OctaFx

iklan

IHSG Merah Merona, Bagaimana Kondisi Fundamentalnya?

Penurunan IHSG ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak akhir 2017. Namun, ada sejumlah faktor fundamental yang dapat menopangnya.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai pada hari ini, sesi II 26 April 2018, sudah terkoreksi 2,24% melewati angka psikologis 6,000 ke level 5.943,53. Investor asing tercatat sudah melakukan jual bersih Rp 915,52 miliar. 

 

IHSG 26 April 2018

 

Sebagaimana tercatat pada data yang dikutip dari IDX di atas, hari ini IHSG diberatkan oleh turunnya saham-saham big cap seperti BBCA yang turun 5,1%, BMRI -7,4%, BBRI -5,2%, dan saham-saham lainnya yang dapat Anda temukan di tabel berjudul Laggard di atas. Transaksi sell pada saham-saham pada tabel Laggard lebih besar daripada transaksi buy pada saham-saham tabel Leader, sehingga mengakibatkan penurunan tak tertahankan pada IHSG hari ini.

 

Aksi Jual Asing Pada 26 April 2018

 

Transaksi sell nyatanya lebih didominasi oleh investor asing sebesar 3,9 Trilyun, sedangkan di saat yang sama kita dapati adanya transaksi buy oleh investor lokal sebesar 6,576 Trilyun. Hal ini membuktikan optimisme yang kuat dari investor lokal, bahwasannya turunnya indeks dinilai sebagai kesempatan untuk "Buy on Weakness". 

 

Mengutip dari Alvin Kusuma, sebenarnya penurunan IHSG ini sudah terdeteksi sejak akhir 2017 dengan adanya sejumlah hal di bawah ini:

  1. Melemahnya mata uang IDR terhadap USD. Pelemahan rupiah sudah dimulai sejak keputusan bank Indonesia untuk mempertahan suku bunga yang rendah. Investor melihat kondisi global yang masih cenderung fluktuaktif dan defisit Current Account (CAD) dari Indonesia yang berpotensi melebar, tingkat suku bunga seharusnya dinaikkan. Hal ini bertambah parah dengan kenaikan US Treasury di atas 3% untuk pertama kalinya sejak 4 tahun lalu.
  2. Melemahnya daya beli masyarakat yang menyebabkan laporan keuangan emiten kurang menggembirakan. Diantaranya, Unilever melaporkan data penjualan turun 1 persen. Hal ini menyebabkan investor mulai khawatir akan kondisi makro ekonomi Indonesia. Laporan kinerja perbankan juga banyak yang di bawah perkiraan, karena ekspektasi yang terlalu tinggi akan sektor ini pada awal tahun. Khusus untuk hari ini, banyak saham perbankan yang turun, karena 10-Years US Treasury yang naik akan memberikan tekanan bagi BI untuk menaikan suku bunga.

 

Meski begitu, ada sejumlah katalis yang mungkin masih bisa menopang pergerakan IHSG:

  1. Valuasi dari pasar saham yang rata-rata sudah berada pada sekitar valuasi rata-rata 10 tahun terakhir
  2. Data pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Current Account Deficit (CAD) yang seharusnya tidak seburuk perkiraan investor.
  3. Laporan kinerja emiten retail trade yang menyenangkan. Dari kinerja 2 bulan pertama di tahun ini, ada sinyal kalau kinerja sektor ini seharusnya bisa lebih baik dari ekspektasi analis.
  4. Meredanya tensi global seperti perang dagang dan ketegangan geopolitik antara Amerika dan Russia
Arsip Analisa By : Shanti Putri

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'