Advertisement

iklan

Ulasan Saham 29 Januari: Menu Trading Saham Hari Ini

Setelah kemarin koreksi, apakah IHSG berhasil bangkit hari ini? Hal apa yang bisa dicermati oleh investor?

acy

iklan

Advertisement

iklan

IHSG View

Meski tertekan, indeks masih dapat bertahan di level 6,400. Tekanan pelemahan indeks diikuti oleh net sell yang cukup tinggi kemarin (28/Januari), dan investor yang wait and see menunggu rapat The Fed tengah pekan ini. Selain itu, tidak ada tekanan yang cukup krusial pada intensitas ekonomi Indonesia secara harian. Pada hari Senin kemarin, IHSG ditutup menguat +0.37% di level 6,458.

Beberapa sektor yang mendukung kenaikan IHSG bisa dilihat di bawah ini:

  1. Properti: -1.72%
  2. Infrastruktur: -1.41%
  3. Aneka Industri: -0.73%

 

Macro View

Rupiah terus mengalami pergerakan yang stabil dan menguat. Siang ini, berdasarkan Bloomberg, Rupiah berada di level Rp14,046 per Dolar AS. Penguatan ini didorong oleh empat hal, yakni meningkatnya kepercayaan investor asing, terjalinnya koordinasi antara BI pemerintah dan OJK, bekerjanya mekanisme pasar, dan ketahanan eksternal yang membaik. Kepercayaan investor asing terus menguat dibuktikan dengan terus masuknya aliran modal asing melalui penanaman modal asing (PMA), juga investasi portofolio baik di obligasi, saham, maupun aset keuangan lainnya.

 

Komentar: Jelang Fed Rate, Waspadai Koreksi Lanjutan

Terjadi profit-taking di sektor properti dan infrastruktur. Investo asing mulai mencetak net sell harian terbesar di awal tahun 2019 ini. Apakah ini menandakan sinyal indeks melemah? Saya melihatnya belum. Kondisi indeks masih cukup kuat, sehingga secara umum, penurunan tersebut adalah bagian dari koreksi terbatas yang belum terjadi sebelum-sebelumnya. Level indeks masih di level kuat 6,400.

Tekanan jual masih akan dirasakan, karena RSI dan valuasi IHSG cukup mahal saat ini secara peers. Sementara itu, investor wait and see menunggu rilis Fed Rate decision pekan ini. Peluang untuk bargain hunting masih terbuka, tapi tetap waspadai tekanan pelemahan yang mungkin akan timbul.

 

Teknikal

Seharusnya secara teknikal, indeks tidak dalam posisi yang cukup menguntungkan. Beberapa indikator seperti RSI, Stochastic, dan MACD memberikan sinyal tersebut. Sebaiknya, investor berjaga-jaga dan wait and see terhadap arah indeks ke depannya. Sinyal ini bisa jadi hanya pattern sementara, bukan continuation.

Ulasan Saham 29 Januari: Menu Trading

Jakarta Composite Index Snapshot

Range IHSG: 6,390-6,480

Prediksi: Bearish

 

Saham-Saham Pilihan

1. TLKM (Telekomunikasi Indonesia)

Last Price: 3,780

Mulai tertahan pada fase koreksinya saat ini, TLKM akan naik jika gagal break MA200. Volume jual mencapai peak-nya, dan RSI saat ini 51.2%.

Action: Buy on Weakness

  • TP: 3,880 dan 4,000
  • Support: 3,730
  • Cut Loss: 3,700
  • Area Buy: 3,730-3,750

 

2. BRPT (Barito Pacific)

Last Price: 2,570

MACD Golden Cross, RSI 67.1%. Harga berada di upper band Bolllinger Bands, sehingga menunjukkan kecenderungan strong bullish.

Action: Hold

  • TP: 2,630 dan 2,700
  • Support: 2,380
  • Cut Loss: 2,300
  • Area Buy: 2,380-2,410

 

3. BBNI (Bank Negara Indonesia)

Last Price: 9,100

Harga kini berada di atas garis MA20 dan MA5 dan dalam fase konsolidasi. RSI di level 57.4%, belum terlihat adanya reversal-continuation. Secara umum, harga saat ini tampak Sidewaysi.

Action: Buy on Weakness

  • TP: 9,250 dan 9,500
  • Support: 8,900
  • Cut Loss: 8,850
  • Area Buy: 8,900-8,950

 

4. PTRO (Petrosea)

Last Price: 2,030

Meski harga masih bertahan di fase bullish, waspadai RSI di level 70.6%. Dengan MA5 yang berada di atas MA20 dan MA50, PTRO diperkirakan bullish dalam jangka pendek.

Action: Hold

  • TP: 2,070 dan 2,150
  • Support: 1,920
  • Cutloss: 1,880
  • Area Buy: 1,920-1,950
Arsip Analisa By : Aditya Putra

Aditya Putra telah aktif di dunia saham selama lebih dari 6 tahun dan hingga saat ini masih menjadi seorang Equity Analyst di perusahaan sekuritas. Aditya menyukai Value Investing, selalu berhasrat menemukan 'Hidden Gems' di saham-saham Small Caps Indonesia, dan terus mengamati saham-saham yang 'salah harga'.