OctaFx

iklan

Menyeduh Profit Jamu SidoMuncul

200156

SidoMuncul (kode saham SIDO) adalah satu-satunya produsen jamu yang terdaftar di bursa. Emiten pharmaceutical ini mempunyai sejumlah poin menarik. Beban hutang perseroan minimal, dan baru-baru ini berhasil membagikan 99.5% laba bersih untuk pembayaran dividen kepada pemegang saham.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Jamu. Mungkin saja masih banyak orang menganggap jamu itu kampungan, atau jamu hanya untuk orang desa saja, dan bahkan jamu identik dengan obat untuk orang miskin. Jika masih ada anggapan seperti itu, berarti dia belum tahu bahwa khasiat jamu amatlah luar biasa dasyatnya.

Memang, di era modern sekarang, teknologi semakin berkembang pesat, termasuk teknologi dalam lingkup kedokteran. Bukan hanya alat-alat kedokteran kian canggih, tetapi pabrik pembuat obat resep juga tak kalah majunya. Tidak jarang, banyak penyakit-penyakit kelas kronis dan berat kini bisa disembuhkan karena sudah ditemukan obat resepnya.

Dan memang, industri farmasi sudah sangat maju, obat-obatan keras bertambah banyak beredar. Namun, zaman sekarang juga penyakit-penyakit berat dan kronis semakin beragam dan siapa saja bisa kena penyakit kronis tersebut. Di sisi lain, entah kenapa para orang tua kita dahulu, kakek, buyut hingga silsilah keatasnya lagi sepertinya jarang ada yang menderita penyakit berat seperti sekarang. Entahlah, runtut kejadian sebenarnya kita tidak tahu. Apakah yang semakin canggih itu teknologi kedokterannya atau malah penyakitnya?

jamu tradisional
Zaman kakek buyut kita belum menggunakan obat resep dari apotik. Karena, ya, memang belum ada obatnya dan Apotik pun belum ada. Mereka lebih cenderung menggunakan obat-obatan dari alam, ramuan-ramuan herbal, atau yang kita kenal dengan istilah jamu. Dahulu, kakek buyut kita menggunakan jamu untuk pengobatan jika mereka sakit. Lalu, bagaimana dengan sekarang?

Kita lebih suka menjadi konsumen obat-obatan "cap Apotik". Karena obat mudah didapat dan cepat menyembuhkan. Akan tetapi, obat-obatan "cap Apotik" tersebut terbuat dari bahan-bahan kimia. Tentu obat-obatan tersebut mengandung efek samping yang jika dikonsumsi secara terus menerus dalam jangka waktu lama, malah tidak bagus untuk tubuh kita. Ya, disadari atau tidak, itulah obat "cap Apotik", obat kimia yang dalam jangka pendek bisa secara cepat menyebuhkan tetapi jangka panjangnya justru membahayakan.

Wajar saja jika kebanyakan dari kita pasti ogah jika harus minum jamu, karena rasa pahitnya naudzubillah. Selain itu, proses penyembuhan dengan bantuan jamu membutuhkan waktu lumayan lama. Namun, dibalik itu semua, jamu tidak ada efek sampingnya. Jika dikonsumsi untuk jangka panjang pun, jamu akan membuat tubuh semakin sehat wal afiat. Itulah keistimewaan jamu, ramuan khas Indonesia yang belum banyak diketahui oleh manusia zaman sekarang.

Di bidang jamu-jamuan ini, kini ada banyak perusahaan memproduksi jamu secara modern, namun hanya ada satu perusahaan produsen jamu yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Ya, dialah SidoMuncul atau PT Industri Jamu dan Farmasi SidoMuncul, Tbk (Kode saham SIDO). Emiten ini masih bisa disebut sebagai emiten pendatang baru, karena dia baru listing di bulan November 2013 kemarin. SidoMuncul masuk dalam kategori emiten pharmaceutical.

SidoMuncul logo
Sebenarnya penulis agak kurang setuju, jika SidoMuncul masuk sebagai emiten pharmaceutical bersama Kalbe, Kimia Farma, Indo Farma. Penulis menilai SidoMuncul memiliki value agak berbeda dengan emiten-emiten tersebut. SidoMuncul bukanlah penghasil obat resep seperti Kalbe, Kimia Farma, ataupun Indofarma. Dari situlah, penulis pikir SidoMuncul bisa lebih maju dan berkembang karena positioning yang khas sebagai perusahaan jamu.

Secara kinerja, tahun 2013 bisa dikatakan SidoMuncul mengalami penurunan penjualan. Tahun 2013, penjualan SidoMuncul turun 1% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, karena suksesnya efisiensi yang dilakukan perseroan, laba bersih berhasil tumbuh hingga 14%. Karena kesuksesan efisiensi tersebut jugalah, Net Profit Margin SidoMuncul naik menjadi 17% dari 16% ditahun 2012.

Tolak Angin Masih Menjadi Komoditas Utama

Penjualan tahun 2013 SidoMuncul mengalami penurunan sebesar 1%. Jika dilihat dari operasi bisnisnya, penurunan penjualan ini karena melemahnya bisnis minuman energi, minuman, dan permen perseroan. Bisnis minuman energi memiliki kontribusi sebesar 42.5% dari pendapatan perseroan di tahun 2013. Sementara itu, kontribusi terbesar perseroan disumbangkan oleh Jamu Herbal, yaitu sebesar 43.4%. Persentase kontribusi ini naik angkanya jika dibandingkan dengan tahun 2012 yang hanya 32.8%. Dari sinilah nampak bahwa jamu herbal menjadi andalan utama pendapatan perseroan. Dan jika kita cermati lebih lanjut, Tolak Angin masih menjadi produk unggulan SidoMuncul.

