Advertisement

iklan

Krisis Corona Sebabkan Gejolak Pasar Terbesar Sejak 2008

Lonjakan Indeks Dolar menjadi cermin kepanikan investor dan pemilik modal yang mengguncang pasar. EUR/USD dan GBP/USD berisiko turun lebih rendah dalam jangka menengah.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Di sepanjang pekan, kita telah menyaksikan gejolak pasar yang luar biasa akibat penyebaran wabah virus corona di banyak negara. Indeks Dolar atau DXY yang mengukur kinerja Greenback versus sejumlah mata uang utama lainnya menanjak signifikan. Sebaliknya, pasangan mata uang EUR/USD dan GBP/USD merosot sangat tajam.

DXY Weekly 2020-03-21Posisi Indeks Dolar Time Frame Weekly

 

Perbandingan Dengan Krisis 2008

Meski barangkali tidak terlalu mirip karena latar belakang persoalannya berbeda, ini pernah terjadi pada pertengahan 2008. Ketika itu, krisis dipicu oleh macetnya sistem keuangan AS akibat kegagalan di sektor kredit perumahan, yang kemudian berdampak melumpuhkan keuangan dan perbankan Eropa secara sistemik.

Pada pertengahan 2008, DXY membutuhkan waktu sekitar 5 bulan (dari Juli hingga November), untuk melompat dari level 71 ke level 88. Pada waktu yang bersamaan, EUR/USD merosot tajam dari 1.60 ke 1.23, GBP/USD pun bernasib sama dengan anjlok dari level 2.01 ke 1.45.

Selanjutnya pada tahun 2009, barulah terjadi perubahan siklus dalam jangka menengah. EUR/USD mampu bangkit meski tak bisa menjangkau level 1.60; hanya mentok di 1.50. Sementara itu, GBP/USD juga tak bisa mengulangi kesuksesan sebelumnya dan hanya sanggup menjangkau 1.70.

Yang menarik adalah, harga emas juga sempat terkena dampak krisis 2008 dari bulan Juli hingga November. Tapi setelah itu, dari awal 2009 hingga September 2011, harga emas berbalik arah dan mendaki secara perlahan namun pasti, hingga kemudian mencapai level puncak saat hampir menyentuh US$2000 per troy ounce.

Saat ini, beberapa bank sentral terkemuka telah mengupayakan langkah darurat yang sama seperti pada tahun 2008/2009, yakni memangkas suku bunga dan menggelontorkan stimulus masif; kebijakan sekarang malah jauh lebih besar dari sebelumnya.

Apakah sejarah kembali berulang? Bisa jadi, meski akar persoalannya berbeda. Respon pasar pada dasarnya sama. Sama-sama panik yang menyebabkan pasar terguncang secara brutal. Lockdown sudah hampir pasti berdampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi global dalam jangka pendek. Jika COVID-19 berhasil ditekan atau diatasi, atau apabila vaksin corona telah diumumkan oleh lembaga resmi dan diproduksi secara massal, aktivitas kegiatan ekonomi masih akan membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya.

Saya sendiri barangkali termasuk yang beruntung dan sekaligus bersyukur, setidaknya karena masih diberi umur panjang untuk merasakan dan menyaksikan gejolak pasar tersebut. Tentu saja ada perbedaan yang mencolok. Tahun 2008 saya mengalami beberapa kali MC yang mungkin bisa dibilang parah. Di tahun ini, dengan mengambil pengalaman berharga 2008, saya masih bisa bermain-main dengan price action untuk perdagangan intraday, walaupun dengan volume transaksi atau lot size yang sementara ini benar-benar terbatas demi menghadapi fluktuasi abnormal.

 

Proyeksi Pasar Berikutnya

Lantas bagaimana dengan nasib pasangan mata uang EUR/USD dan GBP/USD? Dari sejumlah catatan atau tulisan para analis Barat yang saya baca dalam beberapa hari terakhir, sebagian besar memiliki pendapat yang kurang lebih sama. Dua pair itu masih akan berisiko turun lebih rendah dalam jangka menengah hingga jangka panjang.

EUR/USD bahkan diperkirakan dapat menjangkau atau mendekati level paritas 1.0000. Sementara GBP/USD diprediksi turun ke level terendah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya dalam kurun waktu 35 tahun terakhir.

Ini dengan kondisi, yakni apabila vaksin corona belum bisa diumumkan secara resmi dalam waktu dekat oleh lembaga yang diakui secara internasional, misalnya WHO. Atau apabila kasus lockdown terus terjadi di Eropa dan AS hingga beberapa bulan mendatang. China dan Korea Selatan juga menjadi tolak ukur dan diawasi oleh pasar. Jika data-data atau kegiatan ekonomi dari dua negara itu mampu bangkit dalam beberapa bulan ke depan, maka tingkat stres pelaku pasar akan bisa berkurang.

Pertanyaan berikutnya, apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi kondisi sulit saat ini? Bagi saya pribadi, sebagai trader "receh", sudah pasti membatasi lot size untuk setiap posisi entri, karena harus disesuaikan dengan level Stop Loss (SL) yang terpaksa "diulur" menjadi lebih lebar dari biasanya. Dan kemudian, memantau price action atau candle pattern serta trading system secara lebih ketat, terutama pada saat pembukaan sesi Eropa dan sesi New York.

Langkah berikutnya, mungkin menjadi yang paling penting bagi saya, atau bagi kita semua, yakni berdoa pada Tuhan YME agar senantiasa dilindungi dan diberi kesehatan serta stamina yang baik untuk menghadapi ancaman wabah corona. Selain itu, mari kita bersama-sama mengikuti anjuran pemerintah dan terus mengikuti perkembangan terkait dampak yang ditimbulkannya.

Arsip Analisa By : Buge Satrio

Buge Satrio Lelono memiliki latar belakang pendidikan IT dan mengenal forex sejak tahun 2003 ketika platform Metatrader masih versi 3. Setelah berlatih di akun demo selama beberapa tahun dan mencoba berbagai teknik trading, Buge menekuni forex secara full-time sejak awal 2014. Kini aktif trading mengandalkan pengamatan Price Action, Ichimoku Kinko-hyo, Trading Plan, dan pengendalian risiko tak lebih dari 1 persen.