Advertisement

iklan

Memburuknya Kondisi Manufaktur Sinyalkan Perlambatan Global

Awal pekan ini, pasar diliputi kecemasan pasca rilis data PMI Manufaktur Zona Euro yang amat buruk. Bagaimana proyeksinya untuk pasar forex, minyak, dan emas?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Melihat kondisi manufaktur global yang memburuk di tengah kebijakan The Fed saat ini, rilis data PMI pun menjadi sorotan pada sesi perdagangan kemarin (23/September). Sekalipun kebijakan bank sentral dunia tengah diupayakan untuk mengantisipasi imbas konflik dagang, hal tersebut nyatanya tidak berefek pada sentimen bisnis.

PMI Manufaktur Australia berada di angka 49.4, turun pertama kalinya di bawah level 50 dalam siklus terkini. Sementara itu, rangkaian data PMI Zona Euro justru lebih mengecewakan, dipimpin oleh laporan dari Jerman yang mengalami kontraksi terburuk dalam satu dekade dan mulai menjalar ke sektor jasa. Hal ini kian menegaskan efek negatif perang dagang dan Brexit yang ditimbulkan pada sentimen bisnis.

Jika berpacu pada data survei IFO dan ZEW terbaru, sebaiknya jangan terlalu yakin dengan potensi pemulihan signifikan pada perekonomian Jerman dalam waktu dekat. Apalagi, bunga pinjaman yang sudah di bawah nol menandakan bahwa ekonomi negara ini tinggal selangkah lagi menuju skenario terburuk, yaitu resesi.

Meskipun demikian, sentimen investor Dolar masih terjaga oleh kebijakan The Fed yang suportif dan selalu siap disesuaikan dengan keadaan terbaru (jika diperlukan). Menariknya, Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis James Bullard sependapat dengan sebagian besar pelaku pasar saat ini. Ia mengungkapkan bahwa "gerbang" pelonggaran kebijakan moneter AS akan dibuka bulan depan.

Sementara itu, pasar saham AS mengakhiri sesi perdagangan kemarin dengan pelemahan tipis, seiring dengan minimnya volume trading akibat rilis data ekonomi AS yang sebagian besar sesuai ekspektasi.

Indeks Saham S&P500

 

Outlook Pasar Minyak

Harga minyak berhasil menutup sesi perdagangan hari sebelumnya dengan penguatan 1%, meski sempat melemah pasca rilis data PMI Zona Euro yang mengecewakan.

Buruknya laporan Indeks Manufaktur memberikan indikasi bahwa kekhawatiran investor terhadap risiko turunnya permintaan bisa mendominasi katalis di pasar minyak, terutama jika data-data ekonomi berdampak tinggi semakin menunjukkan gejala perlambatan.

Harga minyak mentah sempat merosot hingga 2.5%, setelah muncul laporan dari Reuters bahwa Saudi Aramco yang sebelumnya diserang akan kembali beroperasi awal pekan depan. Pemberitaan ini berkebalikan dengan beberapa laporan dari media lain yang mengungkapkan bahwa Aramco memerlukan waktu hingga beberapa bulan untuk kembali memulai kegiatan produksinya.

Terlepas dari simpang siur tersebut, pasar minyak akan selalu menyoroti berita mengenai pasokan minyak Saudi dan risiko geopolitik di Timur Tengah. Menurut analis AxiTrader, hal ini menyuguhkan dukungan bagi harga minyak di tengah data Zona Euro yang kelam.

Harga Minyak

 

Analisa Harga Emas

Harga emas reli seiring dengan naiknya kekhawatiran pasar terhadap perlambatan global. Sekalipun demikian, Dolar AS ternyata juga bergerak menguat di tengah memanasnya tensi geopolitik dan risiko perang dagang yang masih membayangi.

Sejauh ini, para pelaku pasar tampaknya terus mendorong harga emas ke area 1525, yang menandakan bahwa progres penyelesaian masalah dagang masih diyakini bakal menjadi rintangan kuat dalam negosiasi AS-China pada Oktober mendatang. Kecuali muncul pemberitaan yang menandakan sinyal sebaliknya, investor masih enggan menumbuhkan optimisme terhadap sinyal damai AS-China.

Sebagaimana yang telah disiratkan dalam pembahasan di atas, gejala pelemahan di sektor manufaktur telah menjalar ke sektor jasa Zona Euro, terlihat dari aktivitas perusahaan jasa yang menyusut untuk pertama kalinya dalam 6.5 tahun terakhir di bulan September 2017, sementara pertumbuhan bisnis Zona Euro cenderung jalan di tempat.

Apabila kondisi-kondisi makro ekonomi terus memburuk, analis AxiTrader memandang hanya ada satu arah proyeksi bagi emas, yakni ke arah puncak. Hal ini semakin ditandai dengan sikap pelaku pasar yang kemungkinan bakal kembali bertaruh pada pelonggaran kebijakan The Fed lebih lanjut, sehingga Yield Obligasi melemah dan emas semakin terjangkau untuk dimiliki.

Dengan sinyal negosiasi AS-China yang belum terlalu jelas, investor akan terus mempertahankan sikap defensif hingga muncul resolusi yang lebih konstan. Bagaimanapun juga, pasar sudah banyak belajar dari kekecewaan pasca hasil pertemuan G20 Osaka yang awalnya tampak menjanjikan.

XAUUSD

 

Bagaimana Dengan Yuan Dan Rupiah?

Terlepas dari keraguan di atas, Price Action USD/CNY menunjukkan bahwa pasar semakin yakin jika China dan AS sama-sama berkeinginan membuat konsesi di bulan Oktober. Oleh karenanya, para investor besar terus menjaga resistance kunci USD/CNY di atas 7.12. Meskipun demikian, aksi pasar menunjukkan bahwa mereka masih menunggu peluang buy on dips. Menurut AxiTrader, hal ini kemungkinan terkait dengan keengganan pasar untuk Short Dolar AS versus Yuan menjelang libur nasional China pada 1-7 Oktober mendatang.

Sementara itu, Rupiah diperdagangkan relatif flat karena investor masih wait and see, menunggu sinyal perkembangan lebih lanjut dari negosiasi dagang AS-China.

 


AxiTrader adalah bagian dari perusahaan finansial berskala global yang mapan dan terpercaya. Dengan prinsip "diciptakan oleh trader, untuk trader", broker ini berkomitmen untuk memberikan layanan trading yang meluas dan terjangkau bagi semua kalangan.

Arsip Analisa By : Axitrader
290229

AxiTrader merupakan broker yang beroperasi di bawah perusahaan AxiCorp Financial Services Pty Ltd (AxiCorp). Broker ini berupaya menyajikan layanan trading kredibel dengan fitur VPS gratis bagi klien yang memenuhi standar minimal lot tertentu.