Analisa Rupiah Mingguan: Perang Dagang Dan Suku Bunga BI

Rupiah minggu ini akan dipengaruhi isu perang dagang, suku bunga BI, neraca perdagangan Indonesia, dan Retail Sales AS. Secara teknikal, Rupiah masih cenderung melemah.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (10 Agustus 2018), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Minggu lalu, Rupiah menguat tipis dan ditutup pada level 14470 per USD, dibandingkan minggu sebelumnya yang 14488. Dalam hal ini, faktor internal lebih mendominasi. Dari data fundamental ekonomi, penguatan mata uang Garuda didukung oleh laju pertumbuhan ekonomi (GDP) Indonesia kuartal kedua yang naik 5.27% q/y, lebih tinggi dari konsensus 5.16%. Sentimen positif juga datang setelah diumumkannya pasangan calon presiden dan calon wakil presiden 2019, yakni pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin dan Prabowo - Sandiaga Uno. Pengumuman tersebut telah mengurangi ketidakpastian politik menjelang Pilpres.

Sayangnya, penguatan Rupiah tertahan di akhir pekan. Jumat lalu, Rupiah berbalik melemah setelah data transaksi berjalan (Current Account) Indonesia kuartal kedua mengalami defisit sebesar USD8 miliar, yang merupakan defisit tertinggi sejak kuartal ketiga tahun 2014. Dari luar negeri, faktor perang dagang yang dilancarkan AS telah memperlemah sebagian besar mata uang dunia termasuk Rupiah. Presiden AS Donald Trump memang mengumumkan penerapan kenaikan tarif terhadap impor baja dan alumunium dari Turki, yang menyebabkan pelemahan sangat tajam pada Lira Turki (TRY). Anjloknya TRY yang drastis tersebut ikut menyeret mata uang EUR dan GBP.

Diperkirakan, perkembangan isu perang dagang yang semakin panas masih akan mempengaruhi pergerakan mata uang dunia, termasuk Rupiah. Jika AS tidak meredam gejolak ini, diperkirakan sebagian besar mata uang dunia akan cenderung merosot.

Minggu ini akan ada rapat Bank Indonesia (BI) yang akan mengumumkan suku bunga acuan, dan rilis neraca perdagangan Indonesia bulan Juli. Meski BI berjanji akan menyesuaikan suku bunga untuk merespon langkah The Fed, tapi bulan ini, bank sentral Indonesia tersebut diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan sebesar +5.25%. Sementara itu, data penting dari AS adalah penjualan ritel bulan Juli.

Jika Rupiah berlanjut melemah, resistance kuat USD/IDR ada pada level 14560 hingga 14600. Sebaliknya jika menguat, support berada pada level 14400 hingga 14388.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental:

Senin, 13 Agustus 2018:

  • Jam 15:30 WIB: data pertumbuhan kredit bulan Juli 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +10.75% (tertinggi dalam setahun terakhir).

 

Analisa Rupiah 13-17 Agustus 2018:

Selasa, 14 Agustus 2018:

  • Jam 16:30 WIB: penanaman modal asing di Indonesia kuartal kedua tahun 2018 quarter over year (q/y): kuartal sebelumnya: +12.4% dan mencapai Rp108.90 triliun (terendah dalam setahun terakhir).


Analisa Rupiah 13-17 Agustus 2018:

 

Rabu, 15 Agustus 2018:

  • Jam 11:00 WIB: data neraca perdagangan Indonesia bulan Juli 2018 y/y: bulan sebelumnya: +USD1.74 miliar (tertinggi sejak September tahun lalu). Perkiraan: +USD1.30 miliar.


Analisa Rupiah 13-17 Agustus 2018:

 

Kamis, 16 Agustus 2018:

  • Jam 16:00 WIB: suku bunga Bank Indonesia bulan Agustus 2018: bulan sebelumnya: +5.25%. Perkiraan: +5.25%.


Analisa Rupiah 13-17 Agustus 2018:

 

Data berdampak dari AS minggu ini: Retail Sales, Building Permits dan Housing Starts, indeks kepercayaan konsumen UoM.

 

 

Tinjauan Teknikal


Analisa Rupiah 13-17 Agustus 2018:
klik gambar untuk memperbesar

Chart Daily: Dolar cenderung bullish (Rupiah cenderung melemah) menyusul terbentuknya pola candle Morning Star. Resistance kuat pada level 14560 (harga tertinggi 24 Juli 2018). Kecenderungan bullish didukung oleh:

  1. Harga yang berada di atas kurva middle band indikator Bollinger Bands.
  2. Kurva indikator RSI gagal menembus center line (level 50.0) dan masih berada di atasnya.
  3. Garis histogram indikator ADX berganti warna hijau yang menunjukkan sentimen bullish.

Konfirmasi buy jika titik indikator Parabolic SAR telah berada di bawah bar candlestick, dan kurva indikator MACD telah berada di atas kurva sinyal (warna merah), serta garis histogram OSMA  berada di atas level 0.00.

Level Pivot mingguan : 14449.33

Resistance : 14515.00 (level 38.2% Fibo Expansion) ; 14560 (50% Fibo Expansion) ; 14607.00 (61.8% Fibo Expansion) ; 14662.90 (76.4% Fibo expansion) ; 14755.00 (100% Fibo Expansion) ; 14784.00 ; 15000.00 ; 15142.00 (200% Fibo Expansion).

Support : 14440.00 ; 14388.00 ; 14298.00 ; 14210.00 ; 14171.00 ; 14106.00 ; 14038.00 ; 13983.00 ; 13923.00 ; 13845.00 ; 13795.00 ; 13736.00 ; 13693.00 ; 13624.00 ; 13538.00 ; 13485.00 ; 13400.00 ; 13362.00 ; 13314.00 ; 13263.00 ; 13212.64 ; 13171.00 ; 13082.00 ; 13048.00 ; 12990.00 ; 12899.00 ; 12800.00 ; 12754.00 ; 12623.00 ; 12560.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 55 ; Bollinger Bands (20,2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14) ; RSI (14).

Fibonacci Expansion :
Titik 1: 14171.00 (harga terendah 28 Juni 2018).
Titik 2: 14560.00 (harga tertinggi 24 Juli 2018).
Titik 3: 14368.00 (harga terendah 27 Juli 2018).

Arsip Analisa By : Martin

Bagaimana reaksi Anda tentang analisa ini?


Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.