OctaFx

iklan

MNCN: Siap Transformasi Media Konvensional Ke Digital

289336

Sebagai salah satu bisnis media terbesar di Indonesia, MNCN ingin terus bertahan di tengah disrupsi media konvensional. Untuk itu, MNCN pun bertransformasi menjadi media digital.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Disadari atau tidak, tahun 2019 dianggap sebagai puncak pergeseran preferensi gaya hidup. Anda tak perlu lagi bingung bagaimana cara membeli makanan atau minuman saat mager (males gerak), gunakan saja Go Food. Tak hanya itu, menurunnya animo masyarakat terhadap penggunaan taksi dan lebih memilih order Grab Car, menjadi contoh lain perubahan preferensi gaya hidup.

Ada pula aplikasi penyedia jasa pembayaran online hingga dompet digital, sehingga melemahkan industri perbankan. Ditambah pula adanya Libra, mata uang digital dari Facebook dengan beragam kemudahan yang ditawarkan, sehingga turut menjadi alasan sepinya transaksi antar bank.

Semua perubahan di atas tak lain adalah karena adanya transisi dari konvensional menuju digital. Hal ini akan sangat memudahkan para pengguna, mengingat mereka dapat menemukan layanan maupun konten yang diinginkan. Permasalahan ini pulalah yang menjadi PR para investor; saat beberapa bisnis mengalami disrupsi karena adanya pergeseran gaya hidup, mereka juga mencari bisnis apa yang tidak mudah terdisrupsi dan selalu mengikuti perkembangan zaman di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Sementara itu, media adalah salah satu bisnis yang mengalami disrupsi dari adanya pergeseran preferensi pengguna. Salah satu perseroan media yang telah melantai di bursa dan terpengaruh oleh fenomena ini adalah MNCN.

 

MNCN, Leader Media Digital Indonesia

PT Media Nusantara Citra Tbk (kode emiten: MNCN) alias MNC Media merupakan sebuah perusahaan media terintegrasi dan terbesar di Indonesia. Tergabung dalam indeks Kompas 100, MNCN menguasai pangsa pasar stasiun televisi Free to Air sebesar 35%, 40% industri konten media, dan menghasilkan traffic view terbanyak di YouTube Indonesia. Tabel berikut ini menunjukkan RCTI, yang sepenuhnya dimiliki oleh MNC dan MNCTV, bertengger di urutan pertama Top 5 YouTube Channel dengan jumlah view terbanyak di Indonesia:

MNCN-Indonesia

Selain YouTube channel, layanan streaming merupakan salah satu layanan Over The Top (OTT) yang dikembangkan oleh MNCN. Berdasarkan data trend Internet dan Sosial Media 2019 dari Hoootsuite, hampir 50% penduduk Indonesia atau sekitar 150 juta orang sudah menggunakan internet, dengan durasi rata-rata 2 jam 52 menit untuk menonton TV, baik itu dari layanan streaming, broadcast, maupun video. Berdasarkan data inilah MNCN lantas meluncurkan empat aplikasi streaming (OTT), antara lain Ilflix, Viu, Cathplay, dan HOOQ.

Diketahui bahwa layanan Over The Top (OTT) mampu menyisipkan iklan yang lebih cepat diakses daripada televisi konvensional. Transisinya menuju digital terbukti telah berbuah manis. Berdasarkan laporan keuangan Kuartal I 2019, kontribusi iklan digital terhadap total pendapatan naik hingga 330%. Secara keseluruhan, pendapatan dari iklan tumbuh 15% Year on Year (YoY) menjadi Rp1.76 triliun di Kuartal I 2019.

 

Optimisme Para Investor Terhadap MNCN

Saham MNCN sempat dikabarkan lesu dan turun ke level Rp750 saja per lembar. Padahal di tahun 2014, saham MNCN berhasil diperdagangkan dengan nilai tertinggi Rp3,230 per lembar.

Harry Tanoesoedibjo selaku pemilik kerajaan bisnis media MNC, turut dan giat meyakinkan para investor tentang transformasi bisnis MNCN dari konvensional menjadi digital. Ia pernah melakukan roadshow di sejumlah kota-kota besar AS (Washington DC, Boston, Los Angeles), serta di Tokyo, Jepang, guna melancarkan promosinya ini.

