dari kinerja penjualan Gudang Garam selalu mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Mengambil data penjualan mulai dari tahun 2008 hingga 2013, penjualan Gudang Garam tumbuh rata-rata  tiap tahunnya sebesar 13%.  Tahun 2008 Gudang Garam memperoleh penjualan sebesar 30 triliun rupiah, dan hingga akhir tahun 2013 penjualan yang dihasilkan sebesar 55 triliun.

Pendapatan Gudang Garam diperoleh dari hasil penjualan produk Gudang Garam yang diantaranya Sigaret Kretek Mesin, Sigaret Kretek Tangan, Rokok Klobot, Kertas Karton dan lainnya. Hingga akhir tahun 2013, pendapatan Gudang Garam paling banyak diperoleh dari Sigaret Kretek Mesin, dengan sumbangan 88% terhadap total pendapatan penjualan Gudang Garam.  Sedangkan produk sigaret kretek tangan hanya menyumbangkan sebanyak 9% dari total pendapatan penjualan Gudang Garam. Pertumbuhan pedapatan penjualan dari sigaret kretek mesin rata-rata tiap tahunnya lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sigaret kretek tangan. Dari tahun 2008, sigaret kretek mesin mampu tumbuh 14% setiap tahunnya, sedangkan sigaret kretek tangan hanya tumbuh sebesar 12%.

Pendapatan penjualan Gudang Garam hingga kuartal 3 2014 mencapai 48 triliun. Pendapatan tersebut masih paling banyak ditopang oleh sigaret kretek mesin, dengan kontribusi sebesar 90%. Sedangkan sigaret kretek tangan hanya berkontribusi sebanyak 7%. Sehingga, dengan rata-rata pertumbuhan sigaret kretek mesin yang lebih tinggi pertahunnya, dalam beberapa tahun kedepan pendapatan penjualan Gudang Garam hampir semuanya diperoleh dari produk tersebut.

Pendapatan penjualan perseroan tiap tahunnya mampu tumbuh dengan rata-rata pertumbuhan 13%. Sejalan dengan itu, laba bersih yang dapat dicetak Gudang Garam juga tumbuh tiap tahun. Bahkan, rata-rata pertumbuhan laba bersih Gudang Garam sebesar 18% tiap tahunnya. Tahun 2008 Gudang Garam memperoleh laba bersih sebanyak 1.8 triliun, sedangkan tahun 2013 pendapatan perseroan tumbuh mencapai 4.3 triliun.

Tahun 2014, hingga September berakhir laba bersih yang dicatatkan Gudang Garam mencapai 4 triliun. Laba bersih perseroan dalam periode januari hingga september 2013 sebesar 3.2 triliun. Sehingga jika dibandingkan, laba bersih perseroan tahun 2014 mengalami kenaikan sebanyak 24%.

Dengan demikian, Gudang Garam masih mampu mempertahankan nett profit margin cukup besar. Tercatat, rata-rata nett profit margin Gudang Garam dari 2008 hingga 2013 sebesar 9.3%, dengan nett profit margin pada kuartal 3 2014 sebesar 8.3%.

Kenaikan laba bersih perseroan hingga kuartal 3 berakhir merupakan kenaikan laba bersih tertinggi dibandingkan dengan emiten lain dengan bisnis yang sama. Laba bersih HM Sampoerna tercatat sebesar 7 triliun, atau naik 1%. Sedangkan Bentoel Group dan Wismilak masih mencatatkan pertumbuhan yang negatif. Bentoel Group mencatatkan rugi bersih sebesar 1 triliun, atau perolehan kerugian ini makin besar jika dibandingkan kerugian tahun sebelumnya yang mencapai 661 miliar. Sedangkan Wismilak mencatatkan laba bersih sebesar 80 miliar, atau turun 28% dibandingkan tahun sebelumnya yang memperoleh laba bersih sebanyak 110 miliar. Secara keseluruhan, HM Sampoerna adalah perusahaan dengan kemampuan pencetak laba bersih lebih besar yaitu dengan nett profit margin sebesar 13%. Sedangkan nett profit margin Wismilak sebesar 7%.

