OctaFx

iklan

Meski Sedang Merosot, BDMN Masih Menjanjikan

288973

Harga saham PT Bank Danamon Tbk. (BDMN) merosot hingga lebih dari separuh di Kuartal I/2019. Jatuhnya BDMN ini disinyalir karena adanya beberapa faktor.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Harga saham PT Bank Danamon Tbk. (kode emiten: BDMN) telah merosot hingga lebih dari separuh di Kuartal I tahun 2019. BDMN yang pernah mencapai Rp10,000/lembar saham, kini hanya dihargai Rp4,680/lembar. Apa sajakah faktor penyebab jatuhnya harga saham BDMN ini?

 

Penyebab Jatuhnya Harga Saham BDMN

Berbagai teori pun dikemukakan untuk menjelaskan penurunan harga saham BDMN. Setelah diamati, diketahui faktor penyebab utamanya adalah karena Temasek Holding (Private) Ltd. melepas seluruh kepemilikan atas BDMN sebesar 33.83% melalui anak perusahaannya, yaitu Asia Financial Pte Ltd., kepada The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd (MUFG). Selain faktor utama ini, beberapa alasan lain juga dianggap turut menyeret turun harga BDMN, mulai dari jatuhnya laba bersih Q1, dikeluarkannya Danamon dari MSCI Global, hingga The Fed yang dikabarkan sulit menurunkan suku bunga tahun ini.

Saham Bank Danamon Turun

Diketahui, Temasek menjual BDMN seharga Rp9,590 per saham, dengan harga beli sekitar Rp8,921 per lembar. Dari penjualan ini, total keuntungan yang diperoleh Temasek sebesar Rp31.09 Triliun. Seketika itu pula, BDMN terjun ke harga Rp6,000, hingga akhirnya tersungkur ke level Rp4,680/lembar saja. Hampir seluruh saham BDMN yang terjual diserap oleh The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd. (MUFG). Hingga kini, MUFG memiliki kuasa atas 94.10% saham BDMN, sementara jumlah saham BDMN yang beredar di publik hanya 5.90%.

 

Apakah BDMN Masih Layak Untuk Dikoleksi?

Berdasarkan pada beberapa faktor penyebab di atas, banyak investor mungkin merasa khawatir dan bertanya-tanya perihal masih layakkah emiten ini masuk dalam stock collection list. Untuk memastikannya, berikut poin-poin analisa yang bisa dijadikan pertimbangan:

  1. Dari sisi kinerja, laba bersih setelah pajak di Kuartal I/2019 turun ke angka Rp933 Miliar. Besarnya laba yang diperoleh ini menurun 11% dari laba bersih sebelumnya yang sebesar Rp1.04 Triliun. Operating Margin juga menyusut tipis menjadi Rp4.33 Triliun saja di Kuartal I/2019, mengakibatkan laba operasional turun dari dari Rp1.47 Triliun  menjadi Rp1.37 Triliun.

    Meskipun demikian, Perseroan mengatakan tidak masalah, karena mereka sengaja memperketat kualifikasi pemberian kredit. Selain meningkatkan kualitas, adanya seleksi pemberian kredit ini juga bertujuan untuk menghindari terjadinya kredit macet. Adapun secara terperinci, portofolio KPR Danamon di Kuartal I ini tumbuh sebesar 27% menjadi Rp8.3 Triliun. Ditambah lagi, segmen enterprise banking yang terdiri dari perbankan korporasi, komersial, dan institusi keuangan juga naik 7% menjadi Rp39.5 Triliun. Segmen UKM pun mengalamai kenaikan sebesar 6% menjadi Rp311 Triliun.
  2. Kepemilikan MUFG atas saham BDMN yang mencapai 94.10% memberikan ketakutan tersendiri bagi para investor lokal. Apabila suatu saat kinerja BDMN menurun, maka MUFG bisa saja akan menjual kepemilikan sahamnya.

perusahaan MUFG

Dalam hal ini, penulis berpendapat bahwa kinerja Danamon baik-baik saja, bahkan dinilai sangat baik untuk saat ini (berdasarkan Laporan Keuangan terakhir Kuartal I/2019). Hal ini ditunjukkan oleh Rasio Kecukupan Modal sekitar 22.2%, sedangkan bank BUKU III mempersyaratkan Rasio Kecukupan Modal (KPMM) Min. 9% s/d <10%. Dari sisi permodalan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa BDMN baik-baik saja!