Jamu Sidomuncul
Tolak Angin sudah dipasarkan hingga ke Eropa, Amerika dan Australia. Sebagai produk yang memiliki basis konsumen di empat benua, maka wajar saja bila Tolak Angin masih menjadi penyangga pendapatan perseroan di tahun 2013. Namun, untuk mempertahankan agar bisnis tetap tumbuh ditahun – tahun berikutnya, tentu saja perseroan tidak bisa mengandalkan Tolak Angin saja. Dibutuhkan beberapa produk sesukses Tolak Angin. Produk-produk itu bisa membantu sebagai tiang penyangga pendapatan agar tetap meningkat, tidak stagnan apalagi roboh.

Beban Keuangan Minimalis

Mengacu pada laporan keuangan semesteran yang diterbitkan tahun 2014, persentase hutang perseroan sebesar 7% dari seluruh aset perseroan Sidomuncul, atau setara dengan 0,1 kali dari ekuitas. Jika ini dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan terbuka lainnya yang memiliki hutang yang rasionya sampai 2 kali lipat dari ekuitas, maka Sidomuncul adalah perusahaan yang besaran hutangnya terhitung sedikit.

Karena hutang perseroan sangat minimalis, maka beban kewajiban perseroan dalam pembayaran  bunga hutang menjadi lebih sedikit. Beban bunga atau beban keuangan perseroan pun menjadi ikut minimalis banyaknya. Dan, karena beban keuangan perseroan sangat minimalis inilah, keuntungannya laba usaha perseroan dapat dikonversikan menjadi laba bersih dengan maksimal. Hasilnya, baru-baru ini SidoMuncul bisa membagikan 99.5% dari laba bersih tahun 2013 untuk pembayaran dividen kepada pemegang saham.

Catatan Menarik Saham SIDO

Penulis sebenarnya tidak begitu tertarik mengoleksi saham SIDO dalam portofolio. Namun, jika kita lihat fundamentalnya, PBV saham SIDO masih berkisar 4.5 kali. Dengan perhitungan ini, jika dibandingkan dengan emiten pharmaceutical lainnya, maka SIDO dirasa masih layak sebagai investasi. Pendapatan perseroan tahun 2013 turun 1%, namun untuk ROA dan ROE Sidomuncul masih berkisar 14% dan 15%. Bahkan jika dilihat ROA dan ROE pada laporan keuangan semester pertama 2014 yang baru saja terbit, nilai ROA dan ROE perseroan naik menjadi 18% dan 19%.

Meskipun penulis telah mengatakan kurang tertarik memasukkan saham SIDO dalam portofolio penulis, namun penulis memiliki beberapa catatan menarik tentang SIDO, antara lain :

Pertama, langkah perseroan yang terus berupaya mengefisienkan operasional terbukti sukses. Laba bersih Sidomuncul mengalami kenaikan cukup signifikan disaat pendapatan mengalami penurunan.

Kedua, penurunan pendapatan direspon dengan cepat oleh manajemen, yaitu dengan mengakuisisi perusahaan farmasi PT Berlico Mulia Farma. Dengan aksi akusisi perusahaan farmasi yang berlokasi di Yogyakarta ini, diharapkan dapat menambah pundi-pundi yang masuk ke perseroan. Dengan aksi ini jelas menegaskan bahwa SidoMuncul ingin pendapatan tidak hanya ditopang oleh Tolak Angin saja. Sehingga, ketika penjualan Tolak Angin mulai jenuh dan stagnan, pendapatan SidoMuncul masih tetap tumbuh.

Ketiga, SidoMuncul mulai melakukan ekspansi ke luar pulau Jawa, yakni dengan membangun pabrik pengolahan bahan baku di Sulawesi Selatan. Nilai investasinya hingga mencapai Rp 25 milyar, dimana pendanaannya bersumber dari belanja modal perseroan. Ekspansi ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan pendapatan perseroan kelak.

Keempat, SidoMuncul baru saja mendistribusikan 99,5% dari laba bersih tahun 2013 untuk pembayaran dividen kepada pemegang saham, dengan total Rp 405 miliar. Meski persentase dividen sangat besar, ini nampaknya tidak menghambat aksi ekspansi perseroan. Hal ini membuktikan bahwa tingkat likuiditas perseroan yang cukup tinggi.

Kelima, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan mulai diberlakukan awal tahun 2015 nanti. Dalam mengantisipasi MEA, SidoMuncul sudah menyiapkan strategi dengan memperluas jaringan pasar ekspor ke beberapa negara seperti Thailand, Vietnam dan Kamboja. Lini bisnis yang unik, yaitu dibidang industri jamu dan farmasi ini tentunya merupakan peluang yang bisa digarap SidoMuncul di beberapa negara tersebut.

Terakhir, penjualan jamu makin meningkat membuktikan bahwa tren konsumsi jamu secara nasional terus mengalami peningkatan. Untuk menjaga kesehatannya, orang-orang semakin gemar mengkonsumsi jamu yang berbahan herbal, diyakini lebih aman, dan lebih kembali ke alam dibandingkan dengan suplemen lain yang berbahan kimia. Dalam hal ini perlu dicatat, konsumsi jamu juga merupakan bagian dari gaya hidup "back to nature" yang kian banyak diikuti oleh berbagai kalangan.

Selamat berinvestasi.

Arsip Analisa By : Royan Aziz

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.