Nilai Saldo Laba Gudang Garam Setara Dengan 54% Dari Aset Total

Grafik Company Development Gudang Garam

Penjualan yang bertumbuh tiap tahun membuat perusahaan yang dirilis sejak tahun 1958 ini menjelma menjadi salah satu perusahaan besar di Indonesia. Tercatat, hingga September 2014 Gudang Garam memiliki aset sebanyak 56 triliun. Dengan jumlah aset tersebut, Gudang Garam menjadi perusahaan rokok terbuka dengan kepemilikan aset paling besar.

Menariknya, aset Gudang Garam memiliki persentase ekuitas yang lebih besar dari hutang. Tercatat, hutang Gudang Garam hanya sebesar 44% dari keseluruhan aset yang dimiliki. Dengan komposisi ekuitas yang lebih banyak dibanding hutang, Gudang Garam merupakan perusahaan dengan struktur modal yang menarik. Hingga september 2014, ekuitas perseroan tercatat sebanak 31 triliun.

Retained Earning Gudang Garam

Dalam mengelola pengembangan perusahaan, manajemen Gudang Garam bukanlah pengelola yang suka mengambil dana kucuran pemilik untuk setiap ekspansinya, atau melakukan penambahan modal atau right issue untuk menambahkan modal. Sehingga, besarnya ekuitas Gudang Garam tersebut merupakan hasil dari akumulasi kinerja perseroan.

Lihat saja, retained earning atau saldo laba Gudang Garam nilainya mencapai 30 triliun. Artinya, jika dibandingkan dengan total ekuitas perseroan, persentase saldo laba Gudang Garam sebesar 98%. Atau, jika dibandingkan dengan aset Gudang Garam, 54% dari seluruh aset Gudang Garam merupakan saldo laba Gudang Garam. Saldo laba Gudang Garam tiap tahunnya mengalami kenaikan. Tercatat, dari 5 tahun belakang, saldo laba Gudang Garam mengalami kenaikan dengan rata-rata 13% per tahunnya.

54% Pendapatan Hanya Untuk Bayar Bea Pita Cukai Dan PPN

Perkembangan Harga Saham Gudang Garam

Dengan perkembangan bisnis yang masih tumbuh secara kuat, dan melihat betapa menarik ekuitas membuat Gudang Garam masuk sebagai perusahaan yang banyak dikoleksi oleh investor. Meskipun banyak pihak menilai bahwa bisnis rokok tidak menarik kedepannya, itu tidak membuat investor menjauhi Gudang Garam. Lihat saja, harga saham Gudang Garam masih tumbuh hingga 43% sepanjang tahun 2014. Ini membuktikan bahwa Gudang Garam masih menjadi primadona pilihan investasi.

Pada pertengahan tahun 2014, industri rokok mendapat berita negatif setelah HM Sampoerna menutup pabrik rokoknya yang berlokasi di Jawa Timur. Langkah tersebut diambil sebagai langkah efisiensi agar beban perusahaan dapat berkurang. Selain HM Sampoerna, manajemen Bentoel Group dan Gudang Garam juga mengeluarkan program pensiun dini. Sontak, kabar ini membuat banyak pihak menilai jika industri rokok sudah tidak punya masa depan lagi.

Sebelumnya, industri rokok sudah diberatkan dengan aturan pemerintah, yaitu kenaikan bea pita cukai yang secara terus menerus dan juga kewajiban menampilkan gambar - gambar seram dari bahaya rokok. Biaya pita cukai dan PPN Gudang Garam pada tahun 2013 mencapai 29 triliun, atau setara 67% dari total beban biaya pokok penjualan Gudang Garam. Dan jika dibandingkan dengan pendapatan penjualan, biaya pita cukai Gudang Garam tahun 2013 setara dengan 54% hasil pendapatan penjualan perusahaan. Artinya, 54% dari total pendapatan penjualan Gudang Garam tahun 2013 digunakan untuk membayar bea pita cukai dan PPN. Dan jika dilihat dalam beberapa tahun belakang, kontribusi biaya pita cukai dan PPN tersebut nilainya selalu diatas 50% dari total pendapatan penjualan Gudang Garam.