 

Struktur Permodalan Bank Danamon

Sebagaimana dikutip dari Laporan Keuangan Q1/2019, struktur permodalan Danamon adalah sebagai berikut:

  1. Modal Inti (Tier-1), sebesar Rp28.496 Triliun di tahun 2018.
  2. Modal Pelengkap (Tier-2), sebesar Rp1.223 Triliun di tahun 2018.
  3. Aset Tertimbang Rata Menurut Risiko Kredit, Operasional, Pasar adalah Rp130.387 Triliun di tahun 2018.
  4. Rasio Kecukupan Modal (KPMM) adalah sebesar 22.8%.

Untuk bisa masuk ke dalam kategori BUKU IV, maka sebuah bank harus memiliki modal inti minimal 30 Triliun. Dari semua kandidat, yang terdekat adalah Danamon. Bank BUKU III dengan modal inti (Tier-1) hampir mendekati 30 Triliun, atau bisa dikatakan siap naik kelas, adalah sebagai berikut:

  1. BDMN dengan modal inti sebesar Rp28.55 Triliun.
  2. BTPN dengan modal inti sebesar Rp25 Triliun.
  3. NISP dengan modal inti sebesar Rp23.59 Triliun.
  4. BBTN dengan modal inti sebesar Rp20-21 Triliun.

Berdasarkan modal inti ditambah dengan kenaikan modal sebesar Rp1.45 Triliun saja, BDMN sudah pasti dinyatakan sebagai kategori Bank BUKU IV. Masuknya sebuah bank ke dalam jajaran BUKU IV tentu mengundang minat para investor, karena bank BUKU IV lebih "tahan badai" andaikata sedang terjadi krisis ekonomi. Hal ini karena bank BUKU IV dianggap lebih kuat secara permodalan dan lebih sehat.

Modal Inti Bank

Adapun komponen Modal Inti Bank adalah sebagai berikut:

1. Modal Disetor

2. Cadangan Tambahan Modal (Disclosed Reserves), yang terdiri atas:

  • Agio Saham, Disagio (-/-)
  • Modal Sumbangan
  • Cadangan Umum dan Tujuan
  • Laba tahun-tahun lalu setelah diperhitungkan pajak dan Rugi tahun-tahun lalu
  • Laba tahun berjalan setelah diperhitungkan pajak (50%) dan Rugi tahun berjalan
  • Selisih penjabaran laporan keuangan Kantor Cabang Luar Negeri, terdiri dari Selisih Lebih dan Selisih Kurang
  • Dana Setoran Modal
  • Penurunan nilai Penyertaan pada portofolio tersedia untuk dijual

3. Goodwill (-/-)

 

Jadi, Bagaimana Nasib BDMN?

Berdasarkan penambahan modal dari sisi laba tahun berjalan, laba BDMN sepanjang tahun 2018 adalah sebesar Rp3.92 Triliun. Di tahun-tahun sebelumnya, besarnya laba BDMN bervariasi mulai dari Rp2.39 Triliun pada 2016, hingga Rp3.68 Triliun pada 2017 silam.

Apabila tren kenaikan laba ini berlanjut, maka dapat kita proyeksikan bahwa kenaikan laba tahunan rata-rata (CAGR) BDMN adalah 13.15%. Jika dikalkulasikan, maka diperkirakan laba BDMN di akhir tahun 2019 adalah Rp4.43 Triliun. Angka ini diperoleh dari perhitungan sebagai berikut:

Laba 2018 + (Laba 2018 x persentase kenaikan laba per tahun)

= 3.92 + (3.92 x 13/15%) = 4.43

Apabila diperhatikan pada bagian Cadangan Tambahan Modal di atas, tepatnya pada poin Laba tahun berjalan setelah diperhitungkan pajak (50%) dan Rugi tahun berjalan, besarnya laba yang dimasukkan ke dalam modal inti adalah 50%. Dengan demikian, 50% dari Rp4.43 Triliun adalah Rp2.217 Triliun. Dari modal inti sebesar Rp28.55 Triliun, kemudian ditambah dengan Cadangan Tambahan Modal sebesar Rp2.217 Triliun, maka total modal BDMN adalah sebesar Rp30.767 Triliun. Dengan angka ini, diperkirakan Danamon sudah cukup untuk masuk kategori BUKU IV.

Meskipun aksi jual BDMN oleh Temasek melalui Asia Financial yang diikuti oleh investor lain berdampak pada jatuhnya harga saham BDMN, tetapi kinerja BDMN masih baik dari sisi permodalan dan proyeksi laba bersih. Oleh karenanya, penulis berkesimpulan bahwa BDMN hanya tinggal selangkah lagi saja untuk naik kasta ke kategori BUKU IV.

 

Disclaimer: Analisis ini mungkin bersifat bias karena penulis memiliki saham yang sedang dibicarakan. Penulis menerima masukan, tanggapan, komentar, dan sanggahan di kolom komentar. Terima kasih.

Arsip Analisa By : Shanti Putri

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'