Harry Tanoesodibjo, pemilik saham MNCN
Diketahui, Harry Tanoesoedibjo telah memimpin PT Media Nusantara Citra Tbk selama 22 tahun. Ia bahkan berani bertaruh akan mengundurkan diri jika saham MNCN hanya mencapai level harga Rp3,000 per lembar. Pernyataan ini ia sampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan MNCN di Gedung Tower iNews, Jakarta Pusat, sebulan lalu. Harry merasa sangat yakin bahwa sahamnya akan dihargai jauh lebih dari itu dalam 5 tahun ke depan.

"Kalau Rp3,000 (per lembar saham) 5 tahun lagi saya mundur. Harusnya 10 kali lipat minimal. Itu tugas saya. Banyak yang salah persepsi bahwa bisnis MNCN masih konvensional. Makanya saya mempromosikan ke investor dan responsnya sangat baik", ujar Harry.

Pernyataan ini pun disambut baik oleh kalangan investor. Sejak RUPS Juni lalu, harga saham MNCN sudah naik hampir 50% dari Rp1000 saja ke Rp1400 lebih. Target dari sang owner adalah lini bisnis digital terhadap total pendapatan MNCN bisa mencapai 40 persen dalam 5 tahun ke depan, mengingat kontribusi media konvensional terhadap pendapatan sebelumnya adalah 100 persen.

 

Potensi Kenaikan Dari Private Placement

Secara jangka pendek, yaitu kurang dari setahun saja, MNCN cenderung akan terkerek harganya akibat aksi korporasi penambahan modal Non HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu), atau yang disebut Private Placement (PP). Dalam RUPS 24 Juni lalu, MNCN telah mendapat restu dari pemegang saham independen untuk melakukan penambahan modal tanpa HMETD alias PP.

Melalui PP, Perseroan akan menambah 8% saham yang sudah ditempatkan sekarang sebanyak 2.1 miliar saham, dengan harga exercise di kisaran Rp1,600-2,000 per saham. Dari aksi korporasi ini, setidaknya MNCN menargetkan bisa mendapat dana hingga Rp 2.1 triliun dan dana akan digunakan untuk menurunkan rasio utang terhadap ekuitas. Harry juga mengatakan bahwa MNCN sudah tidak memerlukan belanja modal.

MNCN Indonesia

PP yang dilaksanakan diketahui tidak memiliki pembeli siaga (standby buyer), atau dengan kata lain saham baru yang diterbitkan akan langsung ditawarkan ke investor publik di harga Rp1,600-2,000 per lembar. Apabila minat masyarakat terhadap PP ini rendah, maka PP akan dilaksanakan di harga Rp1,600 dengan jumlah saham yang lebih sedikit dari rencana. Sementara jika minat masyarakat terhadap PP ini tinggi, maka akan dilaksanakan di harga Rp2,000.

Menurut penulis, tidak adanya standby buyer adalah hal yang patut dicermati dari PP MNCN. Pihak perseroan nantinya akan berusaha bagaimana agar saham ini terlihat menarik dan mampu melantai ke harga lebih dari Rp1,600. Jika tidak ada standby buyer, maka otomatis calon pembeli adalah masyarakat. Apabila harga di bawah Rp1,600, maka pengadaan PP dianggap tidak perlu. Namun bila harga di atas Rp1,600, maka PP dianggap akan lebih laku karena lebih rendah dari harga di market.

Sentimen aksi korporasi PP tanpa standby buyer ini juga menarik karena perusahaan sungguh berani melakukannya. Kenyataan bahwa MNCN memiliki "kekuatan" sebagai penguasa pangsa pasar media terbesar di Indonesia, menjadikan saham ini mungkin sekali untuk dikerek naik secara jangka pendek ke level lebih dari Rp1,600 per lembarnya.

 

Meski sempat menurun ke level harga saham terendah, tetapi Harry Tanoesodibjo masih yakin jika sahamnya ini bisa beranjak naik kembali. Kondisi ini juga menimpa saham Bank Danamon (kode emiten: BDMN) yang merosot hingga setengah harga. Kendati demikian, BDMN dianggap masih menjanjikan. Simak ulasan selengkapnya di analisa saham BDMN.

Arsip Analisa By : Shanti Putri

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'