Biaya Cukai dan PPN Gudang Garam
Sepanjang tahun 2014, saham Gudang Garam ditransaksikan dengan PER senilai 21 kali dan PBV 3.65 kali. Dengan PER dan PBV sebesar itu, harga saham Gudang Garam dihargai dengan harga premium, dan makin memperjelas bahwa Gudang Garam masih menjadi primadona pilihan investasi. Namun, jika melihat emiten rokok lain, PBV Gudang Garam masih dianggap wajar. Mengingat, Gudang Garam adalah perusahaan bagus dan menarik seperti yang sudah dipaparkan diatas. HM Sampoerna saat ini sahamnya ditransaksikan dengan PBV sebesar 28 kali. Sedangkan, Wismilak yang menunjukan penurunan kinerja, harga sahamnya ditransaksikan dengan PBV sebanyak 1.39 kali. Sedangkan ekuitas Bentoel Group hingga akhir September 2014 tercatat dengan nilai yang negatif.

PBV dan PER Gudang Garam
Hingga akhir September 2014, Gudang Garam masih mencatatkan Return on Asset (ROA) sebesar 10%. Sedangkan Return on Equity (ROE) Gudang Garam tercatat sebesar 17%.  ROA dan ROE sepanjang tahun 2014 yang disetahunkan yang dicatatkan Gudang Garam lebih baik ketimbang ROA dan ROE tahun 2013, yang masing-masing sebesar 15% dan 9%.


Margin Perusahaan Gudang Garam

Kinerja Hingga Akhir 2014 Diprediksi Sesuai Ekspektasi

Hingga akhir September 2014, pendapatan penjualan yang diperoleh Gudang Garam sebesar 48 triliun. Sedangkan, pendapatan Gudang Garam hingga akhir Juni 2014 sebesar 32 triliun dan pendapata hingga akhir maret 2014 sebesar 15 triliun. Dengan demikian, tiap tiga bulan Gudang Garam selalu mendapatkan pendapatan lebih dari 15 triliun.

Melihat tiga tahun belakangan, yaitu tahun 2013 dimana Gudang Garam selalu mencatatkan pendapatan per tiga bulan sebanyak 13 triliun, tahun 2012 dengan pendapatan per tiga bulan sebanyak 12 triliun dan tahun 2011 pendapatan pertiga bulan sebanyak 10 triliun, maka penulis optimis jika tiga bulan terakhir di tahun 2014 ini, Gudang Garam akan mencatatkan penambahan pendapatan minimal 15 triliun. Dengan demikian, kami menargetkan pendapatan perseroan tahun 2014 sebesar 63 triliun, atau naik 15% dari tahun sebelumnya sebesar 55 triliun.

Hasil Penjualan Gudang Garam
Sepanjang tahun 2014, Gudang Garam berhasil meningkatkan nett profit margin yang lebih baik dari tahun 2013, yaitu sebesar 8% dari sebelumnya sebesar 7%. Selain itu, Nett profit margin Gudang Garam mampu dijaga dilevel 8%. Sehingga, kami memprediksi laba bersih 2014 sebesar 5 triliun, atau naik 16% dari tahun sebelumnya sebesar 4,3 triliun.

Kami menilai bahwa Gudang Garam masih memiliki kinerja yang tumbuh kuat. Meskipun di tengah melemahnya perekonomian domestik dan daya beli masyarakat, beban operasional makin membengkak, namun kami optimis kinerja Gudang Garam hingga akhir 2014 akan sesuai ekspektasi.


Arsip Analisa By : Royan Aziz

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.